Thursday, July 3, 2008

Selamat datang Pada Budaya Fitnah

Tutur kata yang baik berasal dari orang yang baik, dan tutur kata yang buruk berasal dari orang yang tidak memiliki tata-krama.

Manusia, makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Hidup dalam kelompok ataupun hidup dalam kesendirian tetap saja membutuhkan keberadaan orang lain. Saling memberikan informasi dan juga kasih sayang, membangun sebuah kebudayaan dari hasil buah pikiran. Manusia, makhluk yang selalu berubah, dari waktu-ke-waktu merubah bentuknya dalam kehidupan sosial, sehingga jaman selalu saja berubah, kekekalan energi menjadi yang merubah semua, ada aksi dan muncul reaksi, dan begitu seterusnya.


Dalam tulisan yang masih membutuhkan banyak kritik dan masukan ini penulis ingin menyampaikan suatu bentuk budaya baru yang ada di dalam masyarakat, yaitu budaya fitnah. Fitnah dalam kamus besar bahasa indonesia adalah perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Budaya untuk menjelekkan orang lain dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut, sungguh hina sekali apa yang dilakukan oleh para pemfitnah dan sungguh nikmat sekali bagi orang yang difitnah, mengapa penulis katakan sangat hina apa yang dilakukan oleh seorang pem-fitnah adalah karena sungguh ke-tega-an dirinya menyebarkan suatu dusta yang dapat mencelakakan orang lain, ingat, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan, bagaimana jika orang yang menjadi korbannya itu mendapat celaka dari apa yang sebenarnya suatu kebohongan, dan kecelakaannya sangat menyakitkan bagi si korban bahkan berujung pada kesengsaraan, bukan hanya untuk dirinya pribadi tapi juga berimbas kepada nama baik keluarga, anak-anaknya, sanak-saudaranya, istrinya, orang tuanya atau kaum kerabatnya. Sehinggga semua orang yang dekat dengan dirinya mendapat imbas, Memang sungguh dahsyat efek dari fitnah. Penulis mengatakan sungguh nikmat bagi mereka yang difitnah adalah karena berarti orang lain ada yang dengki terhadap dirinya, orang lain ada yang iri atas sesuatu yang ada dalam dirinya, orang lain melihat suatu berkah yang tidak dimiliki oleh orang lain itu, dengan kata lain ada kenikmatan, keberuntungan, kebaikan, kesejahteraan dan keberkahan di dalam dirinya dan hal itu sangat tidak disukai oleh si tukang fitnah atas dasar iri, dengki dan benci. Maklum banyak orang kini yang tidak senang atas kegembiraan orang lain.

Tidak senang atas kebahagiaan orang lain merupakan suatu bentuk persaingan yang tidak sehat, coba bayangkan jika kita tidak suka atas suatu kebaikan yang diperoleh oleh orang lain, apa yang mendasarinya, mungkin kita takut untuk kalah dan berada pada posisi yang lebih rendah dari orang lain, dengan begitu berarti kita adalah seorang egois yang selalu meminta untuk dipuja dan di sanjung tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi juga kita ini iri terhadap orang lain, kita ini berarti tidak mampu untuk melakukan lebih baik dari orang lain yang kita iri-kan itu, juga berarti kita kalah dan kita salah dan lebih lemah keadaannya. Atau dengki yang merupakan penyulut utama dari perbuatan fitnah itu, kedengkian adalah posisi marah ketika ber-iri hati, jujur kalau boleh jujur manusia memiliki perasan ini tanpa kecuali. Menurut penulis kedengkian pada awalnya juga merupakan suatu metode pertahanan diri, suatu “alarm pengingat” kalau posisi kita berada lebih lemah dari orang lain. Yang pada dasarnya manusia ingin berada selalu diatas tanpa pernah ada dibawah, keegoisan dasar yang membuat manusia selalu berkembang dari waktu-ke-waktu. Tapi dalam suatu kadar yang besar kedengkian dapat mengakibatkan petaka bagi orang lain ataupun untuk diri sendiri. Lebih baik untuk tidak mendengki dan terus saja berusaha jika menginginkan suatu posisi yang lebih baik. Persaingan yang sehat merupakan suatu cara yang dapat membawa pada kesejahteraan, tapi persaingan yang tidak sehat dapat membawa suatu perilaku yang sampai-sampai cenderung tidak manusiawi seperti mem-fitnah tadi.

Kenapa kita tidak merasa gembira atas kegembiraan orang lain, sungguh aneh sekali orang yang merasa susah hati hanya karena melihat orang lain mendapat suatu kebaikan, tidak baik untuk membiarkan hati tenggelam dalam keadaan benci, hal itu sama saja melakukan mode penghancuran diri sendiri, selain dapat mencelakakan orang lain hal itu juga sangat berakibat buruk terhadap diri sendiri. Buanglah jauh-jauh kebencian dan iri hati serta dengki dalam diri kita, mulailah berusaha dengan keras untuk mendapat kebaikan, tidak usah merasa susah atas kebaikan yang didapat orang lain, kenapa kita tidak menerima kenyataan dan mendapat keringanan dalam hati atas perasaan yang menerima keadaan, yang tentunya akan menjadikan hati kita lebih kaya. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai motivator kita dengan kata “dia bisa kenapa saya tidak” bukannya “dia bisa maka saya tidak suka”.

Ada ketetapan dan juga janji alam di atas bumi ini, salah satu dari contoh janji itu adalah seseorang yang menanam singkong maka akan menuai pohon singkong, itulah janji alam ini, tidak mungkin seseorang yang menanam singkong kemudian tumbuh pohon jeruk atau pohon jengkol. Begitu juga dengan hati, siapa yang menanam kebencian didalam dirinya maka akan menuai kebencian, mungkin akan terbakar benci dan dibenci oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan bagi yang menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan. Siapa yang bekerja keras mencari uang maka akan mendapat uang, siapa yang belajar untuk menjadi pintar maka akan menuai kepintaran. Itu adalah sebagian hukum alam. Kerja keras yang cerdas akan menghasilkan hasil yang memuaskan.

Tanpa ada dengki, iri dan benci dalam kehidupan bermasyarakat maka kita termasuk orang-orang yang mendukung adanya kebaikan bagi banyak orang. Buat apa juga memeliharanya dalam diri segala bentuk keburukan itu. Sebagai bagian dari kelompok masyarakat menebar fitnah bisa dimulai tanpa sadar, dan bisa juga menebar fitnah dengan sadar dan dengan tujuan yang jelas, sangat tidak baik untuk melakukannya, hanya dengan kesadaran diri kita bisa menahannya. Kesadaran diri yang menerima keadaan diri, jika kita kurang dari orang lain maka kita harus mengetahui dimana kekurangannya, mungkin kita kurang berusaha, mungkin kita kurang dalam kerja keras sedangkan orang yang kita iri-kan itu bekerja keras tanpa kita ketahui. Ingat iri adalah tanda ketidak mampuan, jika kita tidak mampu maka mengaku kalah sajalah, dan bila kita tidak menerima atas ketidak mampuan kita maka berusahalah lebih keras untuk menunjukan kebisaan kita, bukan dengan memfitnah mereka yang lebih dari kita dalam berbagai hal.

Ketika memfitnah sudah terlihat tanda-tandanya untuk menjadi suatu budaya, maka hanya kita yang mampu menahannya, jangan sampai hal itu terjadi, dan jangan sampai hal itu menjadi sesuatu yang diwajarkan oleh masyarakat, tidak ada kebenaran sedikitpun dibalik sebuah fitnah dan juga tidak ada kebaikan dibaliknya. Menuduh seseorang atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya, menghancurkan orang lain dan juga orang yang ada di sekitarnya. Untuk mereka yang difitnah tidak perlu khawatir karena jika memang hal yang dituduhkan tidak benar adanya maka tidak perlulah takut, selalulah berani bertindak atas dasar kebenaran, junjunglah kebenaran dengan berani. Alam telah berjanji dan tidak pernah mengingkari. Dan orang yang paling kaya adalah orang yang paling bersyukur....

...Selamat jalan fitnah, kau tidak akan pernah menjadi budaya diantara kami, kami berdiri diatas kebenaran dan memberikan penilaian berdasarkan ketulusan, semoga engkau hanya menjadi suatu legenda yang penuh dengan pelajaran bagi orang yang menggunakan akal dan pikirannya, serta bagi mereka yang berperasaan jernih tanpa pernah menanam keburukan di dalamnya....

No comments:

everyone is the chosen one