Sunday, January 5, 2014

EFEK PSIKOLOGIS DARI MENCUCI TANGAN

Mencuci tangan, pada kebudayaan bangsa Indonesia mencuci tangan merupakan sebuah kewajiban bagi seseorang yang akan makan hidangan, dikarenakan banyak masyakrat Indonesia yang menggunakan tangan untuk makan, maka  mencuci tangan menjadi sebuah standar untuk memperoleh kesehatan, dengannya bakteri, kotoran, bibit penyakit yang menempel pada tangan yang telah digunakan untuk beraktifitas sehari-hari tidak masuk kedalam tubuh bersama dengan makanan yang kita makan.

Sejujurnya artikel ini tertulis dikarenakan konsentrasi penulis yang sedang berpikir tentang gangguan mental obsesif-kompulsif, yang mana menurut PPDGJ (pedoman penggolongan diagnosis gangguan jiwa) III disebutkan beberapa gejalanya dan dibagi secara terpisah antara obsesif yang mana berupa pikiran dan kompulsif yang merupakan tindakan atas hasil pemikiran. Obsesif bersifat kecemasan berlebih yang disadari oleh sang penderita juga sebagai sesuatu yang tidak masuk akal namun untuk menindaklanjuti dan meredam kecemasan tersebut penderita melakukan kompulsi dalam bentuk tindakan, contoh ketakutan akan kotoran yang menempel ditangan, kuman penyakit, sehingga penderita merasa perlu mencuci tangannya berkali-kali dengan alasan kemungkinan masih ada kuman yang tersisi dan akan kemudian membuat dirinya sakit, sehingga lagi dan lagi ia mencuci tangannya berkali-kali. Mungkin inilah yang selama ini mendekatkan antara cuci tangan dan dunia psikologi.

Namun perlu diketahui obsesif-kompulsif bukan sekedar cuci tangan belaka, mungkin juga kecemasan yang muncul akan keamanan rumah, penderita mengunci pintu rumahnya berkali-kali, dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama datang ke pintu depan rumahnya dan mencari tahu apakah pintu sudah dikunci atau belum, walau secara sadar ia tahu bahwa ia sudah menguncinya sejak beberapa jam yang lalu, ya, memang ada penyakit mental yang demikian itu dan bentuk kecemasannya yang beragam.

Maka efek dari cuci tangan terhadap psikologi manuisa ternyata ada berbagai macam, seperti “membasuh pikiran” kita juga, menumbuhkan rasa optimis, menghilangkan rasa bersalah, menghapus keraguan dan lain sebagainya, mari kita kaji tentang apa yang mungkin kita rasakan dan alami setelah kita mencuci tangan kita, baik secara bawah sadar, pra sadar dan alam sadar.

Mengembalikan rasa optimis

Dengan mencuci tangan maka dapat menghilangkan perasaan gagal yang dialami, dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Kaspar (2012)  pada setiap peserta penelitian yang diberikan tugas dan mengalami kegagalan, lalu kemudian diperintahkan kepada merka yang gagal tersebut untuk mencuci tangan mereka, maka ditemukan bahwa mereka setelah mencuci tangannya masing-masing merasa lebih optimis daripada mereka yang tidak mencucitangannya setelah melakukan kegagalan. Sayangnya dengan mencuci tangan mereka setelah kegagalan yang dialami membuat mereka juga mengalami penurunan motivasi untuk melakukan kembali tugas yang sama. Namun setidaknya dengan mencuci tangan Anda rasa gagal yang telah dialami akan sedikit berkurang.

Menghilangkan Rasa Bersalah

Dalam pikiran manusia kotoran dikaitkan dengan rasa bersalah, sehingga secara teoritis mencuci tidak hanya menghilangkan kotoran, namun juga menghilangkan perasaan bersalah yang dialami. sebuah studi terhadap kelompok peserta untuk berpikir tentang beberapa perilaku melawan moral yang terjadi pada masa lalu mereka ( Zhong & Liljenquist 2006 ). Satu kelompok kemudian diperintahan untuk menggunakan sabun untuk mencucitangan, dan kelompok yang lainnya tidak. Mereka yang mencuci tangan mereka setelah mengingat tindakan melawan moral yang pernah mereka lakukan mengaku merasa kehilangan rasa bersalah mereka. Dengan demikian mencuci tangan telah benar-benar menyeka kesalahan mereka yang telah terjadi di masa lalu.

Landasan Moral yang Lebih Tinggi

Keadaan diri yang bersih memberikan keyakinan diri kita terhadap orang lain, bahwa segala perilaku buruk yang orang lain lakukan adalah hal yang nista, dikarenakan diri kita bersih, maka kita mulai menghakimi orang lain secara sepihak dan beranggapan diri kita lebih bersih, ya karena sudah cuci tangan itu. (Zhong, Strejcek & Sivanathan, 2010).

Menghilangkan Keraguan

Terkadang ketika setelah manusia mengambil sebuah keputusan yang salah maka mereka akan berpura-pura bahwa keputusan mereka adalah benar, mereka terus membohongi diri mereka sendiri, bentuk disonansi kognitif pada diri manusia. dan jika pada saat tersebut mencuci tangan maka yang akan kita dapatkan adalah terbasuhnya kebutuhan kita akan pembelaan diri, membuat kita menjadi lebih terbuka terhadap keadaan, melakukan evaluasi terhadap kesalahan dan menerimanya dengan baik sehingga tidak berlarut. (Lee & Schwarz, 2010).

Menghilangkan Nasib Buruk

Secara mental dengan mencuci tangan dapat menghilangkan rasa sedang bernasib buruk, dalam sebuah studi dimana para peserta eksperimen dikondisikan untuk bermain judi dengan kartu, kepada mereka dibagi kedalam dua kelompok, dengan cuci tangan dan tidak dengan mencuci tangan, kelompok yang kalah dan mencuci tangan tidak meresakan bahwa mereka bernasib buruk, sedangkan pada kelompok tidak mencuci tangan mereka yang kalah lebih merasakan adanya nasib buruk pada permainan kartu mereka. (Xu et al., 2012).

Membuat Orang Lain Mencuci Tangan Mereka


terlepas dari efek psikologis yang dihasilkan dengan mencuci tangan, sesungguhnya dengan mencuci tangan merupakan sebuah metode efisien untuk mengendalikan penyebaran virus flu dan berbagai macam penyakit lain yang mungkin dapat menular melalui telapak tangan. dengan demikian membuat orang lain mencuci tangan mereka adalah suatu hal yang penting adanya. hal yang ampuh untuk dapat membuat orang lain mencuci tangan mereka adalah dengan mengingatkan mereka, dengan tekanan sosial bahwa semua orang harus mencuci tangannya masing-masing untuk kesehatan bersama, melalui pamflet-pamflet dan aksi langsung dari seluruh warga masyarakat (Judah et al., 2009).

ya, demikianlah 6 hal yang menunjukkan pengaruh dari mencuci tangan dengan keadaan mental seseorang, maka kini setelah membaca semua ini, cucilah tangan Anda pada waktu yang tepat dengan tujuan yang tepat, baik itu membasuh kotoran dari tangan Anda dan juga membasuh  pikiran Anda dari hal-hal yang mungkin bisa dikatakan "kotoran" pada pikiran Anda. :)

sumber:
1. http://www.spring.org.uk/2013/10/6-purely-psychological-effects-of-washing-your-hands.php

2. http://en.wikipedia.org/wiki/Obsessive%E2%80%93compulsive_disorder

Baca terusannya......

Monday, October 8, 2012

Mengenal Bahasa Tubuh: Tentang Kejujuran Dalam Bahasa Tubuh

"Jika ucapan diberikan kepada laki-laki untuk menyembunyikan apa yang ada dalam pikiran mereka, maka tujuan bahasa tubuh adalah untuk mengungkapkan sejatinya mereka." John Napier


Joe Navarro adalah mantan Agen FBI khusus dan merupakan penulis dari sebelas buku termasuk best seller internasional, What Every Body is Saying. Berikut adalah salah satu artikel beliau yang saya gunakan untuk bahan pembelajaran saya di hari ini, pemahaman ini adalah sebuah bentuk dasar untuk pemahaman yang lebih dalam terhadap arti dari bahasa tubuh yang dimunculkan oleh manusia, beserta pengartiannya terhadap kedaan mental dari pemilik tubuh tersebut.

Sejak jutaan tahun yang lalu dimana para leluhur kita berjalan di atas planet ini, mengarungi dunia yang penuh dengan bahaya. Mereka melakukannya dengan berkomunikasi secara efektif di antara mereka tentang kebutuhan dasar mereka, emosi, rasa takut dan keinginan satu sama lain. Yang menakjubkan adalah mereka dapat melakukan komunikasi diantara mereka dengan cara nonverbal, seperti perubahan fisiologis pada “lawan bicara” mereka seperti memerahnya muka saat sedang marah, lalu mereka melakukannya dengan gerakan seperti gerakan menunjuk yang dilakukan oleh tangan, dari suara yang dihasilkan seperti dengusan dan bukan berupa kalimat serta reaksi wajah dan tubuh yang mampu mereka lihat dan artikan mungkin sebagai bentuk reaksi wajah dalam keadaan bingung atau ketakutan. Hal ini merupakan warisan biologis kita sebagai manusia, hingga saat ini sering kali kita melakukan komunikasi nonverbal dan hal itu menjadi penting.

Pada manusia modern kita telah berevolusi dan mengembangkan sebuah sistem komunikasi dimana dengannya kita mampu memberitahukan kepada orang lain tentang bagaimana kita merasakan dan bagaimana “rasa”nya tidak dengan bahasa verbal. Perilaku kita dirancang untuk untuk bereaksi langsung kepada suatu hal yang mengancam atau mungkin memberikan kemungkinan untuk menyakiti diri kita dan saat menghadapinya kita tidak akan berpikir ulang namun langsung dengan mangambil seuatu bentuk tindakan nyata dalam bentuk gerakan atau perubahan fisiologis pada diri kita dengan tujuan purba yaitu mempertahankan keberlangsungan hidup kita pada umumnya atau sebuah bentuk pertahanan diri pada khususnya.

Sistem ini berkembang seiring berjalannya waktu, sistem inilah yang mengingatkan kita langsung kepada keadaan bahaya, dan juga mengingatkan orang lain yang ada disekitar kita dengan membaca gerakan kita dan mereka mengerti tentang apa yang kita hadapi tanpa kita beritahu terlebih dahulu dengan kalimat, namun mereka sudah cukup mengerti dengan cara kita mengambil sikap (atau perubahan yang terjadi pada diri kita) yang spontan. Spontanitas yang kita tunjukkan dalam menghadapi sesuatu menjadi bahan pertimbangan bagi orang lain, mereka melihat dan mengerti tentang apa yang kita alami, mungkin hal ini dapat disebut sebagai bentuk dari empati, suatu kemampuan membaca apa yang mungkin kita rasakan secara emosional, namun ketika kita berbicara tentang emosi hal ini dapat menular melalui berbagai macam cara, emosi adalah proses yang dijalani oleh otak manusia dan bukan sebuah bentuk perasaan yang dijalani oleh hati.

Di sini dikatakan bahwa bahasa tubuh yang ditunjukkan seseorang lebih jujur dari apa yang sebenarnya mereka katakan, sebagai contoh, ketika Anda mungkin menegur dan mengajak biara seseorang yang Anda kenal, ia mungkin bawahan Anda di kantor, Anda mengajaknya bicara, namun ia terlihat sedang tergesa-gesa, walau ia tidak mengakuinya dihadapan Anda dikarenakan perasaan tidak enak untuk mengelak dari Anda, namun Anda mengetahui bahwa ada sesuatu yang harus segera ia lakukan, anda melihatnya dari gerakannya yang menutupi keterburu-buruannya, matanya yang tidak tenang kepada Anda dan raut wajah pucat dan peluh dikeningnya, dari sana Anda menyadarinya, tanpa ia katakan, tanpa ia ucapkan. Dalam bentuk tersebut Anda mampu mengenali tanda-tanda ketidaknyamanan psikologis walaupun secara verbal ia mengatakan tidak apa-apa untuk terus berbicara dengan Anda, inilah yang dimaksud dalam pernyataan diawa bahwa bahasa tubuh itu lebih jujur daripada kalimat-kalimat verbal.

Jadi secara psikologis dibalik semua ini adalah hasil kerja sistem limbik pada otak kita yang mengatur segala kebutuhan, perasaan, pikiran, emosi dan niatan yang kita miliki. Sistem limbic ini tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk berpikir sebelum melakukannya, otak janya bereaksi terhadap apa yang kita hadapi dan tubuh kita menunjukkan bagaimana kita merasakannya. Ketika seseorang mengatakan kabar buruk kepada kita dan dalam sekejap bibir kita terasa dingin, ketika kita tanpa sengaja tertinggal oleh bus, maka rahang kita mengencang dan tangan kita membasuh leher, ketika sang pimpinan di kantor mengatakan bahwa tim akan bekerja saat akhir pecan maka saat mendengar berita tersebut mata anda menyempit dan dagu Anda bergerak turun, hal-hal yang beru saja disebutkan itu adalah ciri bagaimana fisiologis kita yang berubah menjawab tentang apa yang sebenarnya kita rasakan, walaupun kepada orang lain Anda mungkin mengatakan semuanya baik-baik saja namun jelas dari perubahan yang Anda alami semua menunjukkan bahwa semua tidak dalam keadaan sebagaimana harapan Anda. Atau mungkin ketika Anda melihat orang yang benar-benar Anda sukai maka alis Anda akan melengkung tertarik keatas, otot wajah menjadi rileks, lengan menjadi lentur untuk menerima kedatangan orang yang Anda sukai tersebut. Dihadapan orang yang kita cintai, kita akan mencerminkan perilaku merek, memiringkan kepala dan bagian pupil pada mata akan membesar. Perlu diketahui bahwa yang terjadi demikian adalah hasil evolusi yang telah dialami manusia selama ini, hal ini berlaku bagi semua bangsa, ras dan suku. Ditambahkan bahwa semua yang Anda alami tersebut adalah hasil proses otak Anda, dimana mereka mengkomunikasikan segala yang dialami melalui tubuh Anda.

Di satu sisi, tubuh kita tidak membutuhkan untuk melakukan hal-hal terebut, namun kita berevolusi untuk suatu alasan bahwa kita adalah makhluk sosial dimana dengannya kita memiliki kebutuhan untuk melakukan komunikasi baik itu secara verbal maupun nonverbal. Bagaimana kita bisa tahu kalau bahasa tubuh memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Seorang yang terlahir buta dan tidak pernah melihat sama sekali bahasa tubuh yang kita bahas juga akan menunjukkan perilaku yang sama, bahkan ketika mereka mendengar sesuatu yang tidak disukainya maka mereka akan menutup mata mereka, padahal mereka tidak melihat apa-apa. Dengan kata lain perilaku ini sudah terprogram dalam diri setiap manusia.

Baik itu dalam bisnis, dalam rumah tangga, atau dalam suatu bentuk hubungan percintaan, manusia akan selalu memberikan sinyal dari diri mereka tentang nyaman atau tidaknya diri mereka. Sistem binary yang tercermin dalam bahasa tubuh mengkomunikasikan semua keadaan mental yang kita alami, hal ini sudah teruji oleh waktu, efisien untuk membantu manusia melalui kesederhanaannya yang elegan.

Jelas ini bisa sangat efektif dalam menentukan bagaimana orang lain merasa tentang keberadaan diri Anda dan dalam mengevaluasi tentang bagaimana hubungan berkembang. Seringkali seseorang merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam suatu hubungan, diketahui melalui adanya perubahan dalam bahasa tubuh yang ditampakkan oleh pasangannya.untuk mengetahui Pasangan mana yang tidak lagi berhubungan atau berjalan berdekatan sangat mudah untuk ditemukan namun terkadang hal tersebut dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus lagi. sebagai contoh dari hal ini adalah ketika pasangan saling menyentuh namun hanya dengan ujung jari mereka saja daripada menggenggam pasangan mereka dengan seluruh telapak tangan mereka dapat menunjukkan ketidaknyamanan psikologis yang dialami oleh pasangan tersebut. Perilaku ini mungkin saja menandakan masalah serius dalam hubungan mereka, namun pada permukaannya hal tersebut tidak muncul dengan begitu jelas.

Jadi dari topic ini dapat diketahui bahwa ada banyak aspek dari komunikasi nonverbal dan bahasa tubuh, dengan berfokus pada “kenyamanan dan ketidaknyamanan” dapat membawa Anda lebih jauh untuk melihat lebih jelas apa yang orang lain alami di dalam proses mentalnya. Dengan memiliki kemampuan untuk mengetahui semua itu memberi kita bentuk pemahaman yang lebih jujur dari orang lain dan yang pada akhirnya akan membantu Anda dalam berkomunikasi dengan lebih efektif dan penuh empati dalam pemahaman yang lebih mendalam.

Sumber : psychologytoday

Baca terusannya......

Thursday, October 4, 2012

Kepemimpinan Yang Baik: Mengapa Tidak Cukup Hanya Dengan Menjadi Efektif


Para pemimpin yang efektif belum tentu pemimpin yang baik.

Dalam sejarah kehidupan manusia Selma ini penuh dengan kepemimpinan yang efektif, contohnya Gandhi, Martin Luther King Jr., Franklin D. Roosevelt juga ada Hitler, Stalin dan Mao. Mereka semua terbukti mampu dan ahli dalam mencapai tujuan mereka namun ternyata itu semua belum cukup, mereka mungkin adalah para pemimpin yang efektif namun belum tentu mereka itu baik.


Sementara itu arti dari kepemimpinan sering diartikan sebagai sebuah cara menggerakkan kelompok untuk mendapatkan tujuannya, hanya sebatas pada pencapaian tujuan kelompok dari apa yang dilakukan oleh pemimpin namun bukan

Sementara kepemimpinan sering didefinisikan sebagai sebuah kelompok bergerak menuju tujuan mencapai, jika seorang pemimpin hanya mementingkan tujuannya saja maka pemimpin itu bukanlah pemimpin yang baik.
Berikut adalah apa yang membedakan antara pemimpin yang baik dan pemimpin yang sekedar efektif saja:
- Melakukan sesuatu dengan benar Vs. cukup selesaikan pekerjaannya. Ini adalah sebuah variasi dari kutipan lama yang seringkali dikaitkan dengan Peter Drucker atau Bennis (mereka berdua telah menyatakan bahwa mereka tidak melakukan itu). Dalam hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik berorientasi pada tujuan . maka untuk melihat sebuah pemimpin yang baik atau hanya sekedar efektif dapat dilihat dari tujuan dari kelompok, organisasi atau sebuah bangsa apakah tujuan mereka memiliki nilai yang menetap?

- Mereka memiliki tanggungjawab. Dengan ini dikatakan bahwa mereka melakukan hal yang etis sebagai pemimpin, mereka tidak melanggar aturan, mereka memperlakukan orang lain secara adil, tidak berbohong, menipu atau mencuri untuk mencapai tujuan mereka.

- Membatasi terjadinya kerugian yang timbul, seorang pemimpin yang baik tidak mencapai hasil dan meninggalkan para pengikutnya dalam keadaan kelelahan, rusak atau mengalami demoralisasi, demikian juga seorang pemimpin yang baik tidak menghancurkan lingkungannya, membuang-buang sumber daya yang bernilai atau mungkin melukai dalam proses pencapaian tujuan mereka.

- Mereka mampu mengembangkan pengikut. Seorang pemimpin yang biak dapat dibedakan dari seorang pemimpin yang sekedar efektif dari keadaan para pengikutnya, keadaan para pengikut dari pemimpin yang baik akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, dikarenakan pemimpin yang baik membangun dan mengembangkan keterampilan serta bakat dari para pengikutnya demi kualitas capaian dari tujuan yang ditetapkan.

- Akan meninggalkan kelompok dalam keadaan yang baik untuk seterusnya. Seorang pemimpin yang baik akan membuat semua orang yang berad dalam kelompoknya untuk terus menjadi maju, menjadi lebih kuat dan tentunya menjadi lebih baik. Para pemimpin yang baik merencanakan jauh kedepan untuk kemaslahatan kelompok mereka, mereka menginginkan kedaan kelompok untuk terus maju saat mereka tinggalkan dan penuh harapan kedepan untuk keadaan yang cerah dari pada saat para pemimpin baik tersebut menciptakannya.

Jadi apakah Anda atau mungkin atasan Anda adalah pemimpin yang baik atau hanya sekedar pemimpin yang efektif dalam menjalankan tugas keseharian. Kini jelas bahwa dunia tidak cukup jika hanya dipimpin oleh orang yang efektif mereka yang memimpin jugalah harus baik dalam kepemimpinannya.

Sumber:
PSYCHOLOGYTODAY

Baca terusannya......

Sunday, May 13, 2012

Korelasi Akun Facebook Dengan Keadaan Otak Anda

Ketika melihat akun facebook pernahkah Anda bertanya mengapa ada seseorang yang memiliki teman yang sangat banyak dan mengapa ada seseorang yang memiliki jumlah pertemanan yang tidak terlalu banyak. Ditemukan bahwa ternyata hal ini memiliki hubungan dengan seberapa “besar” otak Anda. Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa seseorang yang memiliki banyak teman ternyata juga memiliki Orbitofrontal Cortex (sebuah bagian pada otak yang terletak di paling depan kepala atau dahi tepat diatas mata Anda) yang lebih besar. Orbitofrontal Cortex adalah bagian yang berguna untuk fungsi kognitif seperti berpikir tentang diri sendiri dan memikirkan apa yang orang lain mungkin pikirkan. Pada studi lainnya juga ditemukan bahwa seseorang yang memiliki jejaring sosial yang luas (seperti jumlah teman yang banyak di Facebook) juga memiliki Amigdala yang lebih besar, dimana Amigdala merupakan bagian pada otak yang mengatur emosi.

Menciptakan dan memelihara suatu hubungan sosial membutuhkan kekuatan dari otak, dimana kita harus ingat banyak sekali nama dan wajah, menyimpan ingatan akan suatu individu lain tentang apa, kapan dan dimana mereka melakukan sesuatu, memperbaharui informasi tersebut secara berkala saat kita menilai hubungan yang ada antara diri kita dengan orang-orang tersebut, apakah kita masih berteman dengan mereka atau sudah menjadi musuh, terus mengikuti perkembangan tentang orang-orang tersebut dalam menjalin hubungan dengan orang lain, seperti siapa bercinta dengan siapa, siapa yang berkoalisi dengan siapa, serta kita mencoba untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan oleh orang ini dikemudian hari. Bagi manusia dan beberapa jenis primata yang ingin selamat untuk hidup dalam kompetisi kehidupan sosial yang kompleks dan berat ini membutuhkan kemampuan sosial seperti yang disebutkan diawal ini adalah pembeda antara hidup dan mati, atau antara memperoleh kehidupan yang baik dan buruk.

Mari kita mengambil contoh primata jenis kera rhesus, mereka hidup dalam kumpulan yang sangat kompetitif dimana setiap individu dari spesies tersebut memiliki keterikatan dengan banyak individu lain dalam sebuah jejaring sosial yang rumit. Setiap langkah yang diambil oleh kera rhesus dalam percaturan sosial mereka menghasilkan sebuah efek domino yang berpengaruh kepada kera lainnya secara baik atau buruk. Kera rhesus tidak dapat hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, menjadi pasif dapat dinilai oleh kera lain sebagai bentuk dari eksploitasi. Jika kera rhesus ingin untuk hidup dalam kesendirian saja maka mereka harus bekerja keras untuk itu. Jika tujuan hidup mereka tidak hanya untuk bertahan hidup saja, melainkan juga untuk menjadi sukses, maka mereka harus menemukan agar orang lain mau untuk bekerja sama dengan mereka atau bekerja untuk kepentingan mereka. Dalam kehidupan yang kompetitif memiliki musuh tidaklah bisa dihindarkan oleh karena itu membuat sebuah bentuk kelompok pertemanan adalah penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Dengan demikian seseorang dapat menang saat bersaing dengan orang lain ditopang kerjasama yang memberikan dukungan dari kelompoknya. Hidup di dalam kelompok besar dan kompleks menimbulkan masalah sosial dimana agar kita dapat menyelesaikan segala problematika tersebut dibutuhkanlah kemampuan dan kecerdasan otak yang tinggi. Sebuah teori yang menyatakan bahwa kecerdasan dan otak yang besar seperti dimiliki manusia dan jenis primata besar lainnya berkembang untuk menyelesaikan masalah sosial dikenal denga teori Intelijen Machiavellian.

Dengan konsistensi pada teori ini, pada studi sebelumnya yang membandingkan spesies yang berbeda antara monyet dengan kera menunjukkan bahwa spesies yang hidup dalam kelompok sosial yang besar cenderung memiliki ukuran otak yang lebih besar (dalam perbandingan dengan tubuh mereka) khususnya pada korteks prefrontal daripada spesies yang hidup dalam kelompok yang kecil. Kera rhesus, babon, simpanse serta manusia merupakan contoh dari spesies yang cerdas secara sosial dengan korteks prefrontal yang besar. Namun dengan demikian bukan berarti makhluk yang lain adalah makhluk yang bodoh, melainkan mereka memiliki kebutuhan hidup yang berbeda dengan lingkungan sosialnya, sebagai contoh seekor gorila gunung hidup dalam sebuah kelompok kecil, yang mana hanya terdiri dari pejantan besar dan betina serta anak mereka. Pejantan yang sukses dalam kalangan gorila gunung tersebut adalah mereka yang kuat dan tenang, sedangkan untuk betinanya yang sukses adalah yang mampu menemukan pejantan yang akan menetap dalam jangka waktu lama bersamanya, dalam aspek kepribadian gorila gunung tersebut tidak memiliki ambisi politik yang berlebih, gaya hidup yang hanya akan menghasilkan model Kingkong dan bukannya Machiavelli.

Ada sesuatu yang menarik dalam teori intelijen Machiavellian mengenai evolusi otak, menurut teori primatologi pada saat ini ditemukan bahwa primata hidup secara berkelompok ditentukan oleh para betinanya dan kebutuhan mereka. Jika ternyata para betina lebih baik dalam mecari makanan dan dapat menghindarkan diri dari predator, maka spesies tersebut memiliki gaya hidup soliter. Namun jika ternyata para betinanya memerlukan bantuan para pejantan dalam meningkatkan keturunan mereka, maka spesies terebut akan hidup berpasangan atau berkelompok kecil. Terakhir, jika sang betina perlu untuk bekerja sama dengan perempuan lain untuk mencari makanan, mempertahankan makanan dan melindungi diri dari predator, maka mereka akan hidup dalam kelompok yang lebih besar. Kelompok apa yang akan dibentuk oleh suatu spesies ditentukan oleh kebutuhan para betina, dalam hal ini kebutuhan para jantan adalah para betina itu sendiri.

Ada beberapa hasil pemikiran yang sangat cemerlang di antara para ilmuwan yang telah mempelajari tentang evolusi sosial yang dialami oleh primata, dan setelah puluhan tahun upaya tersebut dilakukan baik secara intelektual dan model penghitungan matematika yang tidak terhitung jumlahnya, para ilmuwan tersebut telah mengambil kesimpulan bahwa kontribusi yang diberikan primata jantan dalam evolusi sosial spesies mereka terekam dalam sebuah bentuk pernyataan “primata jantan akan ikut kemana sang betina pergi”. Jadi jika sang betina hidup secara sendiri maka sang jantan hanya akan hidup di sekitar mereka. Jika sang betina hidup secara berkelompok dengan betina lain maka sang jantan akan hidup bersama mereka dalam suatu bentuk kelompok. Karena tujuan Pejantan dalam hidup adalah selalu sama yaitu, untuk mendapatkan hubungan seksual. Karena pejantan banyak memakan makanan, memiliki potensi membahayakan dan tidak membantu dalam merawat anak-anak dengan demikian maka para betina pada spesies primata hanya mengijinkan beberapa jantan saja yang dapat hidup di dalam kelompok mereka, yang mana diharapkan dapat melawan predator atau primata dari kelompok lain yang mengancam.

Fakta menarik dalam teori Intelijen Machiavellian adalah ditemukan bahwa ukuran korteks prefrontal yang besar pada spesies primata berkelompok besar terdapat pada para betinanya dan bukan pada pejantan dalam kelompok tersebut. Dengan kata lain, para betina hidup dengan betina lain yang memiliki korteks prefrontal yang lebih besar dalam spesiesnya sedangkan ukuran korteks prefrontal pada primata jantan tidak memiliki korelasi antara korteks prefrontal mereka dan besar atau kecilnya kelompok tempat mereka hidup. Hasil penemuan menarik ini mengindikasikan bahwa evolusi intelijen secara kompleks pada kera purba kala dan primata, dalam hal ini termasuk manusia mungkin terjadi karena meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial para betinanya. Dalam perjalanan evolusi yang menyebabkan membesarnya otak primata dan semakin kompleksnya cara berpikir, antara para betina dan jantan selalu pergi bersama-sama sampai akhirnya mencapai suatu tujuan yang sama, namun ternyata yang memiliki kendali adalah para betina dan para pejantan hanyalah para penumpang yang ikut kemana sang betina pergi. Betina yang cerdas menghasilkan keturunan yang cerdas dan beberapa dari anak-anak tersebut adalah jantan. Secara genetis dan anatomis pejantan tak jauh berbeda dari para betina, jadi ketika para betina menjadi lebih cerdas pada pejantan pun sebagiannya menjadi cerdas juga, mengikuti garis keturunan dari sang induk yang cerdas.

Sumber:

http://www.psychologytoday.com/blog/games-primates-play/201203/what-your-facebook-account-says-about-your-brain
http://en.wikipedia.org/wiki/Amygdala
http://en.wikipedia.org/wiki/Orbitofrontal_cortex

Baca terusannya......

Wednesday, May 9, 2012

Kiat Mengembangkan Karisma

Jika Anda ingin menjadi seorang manajer, politikus, orang tua atau pelatih yang efektif maka Anda membutuhkan sebuah faktor X dalam kualitas kepemimpinan Anda. Karisma adalah sebuah bentuk unsur kepemimpinan yang sudah tua dan efektif dikarenakan karisma berdasarkan pada kedekatan dan gaya interaksi personal seorang pemimpin.

Pemimpin karismatik selalu muncul dalam lingkungan masa lalu ketika masyarakat di desak oleh kebutuhan untuk dapat dengan cepat memobilisasi massa, seperti keadaan genting saat perang dan bencana alam. Dengan cepat seorang yang karismatik tersebut dengan kemampuannya dapat menyatukan kerumunan orang dan memotivasi mereka untuk bertindak, hal tersebutlah yang dapat dilakukan karisma. Sama seperti para pemimpin di era modern seperti Think Winston Churchill, Martin Luther King, dan Nelson Mandela.

Sebenarnya tidak ada yang misterius sama sekali mengenai karisma, karismatik dalam diri seorang pemimpin dapat dipelajari. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh sebuah kelompok peneliti yang dipimpin oleh John Antonakis dari University Lausanne Business School melakukan pelatihan untuk para manajer dengan tujuan meningkatkan karisma kepemimpinan mereka yang pada akhirnya akan terlihat pada keberhasilan mereka dalam memimpin.

Dalam riset pertama yang mereka lakukan mereka mengambil sampel secara acak dari perusahaan asal Swiss, dengan metode ada yang diberikan pelatihan dan ada yang tidak diberikan pelatihan. Pelatihan yang dilakukan terdiri dari mata kuliah tentang prinsip-prinsip karisma dalam kepemimpinan (termasuk juga dengan menonton adegan-adegan dalam film Dead Poets Society) melakukan presentasi dan diskusi. Sejak awal mereka mengikuti pelatihan ini para manajer telah telah dinilai oleh rekan-rekan mereka, yang mana rekan-rekan ini tidak mengetahui tentang pelatihan tersebut, hingga pada akhir pelatihan yang berlangsung selama 3 bulan, dari hasil penilaian yang dilakukan diketahui bahwa nilai mereka yang mengikuti pelatihan naik secara signifikan.

Studi kedua dilakukan dengan cara membuat video dari ceramah para mahasiswa MBA sebelum dan sesudah pelatihan tentang karisma. Rekaman pidato-pidato mereka tersebut dinilai tentang karismanya oleh para penilai independen. Dan secara mengejutkan ditemukan bahwa pelatihan yang diberikan secara signifikan telah meningkatkan karisma para mahasiswa dan meningkatkan efektifitas mereka sebagai pemimpin.

Tapi sebenarnya kemampuan apakah yang sebenarnya dilatih? Peneliti telah menemukan sebuah daftar panjang Charismatic Leadership Tactics (CLTs) atau Taktik Kepemimpinan Karismatik. Jadi jika Anda ingin meningkatkan karisma Anda berikut adalah beberapa poin dari daftar tersebut yang bisa Anda pelajari.


  1. Gunakanlah Metafora. Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Contohnya : “semua bisa dilakukan semudah membalikan telapak tangan”; “kita akan membuat saingan kita berlutut kepada kita”. Dalam hal ini metafora digunakan guna menunjukan betapa cerdas diri Anda.
  2. Menggunakan cerita dan anekdot. Hal ini berfungsi untuk membuat hal yang Anda bicarakan mudah diingat oleh para pendengar.
  3. Tunjukanlah sikap terhadap ketetapan moral. Contohnya seperti “ini adalah hal yang harus dilakukan”. Sikap ini menunjukkan betapa kuat kebijaksanaan dan integritas Anda sebagai seorang pemimpin.
  4. Sebarkan sentimen terhadap suatu tekanan secara kolektif. Contohnya seperti “kita akan menjadi lebih kuat” tujuannya adalah menunjukan kepada pendengar bahwa Anda memiliki perhatian khusus terhadap kebaikan para pendengar Anda dan Anda bukan hanya mementingkan diri Anda sendiri.
  5. Tunjukkanlah pengharapan yang tinggi terhadap diri Anda sebagai pemimpin dan para pengikut Anda. Contohnya seperti “dalam hal ini kita membutuhkan seseorang dan sesuatu yang luar biasa untuk menyelesaikan krisis yang kita hadapi”.
  6. Sampaikan pesan dengan percaya diri, hal ini ditunjukkan dengan menjelaskan kepada para pengikut Anda tentang mengapa mereka harus mengikuti Anda dan bukannya kepada orang lain.
  7. Gunakanlah pertanyaan yang bersifat retoris. Sepeti “mengapa Anda harus mendengar ini dari saya”, hal ini berfungsi untuk menyampaikan visi Anda.
  8. Gunakanlah sikap tubuh. Seperti mengacungkan tangan, mengangkat jempol atau membusungkan dada. Hal ini berfungsi agar Anda terlihat lebih besar, lebih baik dan penting.
  9. Gunakanlah ekspresi wajah seperti tersenyum, melotot, melihat dengan tenang, hal ini berfungsi kepada para audiens Anda untuk meniru ekspresi Anda secara tidak sadar dan dengannya akan membuat mereka menjadi lebih baik.
  10. Pertahankan nada suara Anda, hal ini berfungsi untuk menjaga perhatian para pendengar Anda terhadap apa yang Anda sampaikan.

Sebelum Anda akan keluar untuk mempraktekan, ada baiknya jika ini Anda lakukan terlebih dahulu dengan berlatih di depan cermin atau didepan pasangan Anda. Dan setelah itu jika Anda inign mengetahui apakah Anda telah berhasil untuk meningkatkan karisma Anda adalah dengan cara memerintahkan anak Anda untuk memakan sayuran atau pergi cepat tidur tanpa melakukan protes.

:)

Sumber :

Antonakis, J., Fenley, M., & Liechti, S. (2011). Can Charisma be Taught? Tests of Two Interventions. Academy of Management Learning and Education, 10, 374-396.

http://www.psychologytoday.com/blog/naturally-selected/201205/can-charisma-be-taught

Baca terusannya......

Sunday, April 22, 2012

Bagaimana Masyarakat Bergerak: Penguraian 8 Bentuk Psikologi Massa Dalam Kehidupan Sehari-hari

Apakah ketika Anda menemukan sebuah surat yang jatuh di jalan maka Anda akan mengirimkan surat tersebut dengan memasukkannya kedalam kotak pos?, apakah Anda akan mematuhi jika diperintahkan untuk menyetrum orang lain dengan listrik?, apakah Anda akan memulai percakapan dengan orang asing yang Anda ketahui?, dan apakah Anda akan membantu seorang anak yang tersesat? Pada artikel kali ini Anda akan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat, apa motivasi dan dorongan mereka untuk melakukan beberapa kegiatan masyarakat baik yang sendiri atau yang berkelompok.

Stanley Milgram adalah seorang psikolog sosial asal Amerika yang terkenal dalam hal penelitian tentang kepatuhan. Beliau juga sangat tertarik dengan aspek-aspek yang meliputi tatanan sosial masyarakat yang hidup di perkotaan.

Beliau selalu bertanya-tanya tentang bagaimana penduduk kota berhasil hidup berdampingan satu sama lainnya. Bertanya-tanya tentang bagaimana penduduk kota mau untuk mengantri secara tertib dan bagaimana jika keseimbangan mereka terganggu, dan juga beliau ingin sekali melihat bagaimana cara orang-orang melakukan kontak sosial sebelum ada Twitter dan Facebook seperti sekarang.

Berikut adalah delapan hasil penelitian yang mana pada masing-masing hasilnya memberikan pandangan baru tentang bagaimana masyarakat bergerak.

1. Anak Yang Tersesat
Seberapa besarkah keinginan seseorang untuk membantu orang lain? Sebagai contoh siapakah yang mau merelakan waktu dan berhenti untuk sekedar membantu seorang anak yang tersesat di jalanan? Jawabannya tak seorangpun, benarkah?

Untuk mengetahuinya Milgram memutuskan untuk menggunakan bantuan dari anak-anak berumur sekitar usia 6 – 10 tahun, mereka dikirim ke jalanan di Amerika (tentunya dengan para pengamat yang berada di sekitar mereka demi keamanan) dan mereka diperintahkan untuk mendekat kepada siapa saja yang lewat di dekat mereka dan mengatakan bahwa mereka sedang tersesat dan menanyakan kesediaan mereka untuk menghubungi rumah anak tersebut.

Hasilnya relatif menggembirakan pada daerah perumahan yaitu dengan 72% dari para pejalan kaki mau untuk membantu, sedangkan untuk pada daerah perkotaan didapati hanya 46% yang mau membantu si anak yang tersesat tersebut.

Dibalik angka-angka yang di dapat tersebut ada cerita lain yang dapat lebih mencerminkan keadaan masyarakat baik yang berada di daerah pemukiman dan yang berada di daerah perkotaan. Pada daerah pemukiman mereka yang tidak membantu terlihat ikut bersimpati terhadap si anak, namun pada daerah perkotaan orang-orang yang berjalan kaki disana terlihat mengacuhkan keberadaan si anak tersesat tersebut, terkadang mereka terlihat mengelak dan ada sebagian yang hanya menyodorkan uang kepada anak itu, bahkan ada seseorang yang mengatakan kepada sang anak : “pergilah ke restoran itu, ibu mu menunggu mu di sana”.

2. Memotong jalur dan menyerobot antrian

Milgram menyadari bahwa mengantri adalah sebuah bentuk contoh klasik tentang bagaimana sekelompok orang secara otomatis membuat bentuk tatanan sosial yang bertujuan menghindari kekacauan

Tetapi tatanan sosial sangat rapuh ketika menghadapi bentuk ancaman kekacauan, seperti ada salah satu dari yang mengantri tersebut menyelak masuk kedepan antrian. Untuk menguji reaksi terebut, Milgram membuat penelitian yang ia lakukan pada sejumlah 129 antrian yang berbeda-beda, mulai dari antrian tiket taruhan, antrian karcis kereta dan lain-lainnya, dimana di dalamnya ada yang secara sengaja melakukan penyerobotan antrian. (Milgram et al., 1986)

Anehnya pada penelitian ini ternyata menunjukan bahwa sikap orang lain cukup apatis saat melihat penyerobotan di dalam antrian, ditunjukkan bawha hanya 10% dari kesempatan yang ada, dimana sang penyerobot antrian dikeluarkan secara paksa dari antrian, sedangkan hampir lebih dari setengahnya tidak melakukan apa-apa saat terjadi kejadian terebut, walau terlihat dari mereka terlihat jijik atas perilaku si penyerobot dan menunjukkan cibiran baik sera verbal maupun non-verbal namun tidak melakukan pencegahan secara fisik seperti maju dan menarik kebelakang si penyerobot tersebut. Menurut Milgram hal ini dikarenakan oleh 4 hal, yaitu:

a. Formasi kelompok dimana semua orang berada pada garis sejajar dan berada dibelakang satu sama lain serta menghadap kearah yang sama menimbulkan efek yang sulit untuk melakukan kontak sosial dengan orang yang berada di depan dan di belakanganya.

b. Menghalangi seorang penyerobot dapat berakibat hilangnya posisi mengantri.

c. Sistem sosial harus dapat mentolerir beberapa jenis penyimpangan, hal ini bertujuan agar tidak mudah terprovokasi dan hancurnya tatanan sosial yang telah ada.

d. Dalam barisan orang-orang memilih untuk membiarkan mereka namun tetap dengan sikap mengecam perbuatan menyerobot tersebut sehingga dengan demikian walau si penyerobot lolos namun baris antrian menjadi lebih solid.

3. Ketaatan Pada otoritas

Salah satu bentuk eksperimen psikologi yang paling terkenal adalah hasil penelitian yang dilakukan Milgram terhadap ketaatan yang dimiliki seseorang terhadap otoritas yang berlaku dimana orang tersebut mendapat perintah untuk menyakiti manusia lainnya.


Para peserta dalam penelitian ini diperintahkan oleh seorang berjas putih untuk memberikan sengatan mematikan kepada orang lain yaitu para peserta didik, 63% peserta terus melanjutkan setruman sampai selesai, walau mereka tahu para peserta didik berteriak kesakitan, memohon untuk berhenti dan akhirnya jatuh terdiam.

Apakah Anda berpikir untuk melakukan hal yang sama?


Dalam hal ini Milgram jelas telah mengungkap kecenderungan seseorang untuk menjadi patuh terhadap otoritas yang ada. Hal ini dijelaskan oleh Milgram dengan mengatakan bahwa seseorang dapat saja melakukan perbuatan yang keji dan berutal atas nama otoritas yang memerintahnya, dari hasil dari apa yang sudah Milgram lakukan beliau berkesimpulan bahwa manusia secara tidak disadari menikmati perilaku mereka yang menyakiti orang lain secara keji, pemikiran ini adalah hasil dari penelitian yang ia lakukan, dimana penelitian itu didasari oleh pelaksanaan sidang terhadap kriminal Perang Dunia II, Adolf Eichmann diadakan. Eichmann yang adalah seorang Nazi diadili karena perbuatannya yang telah membunuh banyak orang Yahudi. Eichmann ketika itu berdalih bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya.

untuk lebih lanjut tentang bagian ini dapat Anda lihat pada artikel saya sebelumnya, Stanley Milgram: Antara Kepatuhan dan Konformitas.

4. Orang Asing Yang Terlihat Familiar

Apakah Anda melihat orang yang sama setiap hari dalam perjalanan Anda ke tempat kerja, toko-toko, atau tempat-tempat aktifitas publik? Dimana Anda sebelumnya belum pernah berbicara dengannya? Apakah Anda pernah bertanya-tanya tentang siapa diri mereka, latar belakang mereka dan lainnya tentang diri mereka, dan pernahkah terbayang oleh Anda kalau mereka juga mempertnayakan hal yang sama tentang diri Anda?

Dalam hal yang satu ini Milgram pun bertanya-tanya hal yang sama tentang orang-orang menunggu kereta di dekat tempat tinggalnya di Riverdale, New York. Jadi dia meminta kepada murid-muridnya untuk mengambil gambar dari semua orang di peron dan kemudian dalam waktu beberapa minggu kemudian, mereka ikut naik kedalam kereta dan memperlihatkan gambar-gambar tersebut kepada penumpang untuk mengetahui siapa saja yang mungkin para penumpang kenali.

Hasilnya mengejutkan, sebanyak 90% responden mengidentifikasi minimal satu orang yang mereka tidak kenal namun familiar bagi mereka. Rata-rata yang didapatkan adalah 4 orang per penumpang. 62% penumpang mengatakan bahwa mereka telah berbincang dengan salah satu dari orang-orang tersebut. Setengah dari responden mengaku memiliki pertanyaan tentang siapa orang-orang asing terebut. Serta diketahui bahwa mereka yang memiliki daya tarik karena keunikkan tertentu menjadi orang yang paling banyak dikenali.

Dari hasil penelitian ini Milgram juga mendapati bahwa antara mereka yang tidak kenal namun saling menyadari keberadaan masing-masing akan lebih mudah unutk saling bertegur sapa saat mereka berada pada kondisi yang tidak biasa, seperti saat mereka bertemu di sebuah kota lain.

5. Sempitnya Dunia

Milgram juga memiliki ketertarikan terhadap keterikatan antara manusia di dalam sebuah masyarakat global, beliau memiliki perhatian terhadap kemungkinan jika dua orang dipilih secara acak lalu ditanyakan kepada keduanya apakah merekas saling mengenal? Dan jika memang mereka ternyata tidak saling kenal apakah ada kemungkinan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki satu orang yang merka kenal sama-sama dan seterusnya sampai ditemukan bahwa mereka satu sama lain memiliki orang yang mereka sama-sama kenal dalam suatu bentuk jarak keterpisahan.

Cara Milgram mencari tahu jarak keterpisahan antar manusia maka ia menguji dengan mengirimkan surat kepada orang lain secara acak di dua daerah yaitu Nebraska dan di Boston sedangkan untuk sang target sendiri berada di Massachusetts, dalam surat tersebut Milgram meminta kepada si penerima surat untuk meneruskan surat tersebut kepada orang yang menjadi target di dalam isi surat itu, jika mereka (si penerima surat) tidak mengenali sang target maka diwajibkan kepada si penerima surat agar mengirimkan kembali surat tersebut kepada orang yang mereka kenal yang mungkin saja mengenal si target dalam surat. (Travers & Milgram, 1969).

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata surat akan sampai ke target dalam jangka perantara sebanyak 5,2 kali pengiriman dari orang pertama yang menerima surat, dengan melalui jaringan sosial si penerima surat pertama.

Dengan ini kita dapat melihat tentang masyarakat yang saling berhubungan,

6. Pendapat Rahasia

Kali ini Milgram ingin mengukur sikap masyarakat secara tidak langsung, namun tidak dengan cara menanyakannya kepada mereka, karena selalu saja ada kecenderungan manusia untuk berbohong. Jadi kali ini ia meninggalkan surat yang belum memiliki perangko dan meninggalkannya tercecer di jalanan dan demikian ia akan melihat apakah orang-orang yang menemukan surat tersebut akan mengirimkan surat tersebut. Sedangkan alamat yang tercantum di amplop menjadi salah satu stimulus bagi yang menemukan untuk mengirimkan surat tersebut. (Milgram et al., 1965).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 70% surat yang ditujukan kepada Medical Research Assosiates (asosiasi penelitian kesehatan) dikirimkan oleh mereka yang menemukan surat tersebut. Tetapi ketika alamat surat yang tercantum dalam surat tersebut ditujukan kepada partai komunis atau Partai Nazi maka hanya 25% dari surat yang dikirimkan kepada alamat dimaksud oleh mereka yang menemukan surat tersebut.

Hal ini tidak hanya mengukur tentang opini publik yang ada di masyarakat tetapi juga melihat apakah masyarakat mau untuk membantu memberikan sedikit pengorbanan untuk membelikan perangko pada surat tersebut.

7. Pengaruh Massa

Pernahkah Anda mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak tanpa tahu apa sebabnya, dimana saat itu Anda hanya berasumsi bahwa Anda harus bergabung untuk melakukannya karena memang begitu keadaannya?
Milgram dalam hal ini sangat tertarik untuk mencari tahu alasan mengapa seseorang mengikuti orang kebanyakan yang ada disekitarnya. Pada tahun 1969 Milgram dan rekan melakukan penelitian, pengujian ia lakukan dengan cara menempatkan sekelompok orang untuk berdiri bersama di pinggir jalan dan secara bersama-sama orang-orang tersebut menatap ke lantai 6 pada gedung yang ada di depan mereka, walau di sana tidak terjadi apa-apa.

Dengan penelitian yang ia lakukan tersebut ditemukan bahwa 4% orang yang lewat pada kerumunan yang ia siapkan akan berhenti dan ikut menapat ke lantai 6 gedung saat ada satu orang dalam kerumunan tersebut yang menatap kesana, ketika 15 orang dalam kerumunan menatap ke arah gedung ditemukan hampir 40 orang yang sedang berjalan melewati kerumunan ikut berhenti dan turut serta mencari tahu apa yang dipandang 15 orang tersebut ke arah gedung, dan ketika lebih dari 15 orang dalam kerumunan yang menatap ke gedung ditemukan bahwa 86% pejalan yang lewat akan berhenti dan bergabung untuk ikut menatap kearah lantai 6 gedung.

8. Keramaian Kota

Pada bagian terakhir ini bukan merupakan sebuah hasil penelitian melainkan sebuah teori yang mecoba untuk menjelaskan perilaku sosial di perkotaan.
Milgram berpikir bahwa cara manusia dalam menentukan perilaku di kota atau di daerah perkotaan adalah dengan memberikan sebuah bentuk respon alami terhadap informasi berlebihan yang ada. Hidup di perkotaan membuat seluruh indera kita kebanjiran informasi. Di sini (perkotaan) ada terlalu banyak pemandangan, suara dan orang-orang serta kesemuanya harus dapat kita tangkap dan olah dengan baik.

Karena itulah penduduk di perkotaan menerapkan metode yang akan membuat mereka dapat menghemat energi psikologis mereka, menempatkan perhatin mereka pada yang seperlunya saja sesuai dengan batasan mereka. Yang mana perilaku itu ditunjukkan dengan beberapa hal berikut:

a. Penduduk kota cenderung memiliki interaksi yang dangkal antara satu dengan yang lainnya, hal ini ditunjukkan dengan memasang wajah merengut atau terlihat marah sepanjang waktu.

b. Mereka melakukan transaksi dan pergerakan secepat mungkin.

c. Penduduk perkotaan cenderung seperti terlihat tidak memiliki tatakrama dan sopan santun, seperti tidak meminta maaf atau pernyataan permisis saat sedang berdesak-desakan diantara orang lain dalam suatu kerumunan, hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki lagi cadangan kekuatan untuk memproses hal tersebut.

Norma hidup di dalam lingkungan perkotaan bersifat anonim dan aturan yang tidak tertulis di sana menyebutkan “saya akan bersikap seolah-olah Anda tidak ada jika Anda bersikap seolah-olah saya tidak ada”.
Namun pada dasarnya penduduk di perkotaan bukanlah orang yang jahat (sebagaimana hasil penelotian terhadap anak yang tersesat sebelumnya), hanya saja mereka menerapkan sebuah strategi yang rasional dan tepat guna untuk menangani banjir informasi yang ada di dalam lingkungan perkotaan tersebut.


Sebagaimana Milgram mengatakan:

"Mungkin kita boneka yang dikendalikan oleh “tali” masyarakat. Tetapi setidaknya kita adalah boneka yang memiliki persepsi kita sendiri yang ditunjukkan dengan kesadaran. Maka dimungkinkan kesadaran kita itulah langkah awal kita untuk menuju kebebasan. "

SUMBER

Baca terusannya......

Wednesday, April 18, 2012

Stanley Milgram: Antara Kepatuhan dan Konformitas

Percobaan Milgram atau dikenal juga sebagai percobaan kepatuhan kepada otoritas adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang profesor psikologi dari Universitas Yale untuk mecari tahu sampai sejauh mana orang-orang akan mematuhi figur otoritas ketika disuruh untuk melakukan hal yang berlawanan dengan hati nurani dan berbahaya. Percobaan ini dilakukan oleh Milgram pada 1961 setelah sidang terhadap kriminal Perang Dunia II, Adolf Eichmann diadakan. Eichmann yang adalah seorang Nazi diadili karena perbuatannya yang telah membunuh banyak orang Yahudi. Eichmann ketika itu berdalih bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya. Peristiwa ini menjadi dasar bagi Stanley Milgram untuk melakukan percobaannya.(Sumber)

Menjelaskan kekejaman manusia 



Eksperimen Stanley Milgram yang terkenal adalah sebuah eksperimen yang dilakukannya untuk menguji tingkat ketaatan seseorang kepada otoritas yang berlaku pada suatu situasi (Milgram, 1963). Milgram mencari tentang seberapa jauh seseorang akan menuruti perintah dari suatu bentuk otoritas yang berada diatasnya pada siatuasi tertentu, jika perintah tersebut adalah perintah yang akan memberikan dampak menyakitkan kepada orang lain. Banyak yang bertanya-tanya setelah terjadinya perang dunia kedua yang mengerikan, mengapa seseorang mampu untuk setuju saat diminta atau diperintahkan untuk berbuat kejam terhadap orang lain. Bukan hanya pada tentara saja, namun juga mengapa orang biasa yang dipaksa melakukan tindakan kejam dan mengerikan akan dapat dengan tega melakukannya, hal inilah yang membuat Milgram mengadakan penelitian ini.

Tetapi dalam eksperimen ini Milgram tidak terjun langsung kedalam suatu situasi perang, dia lebih ingin melihat bagaimana seseorang bereaksi terhadap perintah dalam sebuah situasi yang relatif normal, sehingga dalam laboratorium yang ia gunakan ia menciptakan atmosfir yang cukup kondusif sesuai dengan yang ia maksudkan. Maka dalam penelitian ini yang ia lakukan adalah mencari tahu tentang perilaku manusia ketika diminta untuk memberikan kejutan listrik dalam beberapa kategori tegangan kepada manusia lainnya dalam eksperimen. Perilaku yang dimaksud dalam eksperimen ini adalah sejauh mana orang yang dijadikan subjek tersebut akan mematuhi perintah dari situasi dan mengabaikan keraguan tentang apa yang sedang mereka lakukan beserta dampaknya.

Situasi eksperimen yang diciptakan Milgram terlihat sangat mudah pada awalnya, dimana peserta diberitahu bahwa mereka terlibat dalam suatu bentuk percobaan belajar, para peserta diminta untuk menjadi operator alat kejut yang telah disediakan dan mereka akan diberikan arahan serta ditekankan bahwa mereka harus melakukannya sampai dengan akhir percobaan. Dikatakan kepada peserta bahwa mereka akan berada diantara guru dan si pelajar, yang mana keduanya adalah aktor tanpa diketahui peserta karena mereka hanya mengetahui bahwa diri mereka hanya membantu dan bukan sebagai objek penelitian itu sendiri. Peserta yakin bahwa objek penelitian ini adalah ada pada pelajar dan bukan pada mereka. Para peserta duduk di depan mesin dengan banyak tombol dimana pada mesin tersebut terdapat label dari tegangan terendah sampai yang tertinggi, dikatakan bahwa mesin itu bernama Shock Machine atau mesin kejut, pada saklar ketiga yang mereka gunakan terdapat label “Bahaya: Tegangan Tinggi” dan dua saklar terakhir berlabelkan “XXX”.

Selama percobaan, setiap kali si pelajar membuat kesalahan peserta diperintahkan untuk menambahkan tegangan sengatan listrik yang diberikan. Tentu saja si pelajar harus terus melakukan kesalahan sehingga operator yang malang tersebut harus tetap memberikan sengatan listrik yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, lalu si pelajar akan menjerit kesakitan karena disetrum dan sampai akhirnya si pelajar diam tak bergerak. sang operator yang malang sebenarnya tidak memberikan sengatan listrik kepada si pelajar, si pelajar sudah berlatih untuk berakting sebelum percobaan berlangsung agar mereka dapat menirukan kondisi seseorang yang benar-benar tersengat listrik secara realistis. Si pelajar dengan sandiwaranya harus dapat meyakinkan sang operator kalau mereka benar-benar kesakitan karena tersengat listrik sehingga sang operator berasumsi bahwa kesakitan tersebut berasal dari mesin yang mereka kendalikan.

Hasil Penelitian

Sebelum saya menjelaskan hasil, cobalah untuk membayangkan diri Anda sebagai peserta dalam percobaan ini. Seberapa jauh Anda dapat memberikan kejutan listrik untuk manusia lain hanya untuk sebuah studi tentang memori? Apa yang akan Anda pikirkan ketika si pelajar jatuh tak sadarkan diri setelah Anda berikan kepada mereka kejutan pada tingkat berbahaya? Jujur. Seberapa tega Anda dapat melakukannya? Tak akan lama Anda akan melakukannya, mungkin itu yang Anda pikirkan, Anda mungkin meremehkan hal ini sama dengan yang kebanyakan orang lakukan.

Ternyata hasil yang ditunjukkan kali ini cukup mencengangkan, Milgram menemukan orang akan jauh lebih patuh daripada yang Anda bayangkan sebelumnya. Sebanyak 63% peserta memutar saklar ke arah kanan sampai akhir, mereka diberikan segala bentuk stimulus seperti dengan si pelajar berteriak kesakitan, memohon untuk dihentikan dansampai akhirnya jatuh terdiam. Eksperimen ini tidak menggunakan mereka yang tergolong sadis dan terlibat dalam kejahatan pembunuhan atau penyiksaan sebelumnya, ini adalah orang biasa seperti Anda.

Penjelasan Hasil Penelitian

Pada masanya penelitian Milgram menjadi sebuah berita besar. Penjelasan Milgram terhadap hasil temuan yang ia dapatkan dari penelitian merupakan jawaban atas perilaku dalam sebuah situasi tertentu. Dari penelitian psikologi sosial inilah dapat ditunjukkan sebuah kenyataan yang mencengangkan tentang bagaimana sebiuah situasi tertentu dapat merubah perilaku seseorang. Percobaan yang dilakukan Milgram memicu sebuah gelombang berkelanjutan yang mengadopsi metode yang ia gunakan, diterapkan kepada berbagai macam budaya, berbagai macam situasi dan gender, yang mengejutkan hasilnya tidak berbeda jauh dengan apa yang sudah dibuktikan duluan oleh Milgram.

Apakah ada kesalahan?

Situasi penelitian yang di sengaja, diciptakan untuk mempengaruhi perilaku masyarakat Sekarang pikirkan lagi. Tentu, percobaan bergantung pada situasi untuk mempengaruhi perilaku masyarakat, tapi bagaimana sebenarnya situasi dapat mempeengaruhi? Jika Anda berada pada posisi demikian, dapat dipastikan bahwa Anda akan mengerti bahwa ini tidak nyata pada suatu tingkat tertentu, bahwa Anda tidak sedang benar-benar menyetrum seseorang, dalam penelitian di universitas membuat para subjek mereka merasa bahwa hal yang mereka lakukan tidak benar adanya adalah sebuah kesalahan, karena jika demikian yang terjadi maka penelitian tidak dapat dilanjutkan dengan menggunakan subjek yang sudah sadar situasi tersebut.

Diketahui bahwa manusia selalu menggunakan isyarat nonverbal dalam berkomunikasi satu sama lain. Seberapa baikkah seorang aktor yang dapat mengelabui dan terlihat begitu nyata dalam berperan? Apakah bisa sampai terlihat secara nonverbal berbicara dan meyakinkan?. Seseorang dapat berperan dengan baik bahkan dalam sebuah situasi dimana mereka tahu melalui lubuk hati bahwa mereka melakukan yang bukan sebenarnya. Semakin kita mendalami tentang pola pikiran dan psikologi manusia maka semakin kita menemukan tentang kekuatan besar dari proses bawah sadar yang dimiliki manusia, baik itu secara emosional dan secara kognitif. Karena tanpa disadari bawah sadar memiliki pengaruh yang besar dalam perilaku manusia.

Penjelasan lain dari hasil penelitian ini adalah bahwa alam bawah sadar peserta mengetahui tentang kepura-puraan dari penelitian ini. Mungkin saja dalam hasil penelitian yang telah dilakukan oleh milgram ini benar-benar menunjukkan kekuatan dari konformitas. Yang mana dari konformitas terebut kita berupaya untuk memberikan kesenangan kepada sang pelaku eksperimen, agar sesuai dengan situasi yang mereka inginkan dengan cara melakukan apa yang diharapkan dari kita. Walaupun hal ini bukanlah sesuatu yang dicari oleh Milgram sendiri tetapi hal ini tetap masih merupakan hasil intepretasi dari apa yang telah Milgram lakukan.

Apakah Anda mempercayai hasil penelitian tersebut, namun yang tidak bisa dipungkiri adalah apa yang telah Milgram lakukan memang salah satu hal yang sangat mengesankan dari dunia psikologi, serta eksperimen ini tidak akan pernah bisa diulang pada masa kini dikarenakan adanya standart etika yang melarang menyertum orang lain dengan sengaja. Jelas sejak awal melihat hasil penelitian tersebut semua pandangan kita terhadap manusia akan berubah, kita melihat manusia sebagai makhluk yang sadis dan tidak berperikemanusiaan, namun kini dengan adanya alternatif interpretasi dari penelitian tersebut maka segala sesuatunya harus dipikirkan ulang.

(SUMBER)

Baca terusannya......
everyone is the chosen one