Thursday, July 3, 2008

Selamat datang Pada Budaya Fitnah

Tutur kata yang baik berasal dari orang yang baik, dan tutur kata yang buruk berasal dari orang yang tidak memiliki tata-krama.

Manusia, makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Hidup dalam kelompok ataupun hidup dalam kesendirian tetap saja membutuhkan keberadaan orang lain. Saling memberikan informasi dan juga kasih sayang, membangun sebuah kebudayaan dari hasil buah pikiran. Manusia, makhluk yang selalu berubah, dari waktu-ke-waktu merubah bentuknya dalam kehidupan sosial, sehingga jaman selalu saja berubah, kekekalan energi menjadi yang merubah semua, ada aksi dan muncul reaksi, dan begitu seterusnya.


Dalam tulisan yang masih membutuhkan banyak kritik dan masukan ini penulis ingin menyampaikan suatu bentuk budaya baru yang ada di dalam masyarakat, yaitu budaya fitnah. Fitnah dalam kamus besar bahasa indonesia adalah perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Budaya untuk menjelekkan orang lain dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut, sungguh hina sekali apa yang dilakukan oleh para pemfitnah dan sungguh nikmat sekali bagi orang yang difitnah, mengapa penulis katakan sangat hina apa yang dilakukan oleh seorang pem-fitnah adalah karena sungguh ke-tega-an dirinya menyebarkan suatu dusta yang dapat mencelakakan orang lain, ingat, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan, bagaimana jika orang yang menjadi korbannya itu mendapat celaka dari apa yang sebenarnya suatu kebohongan, dan kecelakaannya sangat menyakitkan bagi si korban bahkan berujung pada kesengsaraan, bukan hanya untuk dirinya pribadi tapi juga berimbas kepada nama baik keluarga, anak-anaknya, sanak-saudaranya, istrinya, orang tuanya atau kaum kerabatnya. Sehinggga semua orang yang dekat dengan dirinya mendapat imbas, Memang sungguh dahsyat efek dari fitnah. Penulis mengatakan sungguh nikmat bagi mereka yang difitnah adalah karena berarti orang lain ada yang dengki terhadap dirinya, orang lain ada yang iri atas sesuatu yang ada dalam dirinya, orang lain melihat suatu berkah yang tidak dimiliki oleh orang lain itu, dengan kata lain ada kenikmatan, keberuntungan, kebaikan, kesejahteraan dan keberkahan di dalam dirinya dan hal itu sangat tidak disukai oleh si tukang fitnah atas dasar iri, dengki dan benci. Maklum banyak orang kini yang tidak senang atas kegembiraan orang lain.

Tidak senang atas kebahagiaan orang lain merupakan suatu bentuk persaingan yang tidak sehat, coba bayangkan jika kita tidak suka atas suatu kebaikan yang diperoleh oleh orang lain, apa yang mendasarinya, mungkin kita takut untuk kalah dan berada pada posisi yang lebih rendah dari orang lain, dengan begitu berarti kita adalah seorang egois yang selalu meminta untuk dipuja dan di sanjung tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi juga kita ini iri terhadap orang lain, kita ini berarti tidak mampu untuk melakukan lebih baik dari orang lain yang kita iri-kan itu, juga berarti kita kalah dan kita salah dan lebih lemah keadaannya. Atau dengki yang merupakan penyulut utama dari perbuatan fitnah itu, kedengkian adalah posisi marah ketika ber-iri hati, jujur kalau boleh jujur manusia memiliki perasan ini tanpa kecuali. Menurut penulis kedengkian pada awalnya juga merupakan suatu metode pertahanan diri, suatu “alarm pengingat” kalau posisi kita berada lebih lemah dari orang lain. Yang pada dasarnya manusia ingin berada selalu diatas tanpa pernah ada dibawah, keegoisan dasar yang membuat manusia selalu berkembang dari waktu-ke-waktu. Tapi dalam suatu kadar yang besar kedengkian dapat mengakibatkan petaka bagi orang lain ataupun untuk diri sendiri. Lebih baik untuk tidak mendengki dan terus saja berusaha jika menginginkan suatu posisi yang lebih baik. Persaingan yang sehat merupakan suatu cara yang dapat membawa pada kesejahteraan, tapi persaingan yang tidak sehat dapat membawa suatu perilaku yang sampai-sampai cenderung tidak manusiawi seperti mem-fitnah tadi.

Kenapa kita tidak merasa gembira atas kegembiraan orang lain, sungguh aneh sekali orang yang merasa susah hati hanya karena melihat orang lain mendapat suatu kebaikan, tidak baik untuk membiarkan hati tenggelam dalam keadaan benci, hal itu sama saja melakukan mode penghancuran diri sendiri, selain dapat mencelakakan orang lain hal itu juga sangat berakibat buruk terhadap diri sendiri. Buanglah jauh-jauh kebencian dan iri hati serta dengki dalam diri kita, mulailah berusaha dengan keras untuk mendapat kebaikan, tidak usah merasa susah atas kebaikan yang didapat orang lain, kenapa kita tidak menerima kenyataan dan mendapat keringanan dalam hati atas perasaan yang menerima keadaan, yang tentunya akan menjadikan hati kita lebih kaya. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai motivator kita dengan kata “dia bisa kenapa saya tidak” bukannya “dia bisa maka saya tidak suka”.

Ada ketetapan dan juga janji alam di atas bumi ini, salah satu dari contoh janji itu adalah seseorang yang menanam singkong maka akan menuai pohon singkong, itulah janji alam ini, tidak mungkin seseorang yang menanam singkong kemudian tumbuh pohon jeruk atau pohon jengkol. Begitu juga dengan hati, siapa yang menanam kebencian didalam dirinya maka akan menuai kebencian, mungkin akan terbakar benci dan dibenci oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan bagi yang menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan. Siapa yang bekerja keras mencari uang maka akan mendapat uang, siapa yang belajar untuk menjadi pintar maka akan menuai kepintaran. Itu adalah sebagian hukum alam. Kerja keras yang cerdas akan menghasilkan hasil yang memuaskan.

Tanpa ada dengki, iri dan benci dalam kehidupan bermasyarakat maka kita termasuk orang-orang yang mendukung adanya kebaikan bagi banyak orang. Buat apa juga memeliharanya dalam diri segala bentuk keburukan itu. Sebagai bagian dari kelompok masyarakat menebar fitnah bisa dimulai tanpa sadar, dan bisa juga menebar fitnah dengan sadar dan dengan tujuan yang jelas, sangat tidak baik untuk melakukannya, hanya dengan kesadaran diri kita bisa menahannya. Kesadaran diri yang menerima keadaan diri, jika kita kurang dari orang lain maka kita harus mengetahui dimana kekurangannya, mungkin kita kurang berusaha, mungkin kita kurang dalam kerja keras sedangkan orang yang kita iri-kan itu bekerja keras tanpa kita ketahui. Ingat iri adalah tanda ketidak mampuan, jika kita tidak mampu maka mengaku kalah sajalah, dan bila kita tidak menerima atas ketidak mampuan kita maka berusahalah lebih keras untuk menunjukan kebisaan kita, bukan dengan memfitnah mereka yang lebih dari kita dalam berbagai hal.

Ketika memfitnah sudah terlihat tanda-tandanya untuk menjadi suatu budaya, maka hanya kita yang mampu menahannya, jangan sampai hal itu terjadi, dan jangan sampai hal itu menjadi sesuatu yang diwajarkan oleh masyarakat, tidak ada kebenaran sedikitpun dibalik sebuah fitnah dan juga tidak ada kebaikan dibaliknya. Menuduh seseorang atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya, menghancurkan orang lain dan juga orang yang ada di sekitarnya. Untuk mereka yang difitnah tidak perlu khawatir karena jika memang hal yang dituduhkan tidak benar adanya maka tidak perlulah takut, selalulah berani bertindak atas dasar kebenaran, junjunglah kebenaran dengan berani. Alam telah berjanji dan tidak pernah mengingkari. Dan orang yang paling kaya adalah orang yang paling bersyukur....

...Selamat jalan fitnah, kau tidak akan pernah menjadi budaya diantara kami, kami berdiri diatas kebenaran dan memberikan penilaian berdasarkan ketulusan, semoga engkau hanya menjadi suatu legenda yang penuh dengan pelajaran bagi orang yang menggunakan akal dan pikirannya, serta bagi mereka yang berperasaan jernih tanpa pernah menanam keburukan di dalamnya....

Baca terusannya......

Bencana jeratan Narkoba


Jika Anda seorang pengguna narkoba aktif, entah itu pengguna jenis ganja, putau, XTC, shabu-shabu, LSD, obat-obatan penenang dan lain-lain, jika Anda tidak dapat meninggalkan penggunaannya dalam kehidupan Anda, jika Anda sudah sangat ketergantungan dengan semua itu, JANGAN PANIK!!!!, ternyata solusi untuk keluar dari semua itu cukup mudah, hanya memebutuhkan tekad yang bulat dari dalam diri anda sendiri. Sadarkah Anda kalau ternyata diri Anda sudah sangat ketergantungan dengan narkoba-narkoba itu?, jangan pernah bunuh diri Anda dengan cara perlahan, mari sadar dan nikmati kehidupan dengan senikmat-nikmatnya, sudah banyak korban yang jatuh, sudah banyak yang mengalami gangguan fungsi tubuh karenanya, sudah banyak yang cacat seumur hidup karenanya, sudah banyak yang mengalami gangguan jiwa karenanya, sudah banyak yang mati konyol karenanya, sudah banyak keluarga yang ditinggalkan karenanya, sudah banyak orang yang bersedih karenanya, sudah banyak keburukan yang diakibatkan olehnya, penulis hanya berharap agar para pembaca tidak menjadi yang berikutnya dalam daftar panjang korban akibat pemakaian narkoba yang terkutuk itu.


Maksud tulisan ini diperuntukkan kepada mereka yang masih terjebak di dalam lingkaran setan narkoba, walaupun kecenderungan para pemakai narkoba adalah orang yang buta huruf (manusia yang bisa membaca tulisan tetapi tidak memahami isi tulisan yang dibaca = buta huruf), sebagian besar dari mereka merupakan orang yang memiliki kemampuan rendah baik itu secara emosi maupun intelegensi apalagi spiritual. Karena penulis sadar akan hal itu tetapi jika mereka memiliki kemauan yang besar dalam mencari pencerahan atau suatu dukungan, pasti mereka menemukan jalan untuk kembali hidup secara normal, karena tidak pernah tertutup kesempatan bagi mereka yang mau berusaha.

Yang harus dipertanyakan kepada Anda-Anda yang menggunakan Narkoba secara aktif dan telah ketergantungan adalah, apakah Anda menyayangi dan mencintai diri Anda sendiri?, Jika anda menjawab “YA”, maka ketahuilah kalau ini merupakan titik terang cahaya harapan untuk Anda dalam meraih apa yang mau Anda raih., dengan kata lain jika Anda pernah memiliki suatu cita-cita maka hal itu bisa diwujudkan . tapi jika anda menjawab “TIDAK” maka dengan penuh rasa penyesalan penulis mengatakan kalau Anda tidaklah lebih dari seonggok sampah yang terserak dijalanan, tak lebih dari kotoran yang mengotori dunia ini, tak bermaksud dan tidak bermakna, sayang sekali tidak ada harapan bagi Anda-Anda yang tidak menyayangi dan mencintai diri Anda sendiri kecuali sebuah keajaiban. Kita sebagai manusia haruslah menyayangi dan menghormati diri kita sendiri karena diluar sana tidak ada yang mengetahui bagian dalam diri kita kecuali diri kita sendiri, tidak ada yang mampu menyelamatkan diri kita kecuali diri kita sendiri, dan diri sendirilah yang mengetahui siapakah sebenarnya diri kita, kemana nantinya kita akan pergi dan kemana tujuan hidup kita.

Perang melawan eksistensi narkoba di dunia sudah berlangsung sangat lama, tetapi segala macam usaha itu tidak pernah menimbulkan hasil yang baik, buktinya adalah jumlah pemakai narkoba tidak pernah menurun, melainkan angkanya semakin naik, bahkan hari demi hari pertambahannya semakin cepat, sampai saat menulis tulisan ini ternyata keadaan diluar sudah seperti wabah penyakit yang berkembang bebas di dalam kehidupan bermasyarakat, menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, sangat ironis, tapi itulah kenyataan. Yang paling mengecewakan banyak orang adalah berita terakhir tentang adanya pihak aparat yang tertangkap basah menjadi pemakai dan pengedar narkoba, sebelum berita itu ada juga wakil rakyat yang menggunakan barang haram tersebut, dan sekali lagi itulah kenyataan, dan kita tidak bisa lari dari kenyataan.

Pemakaian narkoba-pun telah menjadi suatu bentuk gaya hidup bagi segelintir orang, bahkan yang paling menjijikkan memakai jenis narkoba tertentu menjadi suatu tanda status sosial bagi mereka, cenderung semakin mahal harga narkoba yang mereka konsumsi maka akan semakin tinggi status sosial mereka (semahal-mahalnya benda itu tetap saja hanya racun, yang lebih parah banyak yang mau membelinya, yah begitulah seseorang yang banyak memiliki harta tetapi miskin akan ilmu, perasaan dan hati). Sering juga dijumpai mereka merasa bangga mengatakan kalau mereka adalah pengguna tetap jenis narkoba tertentu, hal ini menunjukan kalau mereka adalah manusia yang miskin akan ilmu, jauh dari akal sehat dan telah terbutakan mata hatinya, yang mengakibatkan mereka merasa benar-se-benar-benarnya ketika melakukan suatu tindakan yang sebetulnya sesat-se-sesat-sesatnya.

Salah satu faktor penyebab segala kekacauan ini adalah adanya rasa putus asa yang teramat sangat di dalam diri pengguna, bagaimana tidak di jaman yang segalanya dengan cepat melaju, arus teknologi tanpa henti, globalisasi, inovasi-inovasi yang terus berkembang dan tak mungkin di bendung, kemajuan jaman, budaya luar yang datang dan tidak sempat disaring, datang dari segala arah dan menyerbu dengan cepat. Belum lagi dengan iklim ekonomi bangsa ini yang telah selama 10 tahun mengalami krisis, berkepanjangan dan semakin kusut, latar belakang pendidikan yang sangat rendah, tidak adanya jaminan untuk hari esok yang cerah, ketakuatan dalam menghadapi masa depan, lingkungan sosial yang semakin menurun kesadaran untuk empati-nya, pergaulan yang terlalu menekan dan tidak sehat, tidak didapatnya kasih sayang dari dalam keluarga, pendidikan agama yang tidak kuat dan tidak dipahami sehingga dekat dengan kesesatan dan jatuh dalam lumpur keburukan, semua itu adalah sedikit dari banyak faktor yang menyebabkan keputusasaan teramat-sangat bagi para manusia, sehingga yang terjadi adalah tersesatnya para manusia itu kedalam lembah hitam penggunaan narkoba. Telah terbukti bahwa para pecandu narkoba datang dari kaum muda karena mereka masih memilik prinsip hidup yang rapuh. Bagaimana tidak rapuh jika di dalam keluarga tidak diberikan bekal yang cukup!?, keluarga merupakan faktor utama dalam menentukan perkembangan seorang anak, jika seorang anak tumbuh tidak dengan bekal pegangan entah itu kasih sayang, perhatian, pendidikan agama dan ilmu pasti yang kurang maka mereka memiliki potensi yang tinggi untuk terjerumus kedalam jurang narkoba, hal ini karena mereka tumbuh tanpa prinsip yang jelas dan juga tanpa pandangan hidup yang pasti.

Beberapa ahli dalam negeri dan mancanegara mengatakan bahwa ada skenario imperialisme global yang dilakukan oleh bangsa-bangsa maju yang bertujuan untuk menghancurkan peradaban kaum muda, skenario ini ditujukan agar generasi penerus bangsa tidak dapat maju. Sugguh canggih misi mereka, mereka telah mantap memanfaatkan kenyataan bahwa nasib suatu bangsa berada pada generasi berikutnya yaitu para generasi muda yang dimasa akan datang menjadi penerus, tanpa mereka suatu bangsa akan mengalami suatu kehancuran total, “hancurkan pemudanya” berarti ”hancurkan masa depannya”. Mari kita lihat dengan peka, mari kita lihat sekeliling kita, lihat dan kini kita telah diserang secara dahsyat oleh skenario imperialisme global itu. Mereka telah merusak cara pandang kaum muda, mereka telah mengotori harga diri bangsa, mereka telah meracuni budaya kita, mereka telah merusak peta mental para pemuda, mereka sedang merusak peradaban kita, mereka menginginkan kehancuran bagi masa depan kita. Jadi bagaimana narkoba bisa habis jika eksistensinya adalah suatu kesengajaan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sangat sadis. Yang tidak bukan pihak yang kejam itu adalah bangsa-bangsa maju dan organisasi-organisasi gelap yang memiliki dasar teori konspirasi. Tapi mereka tidak akan pernah berhasil melaksanakan tujuannya jika kita sebagai bangsa memiliki kekuatan dan keyakinan diri yang kuat, jangan termakan dengan tipu daya mereka, mulailah peka dengan lingkungan, jauhilah hal yang tidak bermanfaat dan hiduplah dengan kewaspadaan agar mendapat ketenangan.

Sebenarnya secara akal sehat efek yang di dapat dari mengkonsumsi narkoba jenis apapun adalah keracunan, sensasi keracunan yang disugestikan menjadi kenikmatan, mematikan sel-sel dalam otak, matinya syaraf-syaraf di dalam tubuh yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Entahlah apa yang telah menyelubungi pemikiran para pecandu narkoba yang masih saja menggunakannya, padahal mereka seharusnya sudah mengetahui hal itu, tulisan-tulisan, pamflet-pamflet anti narkoba ada jutaan jumlahnya, penyuluhan-penyuluhan sudah dilakukan dari segala tingkat pendidikan, penggalakan anti narkoba pun terus saja dilakukan, lalu apa yang telah membutakan mata mereka sehingga masih saja melakukan pembunuhan secara perlahan terhadap diri sendiri, mungkin jawabannya adalah banyak faktor yang tadi sudah disebutkan sebelumnya, ditambah dengan faktor yang hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri.

Jika Anda benar-benar ingin terbebas dari sana, maka lakukanlah, kebulatan tekad adalah penentu sembuh atau tidaknya Anda dari jeratan narkoba, sungguh hanya diri kita sendirilah yang bisa menjadi penyelamat hidup kita, jangan terlalu berharap dengan bantuan dari orang lain, jangan katakan perjuangan seorang diri itu berat, tubuh ini adalah dibawah kekuasaan kita maka hanya kita yang mampu mengen dalikannya, hanya kita yang memiliki hak atas tubuh ini, dan ingatlah kalau jiwa kita juga memiliki hak atas tubuh kita. Percuma saja jika Anda masuk kedalam panti rehabilitasi jika itu merupakan suatu paksaan, dan setelah keluar dari sana Anda kembali menjadi seorang pecandu berat, hanya diri kita yang mampu mengatasi apa yang terjadi terhadap diri kita, dan sekali lagi hanya diri kita yang mampu mengeluarkan diri dari jeratan kecanduan narkoba yang terkutuk. Semangatlah, bakarlah api semangat itu, ingatlah tentang cita-cita, ingatlah tentang orang yang kita cintai, berjuanglah, berjuanglah, percayalah nantinya kebahagiaan itupun hanya kita yang akan merasakan. Lakukanlah dengan caramu sendiri, karena peta menuju keselamatan pada dasarnya telah tertanam dalam diri kita sejak kita terlahir, maka temukanlah karena semua tentang hidup Anda ada di genggaman tangan Anda sendiri.


Baca terusannya......

Zona Nyaman Yang Menjerumuskan

Pernahkah anda merasa nyaman dengan kehidupan anda?, berhati-hatilah dalam keadaan itu bisa jadi menjadikan anda suatu individu yang tidak berkembang karena sudah merasa terlalu nyaman. Kata “jangan pernah cepat merasa puas” terkadang ada benarnya juga karena jika kita merasa terlalu cepat puas dengan keadaan kita, bisa jadi kita menjadi terhenti dalam perkembangan diri, padahal mungkin masih banyak yang bisa di eksplorasi dari kemampuan yang ada di dalam diri kita. Tak banyak orang yang mau mengeksplorasi bakat terpendam di dalam dirinya di akibatkan mereka telah di buai dalam keadaan nyaman yang membutakan. Victor Frankl dalam bukunya yang merjudul man searching of meaning secara gamblang menyatakan bahwa tujuan hidup manusia bukanlah hanya sekedar dalam mencari suatu kesejahteraan dan menghindari ketidak nyamanan tapi lebih kepada pencarian arti yang ada dalam kehidupannya. Pencarian arti dalam kehidupan, sangat religius dan sangat personal rasanya, yang jelas seseorang akan menjadi manusia sejati setelah ia mengalami yang namanya Maut.


Dalam kenyamanan yang dimaksud oleh penulis dalam tulisan ini lebih diarahkan kepada para pemuda yang kini baru berubah kedalam masa dewasa, dimana seseorang dihadapi dengan pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial yang baru, seperti peran sebagai pencari nafkah, sebagai suami atau istri, dan juga mungkin orang tua. Seringkali didapati orang-orang yang sebenarnya telah mencapai usia masa dewasa awal merasakan bahwa masa-masa awal pada keadaan ini terasa sangat sulit bagi mereka sehingga mengakibatkan mereka memperpanjang masa ketergantungan mereka seperti mempertahankan status sebagai mahasiswa atau sebagai siswa. Mungkin juga sangat sulit bagi sebagian orang untuk melepas kenyamanan yang telah diberikan oleh orang tua mereka. Bukan hanya karena nyaman tapi juga karena lebih praktis dan lebih menyenangkan, perasaan tidak malu terus saja mengalir, bukan karena anak yang selalu meminta, tapi lebih kepada orang tua yang lebih sering memberi.

Perilaku memanjakan anak pada dasarnya juga harus diperhatikan bagi para orang tua, dalam setiap kasus seorang anak yang tidak mampu untuk berdiri diatas kakinya sendiri sebagai pribadi yang matang pada usia yang seharusnya telah matang lebih diakibatkan oleh pola asuh oleh orang tua yang selalu saja memanjakan anaknya. Seharusnya ada pemikiran yang menyadarkan orang tua bahwa hal itu dapat mengakibatkan ke-tidak-mandiri-an anaknya sendiri. Perilaku memanjakan dapat cenderung membinasakan seorang anak dalam menghadapi kehidupan luar yang semakin detik semakin keras dan berat persaingannya. Sikap-sikap selalu memanjakan cenderung juga memperlemah semangat juang pada seorang anak, lemahnya daya juang dapat memunculkan model pribadi yang tak memiliki pengharapan terhadap masa depan, dengan kata lain dapat menimbulkan suatu peribadi yang lemah secara mental, lemah secara kemampuan dan lemah dalam pola pikirnya.

Hidup memang seleksi alam, dengan kata lain siapa yang memiliki kemampuan untuk bertahan maka akan mampu bertahan hidup dengan selamat. Dan keadaan yang ada di luaran sekarang ini menunjukan lemahnya kesadaran kebanyakan Pemuda yang secara usia telah memasuki masa dewasa awal. Mereka cenderung masih saja bergantung pada orang tua, belum memiliki keinginan untuk lepas dari rumah dan hidup mandiri dengan kemampuannya sendiri, walau masih ada sebagian yang lebih kecil yang telah memiliki keinginan untuk mandiri. Tantangan yang ada di dunia luar harus dengan cepat secara perlahan di pelajari oleh seseorang dari usia yang lebih dini sehingga dapat memiliki gambaran akan apa yang akan dihadapi, sehingga individu tersebut mampu menjadi lebih matang dan menyiapkan jalan untuk menghadapinya dengan lebih cermat. Kemandirian adalah jalan keluarnya, banyak cara untuk dapat mencapai keadaan tersebut, salah satunya adalah keinginan yang besar dari dalam diri, sadar akan masa depan yang masih menunggu dan masih banyak yang bisa mereka pelajari juga mereka eksplorasi bagi orang muda.

Kecenderungan manusia yang tidak menginginkan rasa tertekan mengakibatkan adanya zona nyaman yang menyesatkan, keadaan nyaman yang menjerumuskan pada ke-tidak-kreativ-an dan juga ke-konvensional-an yang merupakan musuh besar bagi pembaruan. Merasa diri masih menjadi anak-anak yang perlu kasih sayang langsung dari orang tua dan juga dari orang-orang yang lebih dewasa dari mereka secara usia. Ke-tidak-mandiri-an yang terbentuk dari awal pertumbuhan, ke-tidak-mandiri-an yang menjadi bom waktu bagi generasi penerus, ke-tidak-mandiri-an yang akan menjadi suatu gejala sosial menuju kehancuran. Tidak ada yang menginginkan adanya suatu “kecelakaan” yang terjadi dimasa yang akan datang. Dunia berkembang dan ini terjadi tanpa henti, terlahir di dalam jaman yang memanjakan keinginan telah memperlemah budaya kerja keras yang seharusnya dimiliki oleh semua jenis masyarakat. Sesekali merasa tertekan dapat menumbuhkan semangat hidup seseorang, cara kerjanya adalah manusia memiliki sifat “equilibrium” yaitu sifat mencari keseimbangan jika ada sesuatu yang kurang, sebagai contoh kita akan makan pada saat kondisi lapar dan kita akan minum pada saat kondisi dehidrasi, membiasakan diri untuk merasa masih kurang dan berusaha untuk mendapatkan lebih dapat membawa kita pada perkembangan diri yang baik, walau setiap manusia sudah diwarisi dengan sifat keserakahan yang teramat sangat. Dalam kondisi dunia yang kini telah mengglobal sistem kapitalisasinya menumbuhkan suatu pandangan yang mengatakan bahwa “Greed is Good” , keserakahan itu baik, keserakahan itu dapat membawa kita pada pada tingkat kesejahteraan yang tinggi, namun keserakahan yang bagaimana yang baik itu? Banyak yang berpendapat bahwa keserakahan adalah suatu pemuasan nafsu tanpa ampun, tapi untuk saat ini bukan keserakahan yang seperti itu yang harus ditumbuhkan dalam diri kita, bukan suatu keinginan yang harus diwujudkan walau dengan menghalalkan segala cara. Tapi keserakahan yang terkontrol, terarah dan diberkati.

Merasa diri masih kurang dan selalu menginginkan lebih, perasaan tidak puas dengan keadaan diri dan berupaya untuk mendapatkan apa yang diinginkan, suatu dorongan dari dalam diri yang dapat mengarahkan seseorang menuju pribadi tangguh. Pribadi yang tidak cepat putus asa adalah pribadi yang mampu melihat jauh kedepan ketempat dimana dia akan berada di masa yang akan datang. Kesiapan dalam menghadapi masa depan, menyiapakan segalanya dari masa sedini mungkin, menyamakan dengan kenyataan yang ada di masa ini, memikirkan segala kemungkinan dari yang terburuk hingga yang terbaik dan kemauan untuk bekerja keras secara cerdas merupakan suatu modal untuk mendapatkan masa depan yang baik. Menghilangkan segala macam ketakutan dalam kehidupan, jangan menanam keraguan di dalam diri karena akan membuahkan kegagalan dan penyesalan, maka berjalanlah selalu dalam jalan mantap terarah yang dilandasi kesadaran akan tujuan.

Baca terusannya......
everyone is the chosen one