Friday, August 29, 2008

80% Anak-Anak yang Terlahir Sekarang Adalah Indigo*

*data dari buku The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku (Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)

Tentang anak Indigo

Kata Indigo dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah “warna biru tua yang diperoleh dari tumbuhan nila atau tarum”. Anak Indigo istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang paranormal bernama Nancy Ann Tappe dalam bukunya yang berjudul Understanding your life through color. Disebut olehnya sebagai indigo karena warna yang ada di sekitar anak-anak itu adalah warna indigo atau warna biru tua, yang dimaksud dengan warna yang ada disekitar anak-anak itu adalah warna kehidupan atau lebih dikenal dengan warna Aura, cahaya yang dipancarkan oleh manusia. Ya, anak-anak Indigo adalah mereka yang hidup dengan warna aura yang berwarna biru tua (indigo).


Lalu apa bedanya mereka dengan anak-anak lain? Mungkin pertanyaan itu juga yang mengakibatkan banyaknya terjadi spekulasi tentang fenomena kemunculan anak-anak ajaib ini, secara kasar perbedaan mereka dari anak-anak yang lahir sebelumnya adalah mereka terlahir dengan seperangkat atribut psikologis yang berbeda dan belum pernah terdokumentasikan sebelumnya. Secara fisik anak indigo memang sama dengan anak-anak lainnya, tapi mereka memiliki batin yang tua (old soul), sehingga mereka sering kali menunjukan suatu jiwa orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan jiwa konservatif yang biasa muncul didalam anak seusianya pada umumnya. Ditambah mereka juga terkadang memiliki kemampuan intuisi yang sangat mengagumkan, dan yang lebih jelas adalah mereka biasanya memiliki IQ yang berada pada tingkat diatas rata-rata. Tak ada penemuan yang jelas yang dapat menentukan kapan tepatnya untuk pertama kali anak indigo terlahir, tapi sebagian ilmuwan berpendapat pada akhir tahun 1970-an merupakan tahun kelahiran mereka yang pertama. Jumlah mereka dari tahun-ke-tahun semakin banyak dan hingga kini sampai pada angka 80%. Pada awal kemunculannya para anak indigo lebih dianggap sebagai penderita suatu kelainan atau penyakit, mereka sering di cap sebagai pengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder = gangguan hiperaktif kekurangan perhatian) atau ADD (Attention Deficit Disorder = gangguan kekurangan perhatian) juga Autis, sehingga mereka sering diusahakan agar sembuh dari suatu penyakit yang sebenarnya bukan penyakit.

Lee carroll & Jan tobber dalam bukunya The Indigo Children mengemukakan 10 ciri umum dari anak Indigo, yaitu:
1. Mereka memasuki dunia dengan perasaan keningratan (dan sering kali bertindak seperti itu)
2. mereka memiliki perasaan “pantas berada di sini”, dan terkejut jika orang lain tidak berpandangan seperti itu
3. harga diri bukanlah persoalan besar. Mereka sering memberitahu orang tua mereka tentang “siapa diri mereka”
4. mereka memiliki kesulitan dengan otoritas absolut (otoritas tanpa penjelasan atau pilihan)
5. mereka benar-benar tidak akan melakukan hal-hal tertentu; sebagai contoh, menunggu di antrean sangat sulit bagi mereka.
6. mereka merasa frustasi dengan sistem yang berorientasi pada ritual dan tidak memerlukan pemikiran kreatif.
7. mereka sering melihat cara-cara yang lebih baik dalam melakukan segala sesuatu, baik di dalam rumah maupun di sekolah, yang membuat mereka tampak seperti “perusak sistem”, tidak patuh pada sistem apapun.
8. mereka tampak antisosial kecuali jika mereka bersama dengan orang-orang yang sejenis dengan mereka. Jika tidak ada orang lain yang memiliki kesadaran yang sama disekitar mereka, mereka sering berpaling kedalam diri, merasa seperti tidak ada orang lain yang memahami mereka. Sekolah sering kali menjadi luar biasa sulit bagi mereka secara sosial.
9. mereka tidak akan bereaksi terhadap disiplin “rasa bersalah”
10. mereka tidak malu memberitahu anda tentang apa yang mereka butuhkan.

Selama ini fenomena anak Indigo terlihat lebih menyita dunia spiritual yang berujung pada magis atau para-psikologi dalam setiap pembahasannya, memang sepertinya terlihat aneh dan cukup mengherankan karena hal ini adalah suatu bentuk dari evolusi manusia yang paling mutakhir. Tak disangka sebelumnya kalau bentuk dari evolusi itu akhirnya dapat dirasakan dengan jelas pada masa sekarang ini, jelas sekali banyak pihak yang terkaget-kaget dan juga ada yang menyangkal, namun tetap saja evolusi itu terjadi dan tidak dapat dibendung. Coba katakan jika ada anggapan kalau para Indigo adalah para anak setan yang harus dimusnahkan dan haruskah kita menghabiskan seluruh generasi yang baru itu dengan melakukan genocide atau pemusnahan massa? Atau mungkin juga ada anggapan kalau para indigo merupakan para malaikat yang terlahir sebagai manusia, yah kalau memang begitu adanya pasti akan tercipta suatu kehidupan yang sangat baik di masa yang akan datang. Ada juga yang melihat bahwa para anak indigo merupakan suatu reinkarnasi dari orang-orang terdahulu, bukan hanya dari jiwa orang yang telah meninggal dunia di bumi tapi juga dari jiwa makhluk yang lain dari dimensi lain, biarlah pandangan itu diyakini oleh mereka yang meyakini, yang jelas mereka (para indigo) akan segera menguasai seluruh muka bumi.

Penulis membuat makalah ini hanya untuk memberikan pandangannya dalam menanggapi fenomena kelahiran anak-anak baru ini, yang menurut keterangan 2 buah buku yang memang membahas tentang anak indigo [The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku ( Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)] menyimpulkan bahwa pada saat sekarang ini tingkat kelahiran 80% merupakan kelahiran dari anak-anak indigo. Jumlah ini memungkinkan bahwa seluruh manusia pada beberapa tahun yang akan datang akan di dominasi oleh para indigo. Sekali lagi dikatakan bahwa kemunculan mereka tidak dapat di hentikan sama sekali. Fenomena itu akan tidak menjadi sesuatu yang luar biasa karena memang telah menjadi suatu standar baru dalam manusia. Suatu generasi yang telah disiapkan untuk menghadapi masa depan dengan segala macam tantangannya, mereka terlahir melewati batas budaya, ras, agama, kelompok, etnis dan segala macam batasan yang diciptakan oleh manusia.

Kelahiran mereka di atas bumi Indonesia tidaklah sebegitu menggemparkan seperti di dunia barat (bahkan lebih dianggap “meng-ada-ada”). Walaupun banyak kalangan akademisi yang mengakui hal tersebut. Mungkin karena masyarakat indonesia yang masih tertutup matanya terhadap berbagai hal yang terjadi di dalam dunia ini, adanya keterbatasan akses untuk mendapatkan informasi oleh masyarakat masih saja menjadi masalah utama yang dialami oleh bangsa ini, belum lagi kendala bahasa dimana literatur tentang penelitian Anak Indigo kebanyakan ditulis dalam bahasa asing, ditambahkan dengan masyarakat yang bersikap tidak mau tahu telah “melengkapkan ketidak-tahuannya”. serta juga tingkat pendidikan masyarakatnya, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan tidak ter-urus, disebabkan oleh pihak penyelenggara negara yang masih memiliki begitu banyak problema yang lebih penting dari pada menangani masalah anak-anak baru ini, atau mungkin mereka tidak perduli tapi yang mungkin lebih tepat adalah mereka tidak mengerti.

Lupakan masalah negara, rakyat kecil hanya menjadi korban dalam hal itu. Mari kembali ke awal permasalahan yaitu anak-anak baru yang disebut dengan indigo ini. Penulis dalam hal makalah ini membatasi pembahasan kedalam bagaimana penanganan dan menyikapi atas kemunculan anak-anak baru ini, semoga makalah yang masih banyak kurang dan memerlukan banyak kritikan ini dapat berguna dalam pembahasan masalah anak-anak baru ini. Pihak yang ditujukan adalah pihak guru, orang tua dan lingkungan secara khusus dan dan masyarakat yang luas secara umum.

Permasalahan Anak Indigo

Anak yang “aneh”, mungkin kata itu yang sering terucap untuk menggambarkan seorang anak indigo. Sebagian ada yang mengatakan kalau para indigo memiliki kemampuan meramal masa depan yang akurat, sebagian ada yang melaporkan kalau para indigo dapat melihat makhluk-makhluk kasat mata, yang lain mengatakan anak-anak baru ini berasal dari dimensi yang berbeda, ada lagi yang bilang kalau mereka merupakan anak-anak surga, pernah terdengar juga kalau mereka merupakan cikal bakal Dajjal (penjahat yang muncul di akhir jaman). Notradamus seorang peramal asal eropa, dalam ramalannya mengatakan kalau bumi akan dikuasai oleh manusia berserban biru (sebagian orang kini mengartikan kalau itu adalah para indigo), ada yang membuktikan kalau para indigo terlahir dengan kemampuan ESP (extra-sensory perception) yang kuat, ada yang yakin mereka adalah reinkarnasi dari para orang hebat dimasa lalu, ada juga yang beranggapan kalau para indigo adalah anak-anak yang terlahir dengan misi messianic (misi penyelamatan dunia), di Indonesia berdasarkan stigma yang beredar di masyarakat ada yang percaya kalau anak-anak ini “ada yang nempel” (setan, jin, makhluk halus, genderuwo, mak lampir, leak, iblis, kuntilanak, sundal-bolong, Dll) sehingga sering di bawa ke ahli nujum atau ke orang yang dianggap kuat ilmu spritualnya untuk dihilangkan sesuatu yang nempel-nya itu. Dan itulah sebagian kecil dari sangkaan-sangkaan dan kenyataan yang terjadi pada para anak indigo, tapi bagi penulis yang paling masuk akal adalah mereka muncul sebagai bentuk dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Tuduhan yang paling populer adalah mereka merupakan anak-anak yang menderita suatu penyakit dan harus disembuhkan. Baik di Amerika yang merupakan negara pencetus konsep indigo, maupun di seluruh dunia, para indigo sering disebut sebagai penderita ADD atau ADHD, karena mereka cenderung menunjukan gejala tersebut, tapi harus diingat kalau tidak semua anak indigo menderita ADD atau ADHD, begitu pula sebaliknya, setiap penderita ADD atau ADHD belum tentu seorang indigo. Indigo disangka sebagai penyakit karena sebelumnya hal tersebut belum pernah di dokumentasikan oleh masyarakat, lalu pada diri mereka muncul suatu perilaku yang sangat lain dari perilaku yang biasa ditunjukan oleh para anak yang terlahir sebelumnya, sehingga karena memiliki perbedaan maka disebut sebagai suatu yang tidak normal, mengalami gangguan dan sakit. Banyak terjadi kasus yang merupakan salah diagnosis dan juga menghasilkan suatu cara penyembuhan berbahaya yang dilakukan terhadap sesuatu yang sebenarnya bukan penyakit, berusaha menghilangkan sesuatu yang bukan merupakan penyakit dan mungkin juga itu merupakan suatu perangkat yang penting dalam diri seorang anak dapat mengakibatkan suatu kerusakan yang cukup membahayakan pada anak tersebut, alih-alih menyembuhkan malah celaka yang didapatkan.

Kemampuan sangat istimewa memang banyak ditemukan di dalam diri anak indigo dan kemampuan itu terkadang menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka, sering juga kemampuan itu tidak muncul ketika akan digunakan dalam kesengajaan. Kemampuan intuisi yang sangat tinggi jelas mereka miliki banyak laporan yang menyebutkan bahwa mereka melihat dunia melalui suatu paradigma dan kaca mata yang baru. Dalam hal spiritualitas mereka sangat dalam, sehingga memiliki kemampuan intrapersonal yang berbeda, dan merupakan suatu tingkat kesadaran diri yang berbeda.

Pandangan yang mengaitkan para anak indigo dengan sesuatu yang bersifat irasional dan cenderung mistis di indonesia sudah menjadi suatu stigma yang berlaku, karena memang terkait dengan kebudayaan masyarakat Indonesia itu sendiri, sebagian besar masih memiliki kebudayaan mistis yang kental. Dalam kelahirannya di negeri Indonesia masih banyak juga yang tidak perduli dengan fenomena ini dan juga banyak yang tidak mengetahui.

Banyak anak-anak Indigo yang tidak dapat menyalurkan keberbakatannya, banyak hal ini terjadi akibat dari pola asuh orang tua yang melihat keberadaan mereka sebagai sesuatu yang aneh dan menjurus pada penyakit, sehingga sering pada awal kemunculan mereka dikatakan sebagai anak yang aneh, anak yang tidak wajar dan sangat mengganggu keberadaannya. Juga karena keaktifannya mereka di cap sebagai anak yang tidak mau patuh dan juga anak yang bandel. Selalu merasa tertekan dan tidak merasa nyaman dengan keadaan dunianya, belum lagi penolakan yang terjadi secara terang-terangan terhadap mereka menyebabkan banyak tekanan yang mereka terima dalam awal masa kehidupannya, hal itu sangat berbahaya untuk keadaan mentalnya di hari depan jika tidak dengan segera ditangani.

Sekolah sering kali menjadi sebuah tempat yang menyulitkan bagi mereka, mulai dari pergaulan dan juga peraturan-peraturannya, sebagian dari mereka bisa melewatinya dengan langgeng dan sebagian lagi ada yang melewatinya dengan penuh permasalahan bahkan keluar dari sekolah, sekolah bagaimanapun juga merupakan suatu sarana yang sangat penting bagi mereka untuk dapat memperoleh pelajaran dan pendidikan. Pola pendidikan yang tidak menyesuaikan perubahan generasi yang terjadi menjadi salah satu kendala, kurikulum yang itu-itu saja (walau selalu diperbaharui tapi tetap tidak berkembang), gaya mendidik dari guru-guru juga merupakan masalah dalam menangani para anak Indigo.

Perlakuan yang tidak wajar juga sering mereka terima dari lingkungannya, mulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Ada yang memperlakukan mereka seperti sesuatu yang sangat luar biasa dan menakjubkan dan ada juga yang memandang mereka terlalu rendah seperti orang sakit dan harus dihindari. Perlakuan yang tidak wajar ini akan membentuk suatu individu dengan pribadi yang juga tidak wajar, Hal ini perlu diperhatikan terutama bagi para orang tua dan para pendidik. Terlalu cepatnya para orang tua dalam mengambil kesimpulan seorang anak mengalami kelainan dan juga ketidak sabaran orang tua dalam mendidik anaknya akan menimbulkan “ketidak beresan” bagi anak Indigo. Di jadikan bahan tontonan bagi orang lain, di cap sebagai anak aneh, di juluki orang gila, ditanyai nomor buntut, ditanya tentang peruntungan dan jodoh, hingga pendewaan berlebihan bagi mereka juga sering terjadi. Di bawa ke psikiater yang tidak mengerti tentang fenomena anak Indigo sehingga ditangani dengan salah, mungkin kata sang psikiater anak tersebut mengalami kerusakan neurotransmiter, atau tidak seimbangnya antara hemisfer kiri dan hemisfer kanan, dan amigdala yang terlalu aktif, sehingga oleh si psikiater diberikan terapi obat dengan valium, prozac atau Xanax. Dan jadilah anak indigo itu sakit akibat tuduhan dan pengobatan yang meracuni dirinya.

Sampai saat ini masih jarang sekali kajian-kajian tentang anak Indigo di Indonesia, keberadaannya saja masih dipertanyakan oleh para praktisi padahal keberadaannya sudah jelas di depan mata. Tidak berfungsinya peraturan terhadap perlindungan anak dan juga perilaku budaya dalam masyarakat yang masih sangat kolot tidak membantu sama sekali terhadap permasalahan anak Indigo. Masyarakat yang tidak perduli, negara yang tidak perduli dan keterbatasan tenaga, modal dan kesempatan dalam pelaksanaan penelitian merupakan faktor penghambat dalam penanganan fenomena anak Indigo di Indonesia. Padahal mereka merupakan aset yang berharga jika di arahkan dengan baik.

Menyikapi fenomena Indigo

Berbicara tentang anak Indigo di Indonesia ada satu nama yang sering tersebut, Orang ini adalah seseorang yang di indikasi sebagai Indigo, Umurnya sudah dewasa sekitar 23 tahun, dia adalah Vincent Liong, beberapa kali pernah dibahas oleh beberapa media massa baik cetak (kompas, 27 juni 2004 – liputan6.com 25 juli 2004) maupun elektornik (Kick Andy-metroTV dan Fenomena-TransTV) dalam pembahasan mengenai fenomena Indigo. Dia (Vincent) yang memiliki IQ antara 125 sampai 130 ini memiliki banyak prestasi dalam menulis, salah satu bukunya yang berjudul berteduh dibawah payung telah beredar sejak beberapa tahun lalu dan diterbitkan oleh penerbit terkemuka, walau menulisnya dalam umur yang masih muda tapi tulisannya sangat dikagumi oleh banyak kalangan. Selain itu tulisannya juga pernah dimuat di halaman pembuka dari buku seorang legenda sastra Indonesia yang tidak lain adalah Pramoedya Ananta Toer.

Kini Ia sedang menekuni suatu Ilmu baru yang merupakan ciptaannya sendiri yaitu Dekon-kompatiologi, yang di klaim sebagai alat penyembuh bagi orang yang memiliki permasalahan atau lebih tepat jika dikatakan sebagai suatu bentuk metode terapi baru ciptaannya sendiri. Kelebihan Vincent adalah dari cara pandangnya yang sangat tidak terduga sebelumnya, juga gaya berfilosofi-nya yang sangat mengagumkan. Dan hingga kini Ia masih melanjutkan studi pribadinya yang berhubungan dengan filsafat, psikologi dan spiritual. Didukung oleh orang tua, teman dan para ahli yang membantunya, manjadikannya semakin mulus berjalan di jalannya.
Kisah tadi adalah kisah dari salah satu manusia berciri Indigo yang beruntung memiliki kesempatan untuk “membumikan ilmu langit-nya”, sedangkan tidak banyak dari anak Indigo di Indonesia yang memiliki kesempatan dan dorongan dari orang-orang di sekitarnya untuk mengembangkan keberbakatannya seperti yang dimiliki oleh Vincent Liong.

Melihat jumlahnya yang kini kian mendominasi anak-anak maka pihak dari orang tua dan sekolah merupakan salah satu penentu dari baik atau buruknya perkembangan yang akan dialami para anak Indigo, pendidikan dan memberikan contoh yang baik dirumah merupakan tanggung jawab dari para orang tua, pemberian kasih sayang yang tulus akan membuat mereka merasa nyaman dalam lingkungan rumah. Dengan kepercayaan yang ditimbulkan oleh cinta tulus dari orang tua kepada anak, dapat sangat berguna menumbuhkan ketentraman dan rasa aman dalam diri seorang anak, sehingga si anak tidak perlu merasa cemas yang berlebihan dikarenakan banyaknya pertanyaan yang mereka miliki tentang dunia ini.

Memandang mereka sebagai sesuatu yang aneh adalah suatu yang merugikan diri anak, walau dalam kenyataannya ada juga perilaku mereka yang sangat tidak wajar, tapi pada dasarnya penerimaan para orang tua dengan melihatnya sebagai sesuatu yang wajar dapat meredam rasa tertekan yang biasa mereka terima. Dukunglah kreatifitas mereka walau ada kecenderungan bagi mereka untuk berubah-ubah dalam bidang yang ditekuninya, namun semua itu merupakan suatu proses pemilihan bagi mereka dalam menemukan tempatnya yang paling sesuai. Dra.Sawitri Supardi Sadardjoen (dalam Gatra, edisi:21, Jum’at 2 April 2004) menyarankan kepada orang tua untuk “menormalkan” anak-anak berdaya linuwih ini. Ia menyarankan agar “menumpulkan” kemampuan si anak. Caranya dengan memberi pengertian bahwa apa yang di ketahui oleh si anak itu semata-mata hanya faktor “kebetulan”.

Kesetaraan dari orang-orang di sekitarnya sangat mereka butuhkan, sikap mengecilkan mereka akan tidak membantu dalam mendidik mereka, baik dalam rumah maupun sekolah rasa kesetaraan antara orang tua dan anak atau pengajar dengan yang diajar sangat dibutuhkan sehingga mereka bisa merasa aman ketika mencoba untuk mengeluarkan dan mengembangkan keahlian juga kemampuan yang mereka miliki. Doronglah terus kekreatifan anak secara terarah dan tidak menekan, di bumbui dengan disiplin yang mantap dari orang–orang di sekitarnya juga disertai cinta kasih yang tulus, niscaya akan menjadikan mereka sebagai individu yang unggul. Dan yang terakhir adalah jadikan mereka sebagai mitra dalam membesarkan mereka, biarkan mereka mengungkapkan apa keinginan mereka kepada orang tua dan para orang tua diharap bisa menjadi pihak yang pertama kali mengerti tentang mereka bukan sebagai pihak penolak utama dari keberadaan mereka di dalam dunia ini.

Kesimpulan

Dalam makalah ini yang berjudul “80% anak-anak yang terlahir sekarang adalah indigo” saya menulis tentang kenyataan yang tengah terjadi di luar sana, sampai tulisan ini tertulis jumlah para Indigo yang terlahir semakin banyak, dan mereka sekali lagi akan mendominasi muka bumi. Tak ada yang bisa menahannya dan ini merupakan bentuk dari evolusi manusia. Mereka ada dan sebagian dari kita adalah mereka, terus bertambah hingga sebagian besar dari kita adalah mereka, masalah tentang fenomena Indigo menjadi gempar hanya pada awal kemunculannya saja dan setelah seperti sekarang ini semua itu hanya menjadi sesuatu yang hanya biasa-biasa saja. Sekolah khusus untuk anak Indigo di amerika sudah sangat banyak bertebaran dan jumlah sekolah itu juga akan semakin banyak dari waktu-ke-waktu mengingat para Indigo kini semakin banyak juga jumlahnya.

Mereka yang terlahir paling cepat sebagai Indigo mungkin kini sudah merasa biasa-biasa saja dengan keadaan mereka yang cenderung berbeda dengan orang-orang lainnya, tak ada lagi keistimewaan yang mereka rasakan dan cenderung biasa-biasa saja. Karena ternyata Indigo juga bukanlah sebuah fenomena terakhir, laporan paling kini menyebutkan kalau telah lahir manusia yang disebut sebagai Crystal Children, yaitu mereka yang terlahir dengan warna aura bening dengan kesadaran yang lebih baru lagi. Kemunculan mereka juga tidak bisa ditahan dan terus saja terlahir hingga menguasai seluruh muka bumi, mendominasi jumlah manusia, dan menjadi generasi penerus bagi umat manusia.

Mungkin ada benarnya bagi yang mengatakan kalau fenomena Indigo hanyalah sesuatu yang terlalu di besar-besarkan, jika seorang anak di indikasikan sebagai seorang Indigo, lalu kenapa? Hanya sebatas itukah?, “apa yang bisa mereka lakukan?” mungkin itulah yang lebih penting, apa yang bisa mereka lakukan untuk kesejahteraan lingkungan mereka, apa yang mereka sumbangkan dari “ilmu langit” mereka yang dibumikan, bukan hanya sekedar “Indigo” dan selesai. Para anak yang terlahir adalah generasi penerus dari keberadaan manusia di atas muka bumi ini, meneruskan peradaban hingga batas waktu yang telah ditentukan, sampai mereka pada akhirnya digantikan oleh generasi yang lebih baru lagi. Namun, Semua keadaan ini bagi penulis tetaplah sebuah tanda yang nyata dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Baca terusannya......

Wednesday, August 20, 2008

Psikopat

Ketika anda mendengar kata Psikopat, maka apakah yang terlintas di dalam benak anda? Jika yang terlintas dalam benak anda adalah sosok pembunuh berdarah dingin maka cepat-cepatlah buang pemikiran itu jauh-jauh sekarang, mungkin ada benarnya namun ternyata semua psikopat belumlah tentu seorang pembunuh. Psikopat secara ilmu psikologi adalah bentuk kelainan dan juga gangguan yang terjadi dalam suatu kepribadian mereka bertendensi narsistis dan juga antisosial. Dalam diri seorang psikopat tidak pernah mengakui bahwa dirinya sakit atau memiliki gangguan, memiliki kepercayaan diri berlebihan sehingga mampu mempengaruhi orang lain, tidak merasa salah atau menyesal akan setiap tindakannya karena memiliki “rasionalisasi pembenaran” terhadapnya, dengan kata lain apa saja yang mereka lakukan maka pasti ada saja pembenarannya, namun bagi orang-orang yang berada di sekitarnya sangat merasakan dampak dari keberadaan mereka yang cenderung merugikan.

Korban-korban dari kegiatan mereka yang merugikan itu bukanlah orang yang cenderung bodoh, dalam buku Hare, without conscience (seorang yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk studi tentang psikopat) menyebutkan bahwa dirinya sendiri yang merupakan seorang psikolog pernah menjadi korban dari “teror” seorang psikopat saat dirinya sedang bertugas kerja di penjara, hal tersebut dilakukan oleh napi yang menjadi pasiennya di penjara. Dari hal tersebut maka dapat diketahui bahwa kemampuan mereka dalam memanipulasi cenderung rapih dan sulit untuk terdeteksi. Memang ada banyak psikopat yang sudah ditangkap dengan berbagai macam kasus mulai dari pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, penganiayaan, pencurian, kekerasan, dan banyak lagi lainnya bentuk kekejian mereka, namun diluar sana ternyata 80% psikopat masih beredar bebas dan hidup disekitar kita (sumber Robert Hare). Bukannya menakut-nakuti, tapi memang benar begitu adanya. Yang menjadi masalah saat ini adalah semakin meningkatnya kasus kejahatan yang dilakukan oleh psikopat, hal ini menandakan bahwa dengan semakin bertambahnya penduduk bumi maka semakin banyak jumlah mereka karena ternyata dari hasil penelitian 1% dari total manusia dimuka bumi adalah psikopat. Dan menurut penulis angka 1% itu kini telah terlampaui.

Yang menyebalkan dari mereka itu adalah kerapihan mereka dalam menutupi kebusukkan diri mereka, contoh kasus yang baru-baru ini terjadi adalah tentang Ryan sang pembantai atau Mungkin kasus yang lebih dulu terjadi M. Gribaldy H. Yani, Ryan dalam kehidupan sehari-harinya terkenal alim, seorang guru mengaji, introvert, ramah, ditambah punya wajah yang tidak bersalah. Sedangkan Gribaldy adalah seorang polisi, tegas dan profesional. Yang jelas tidak ada yang salah dari penampakkan mereka sehari-hari dalam lingkungan bermasyarakat, Tapi, dengan berjalannya waktu terbongkar semua kebusukkan mereka dengan penemuan mayat di bawah lantai rumah mereka atau disekitar kediaman mereka, orang-orang yang mereka bunuh dengan sadis, ada yang dibakar, dimutilasi, disembelih, dianiaya, yah dizalimi-lah. betapa menyebalkan bukan????. Para psikopat itu memang tidak disangka dan juga tidak diduga dalam bertindak, berbeda dengan jenis penyakit kejiwaan seperti skizofrenia yang cenderung terlihat dengan jelas ciri-cirinya pada seseorang, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami waham, halusinasi, atau secara kasarnya seperti orang yang bermimpi dalam keadaan sadar, mungkin untuk sekali lihat orang awam juga mengerti bahwa ada yang tidak beres dalam pribadi yang menderita skizofrenia. Tapi malah mereka yang dikucilkan oleh masyarakat sebagai orang yang disebut gila dan membawa penyakit padahal belum tentu keberadaan mereka merugikan keadaan lingkungan masyarakat disekitarnya (atau mungkin masyarakat tidak suka hanya karena mereka tidak enak untuk dilihat), hanya saja karena para psikopat itu terlihat rapih dan normal sehingga mereka dapat diterima oleh masyarakat hingga dilapisan tingkat sosial yang paling tinggi seperti menduduki suatu jabatan penting dalam pemerintahan (contoh koruptor yang menyengsarakan rakyat). Padahal mereka itulah yang sakit sebenar-benarnya sakit, tapi mungkin karena tidak terlihat kebusukkannya mereka bisa lolos dan hidup damai sauntosa disekitar kita.

Laporan terbaru (Tempo Interaktif 7-8-2008) menyebutkan psikopat disebabkan oleh masalah psikososial dan biologis. Dalam artikel tersebut seorang psikiater, Limas Sutanto, mengatakan “psikopat merupakan gejala seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Hal ini ditandai dengan adanya keengganan untuk menaati norma-norma sosial umum yang biasanya ditaati orang dewasa ditengah kehidupan sehari-hari. Penyebab gangguan ada dua yaitu psikososial dan biologis. Psikososial biasanya rasa takut seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat dengan sesama manusia, dikarenakan perkembangan sosial, yang berakibat mereka merasa cemas, takut dan khawatir secara berelebihan. Sedangkan dari segi biologis biasanya terjadi karena adanya perubahan pada psikis kimiawi tubuh yang disebabkan oleh ketakutan, rasa cemas, frustasi, pada seseorang. Rasa cemas itu muncul karenanya ada kegagalan dalam struktur kepibadian yang bernama super-ego”katanya.

Dari artikel yang tertulis diatas maka dapat diketahui bahwa kemunculan para psikopat ini juga dipengaruhi oleh lingkungan tidak sehat tempat para calon psikopat itu hidup, ditambah dengan faktor biologis yang merupakan cenderung bawaan yang semakin menemukan ketepatannya dalam merubah suatu pribadi kedalam mode psikopat yang merugikan. Namun pendapat ini kurang disetujui oleh Robert Hare, beliua mengatakan bahwa penyebab dari kemunculan psikopat masih belum bisa diprediksi secara pasti apakah hal tersebut merupakan pengaruh dari faktor eksternal (kehidupan sosial, lingkungan) ataukah faktor internal (genetik, kerusakan fungsi otak), mungkin juga campuran dari keduanya yang saling bahu-membahu dalam menumbuh-kembangkan penyakit kepribadian itu pada diri individu. Ternyata penyebabnya masih tanda tanya besar dimata ahli yang satu ini, namun kini sudah banyak yang menyetujui (dengan pengamatan yang mendalam tentunya) bahwa faktor eksternal dan internal saling mempengaruhi dalam menjadi penyebab munculnya pribadi psikopat. Kalau dipikirkan pun masuk akal, karena sesungguhnya ciri-ciri psikopat itu sendiri dapat ditemukan pada setiap pribadi, namun yang membuatnya menjadi sesuatu yang menyeramkan adalah putusnya antara super-ego dengan id yang berada didalam kepribadian individu, menyebabkan dirinya menjadi (ego) seperti gelap mata dan bersikap bagaikan monster Masalah super-ego ini pengembangan dari apa yang telah disampaikan oleh Limas Sutanto dalam artikel diatas.

Mungkin seseorang bisa saja khilaf dan setelah itu insyaf, menyadari kesalahannya dan menyesal, namun tampaknya didalam diri seorang psikopat selalu ditemui khilaf saja tanpa pernah insyaf, ini yang menjadi pertanyaan, mereka selalu saja kambuh untuk melakukan kesalahan yang sama dan diulang-ulang tanpa pernah belajar dari apa yang pernah mereka alami, sebagai contoh kebanyakan dari para residivis kambuhan merupakan individu dengan kepribadian psikopat karena mereka tidak pernah kapok keluar-masuk penjara. Hal tersebutlah yang menjadikan mereka sebagai penebar masalah yang utama, mereka memiliki “rasionalisasi kebenaran” dalam setiap tindakannya dan setiap orang yang menjadi korbannya cenderung memaafkan kesalahan mereka bahkan lebih hebat lagi para psikopat mampu membuat para korbannya merasa bersalah karena kesalahan yang dilakukan oleh psikopat itu sendiri. Jelas mereka itu manipulatif sekali serta penuh dengan pesona. Bayangkan jika anda disakiti oleh seseorang namun orang yang menyakiti diri anda itu mengatakan dan meyakinkan diri anda hingga yakin, bahwa apa yang mereka perbuat pada diri anda itu merupakan hasil dari kesalahan diri anda sendiri dan anda meyakininya dan anda hanya bisa menyalahkan diri anda sendiri. Mereka kurang senang untuk langsung membunuh anda tapi apa yang mereka lakukan cenderung membunuh mental, mengeksploitasi pikiran anda dan menghancurkan kepercayaan diri anda, seperti itulah cara kerja mereka. Coba bayangkan makhluk seperti apa yang bisa melakukan hal seperti itu????

Sungguh mereka adalah pribadi tanpa nurani, pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri dan siap menjadikan setiap orang sebagai korban dari pencapaian tujuannya, tidak punya belas kasih buta secara emosi dan mengandalkan pikiran murni. Seperti manusia yang didalam dirinya telah berhasil mematikan superego, mengeksploitasi super-ego(moral) itu sendiri dibawah id(kepuasan) dan menjadikannya sebagai id-itu sendiri. Mereka cacat secara moral dan cacat karena tidak memiliki mata hati. Pribadi yang sudah rusak dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berikut beberapa ciri dari psikopat yang merupakan gabungan dari beberapa artikel dan juga buku Without Conscience :

1. Impulsif dan sulit mengendalikan diri.
Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli dengan apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan ayang akan dia raih. Pengidap psikopati juga mudah terpicu amarahnya karena hal-hal yang kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.

2. Sering berbohong, fasih dan dangkal.
Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar berbicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan dibidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta dan orang-orang tertipu karena percaya kepadanya.

3. Manipulatif dan curang.
Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".

4. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
Seorang psikopat seringkali dengan kepercayaan diri yang terlalu tinggi meyakinkan kita tentang kehebatan dan kemampuan mereka. Berdusta tentang apa yang mereka ketahui, melalui bualan mulut besarnya yang manis merayu dan mempengaruhi orang-orang yang menjadi korbannya.

5. Tidak punya rasa sesal, rasa berdosa dan rasa bersalah.
Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli. Bahkan dia akan menyatakan bahwa ia melakukan semua kesalahan itu dikarenakan sesuatu alasan yang menunjukkan bahwa dirinya berada pada posisi sebagai korban

6. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
Walau tidak semua psikopat dilaporkan memiliki prilaku bermasalah dari saat masa kanak-kanaknya namun dalam penelitian yang ada ternyata para psikopat cenderung merupakan anak-anak yang suka menyiksa binatang dimasa kecilnya, dan juga suka berbohong untuk mendapatkan apa yang dia inginkan selain mencuri dan berkelahi.

7. Kurang empati.
Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya. Dalam diri seorang psikopat seperti manusia yang buta warna sedang mengendarakan mobil dijalan dan kemudian bertemu dengan lampu merah, mungkin ia mampu mengetahui dimana letak lampu hijau, kuning atau merahnya walaupun ia tidak megetahui apa warnanya. Letak lampu untuk mewakili pikiran dan warna lampu mewakili emosi, dengan kata lain mereka adalah para pribadi yang tidak mampu merasakan penderitaan orang lain yang menjadi korbannya. Dan mereka tidak bisa mencerna nada emosi dalam suatu pembicaraan, sehingga setiap kata apa yang mereka dengar selalu serupa dengan artian kamus yang dangkal. Ciri ini merupakan ciri yang paling khas dalam diri seorang psikopat.

8. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
Para psikopat cenderung bertindak menyerang, mereka seperti sudha kehilangan rasatkut pada dirinya sehingga siapa saja atau apa saja yang mereka tidak sukai akan mereka tantang untuk berkelahi tanpa mengenal tempat dan waktu.

9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
Dalam banyak hal psikopat tidak memiliki tanggung jawab, seperti dalam berkeluarga seorang psikopat seringkali menelantarkan pasangan hidupnya, mereka tidak mampu menjadi panutan bagi anak-anaknya. menurut laporan seorang laki-laki psikopat menikah hanya untuk kesenangan belaka tanpa mau menafkahi ataupun menghidupi anggota keluarganya.

10. Tidak bertanggung jawab atas kewajiban.
Seperti yang telah disebutkan diatas seorang psikopat tidaklah dapat dijadikan teman hidup yang baik untuk seuatu bentuk kehidupan perkawinan, kebiasaan mereka yang tidak bias diatur merupakan kendala yang hanya membawa kesengsaraan bagi pasangan hidupnya, dan pasangannya ini merupakan korban dari perilaku psikopat pasangannya.

11. Tidak bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
Jika melakukan kesalahan para psikopat ini cenderung mencari kambing hitam atau menyalahkan keadaan, membuat yakin bahwa mereka mengambil untuk bertindak salah atas dasar paksaan dan bukan dari apa yang sebenarnya mereka inginkan. Tetap mereka adalah manipulator ulun gdalam bidangnya.

12. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Mereka cenderung malas bekerja dan memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik itu dengan cara menipu ataupun dengan cara memperdaya korban-korbannya.

13. Sikap antisosial di usia dewasa.
Pada usia dewasa akibat perilaklu antisosialnya menyebabkan mereka masuk kedalam penjara atau berurusan dengan pihak berwajib.

14. Persuasif dan memesona di permukaan.
Senjata utama psikopat kebanyakan adalah penampilan dan gaya bicara yang memikat serta meyakinkan, sebagian orang percaya kalau mereka memiliki daya tarik mistis (charming), namun hal tersebut merupakan suatu bentuk dari kepercayaan diri mereka yang cenderung sangat-sangat berlebihan.

15. Butuh stimulasi atau gampang bosan.
Mereka cenderung senang dengan hal-hal yang baru tanpa pernah menyelesaikan dengan baik hal-hal sebelumnya, merasa bosan dengan pekerjaannya lalu pergi untuk mencari yang lain, karena hal ini juga mereka jarang ada dirumah dan selalu berkeliaran diluar. Bukan suatu ciri yang hanya dimiliki oleh psikopat namun hal ini merupakan salah satu hal yang memperkuat nilai ke-psikopat-an seseorang.

16. Emosi dangkal.
Emosi yang dangkal, mereka tidak mampu merasakan perasaan orang lain, sehingga tidak ada empati yang mereka miliki terhadap para korbannya, dengan begitu mereka bisa melakukan sesadis apapun para korbannya.

17. Buruknya pengendalian perilaku.
Seperti halnya seseorang yang sudah kehilangan rasa takutnya, batas-batas moral yang berlaku didalam masyarakat tidak mampu menjadi bahan pertimbangan mereka atas bertindak, apa yang menjadi motif mereka hanyalah pemenuhan rasa haus mereka terhadap kepuasan.

18. Longgarnya perilaku seksual
Mereka (para psikopat) cenderung terlibat dalam kegiatan seks bebas dan juga sebagian mengalami penyimpangan orientasi seksual seperti homoseksual, biseksual, atau pedofilia.

19. Masalah perilaku dini (sebelum usia 13 tahun)
Pada masa kanak-kanak sebenarnya sudah dapat terlihat cikal-bakal dari seorang psikopat, dari masa ini seharusnya orang tua sudah mampu menanggulangi segala macam kekacauan perilaku mereka.

20. Tidak punya tujuan jangka panjang yang realistis.
Kecenderungan psikopat adalah hidup untuk kepuasan hari ini, mereka tidak berorientasi pada masa depan dan juga tujuan hidup, apa yang mereka lakukan adalah hanya untuk kesenangan mereka semata.

21. Pernikahan jangka pendek yang berulang.
Dalam hal pernikahan berhubung para psikopat ini tidak dapat dihandalkan dan juga tidak mampu bertanggungjawab maka perilaku kawin cerai sering terjadi dan ada kemungkinan untuk juga kembali kepada pasangan yang sama, hal ini mungkin dikarenakan para psikopat tidak mendapatkan korban baru untuk mereka jadikan induk semang dalam kegiatan menjadi parasitnya.

22. Kenakalan remaja.
Kenakalan remaja pada saat ini sudah berperilaku condong pada perilaku psikopati yang berkelompok, mereka mengadakan suatu kumpulan anak-anak berandalan yang kegiatannya cenderung bersifat antisosial dan juga merugikan diri mereka sendiri, pemakaian dan penjualan obat-obatan terlarang dan meminum minuman keras merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja.

23. Melanggar norma.
Kalau masalah melanggar norma seperti yang sudah tertulis diatas mereka tidak memiliki batasan apapun dalam bertindak.

24. Keragaman kriminal.
Seringkali para psikopat melakukan berbagai macam tindakan kriminal yang mengakibatkan mereka bolak-balik berurusan dengan pihak yang berwajib.

Dari ke 24 ciri yang tertulis diatas bukan berarti kita bisa dengan mudah menuduh seseorang yang ada di sekitar kita, namun hal yang cenderung menonjol pada pribadi psikopat adalah ketidak mampuan mereka untuk belajar dari pengalaman yang telah terjadi, mereka selalu merasa sudah cukup benar dengan dirinya sehingga apapun yang terjadi mereka tidak akan pernah bisa berubah, tidak adanya rasa menyesal dan tidak ada rasa insyaf dari apa yang pernah mereka perbuat. Melalui hal ini juga dapat diketahui bahwa seseorang psikopat cenderung sangat sulit untuk bisa disembuhkan bahkan ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil untuk bisa dilakukan. Walaupun ada yang pernah memberikan terapi kelompok dalam menyelesaikan masalah ini namun ternyata hal tersebut dapat dikatakan sia-sia, bahkan membuat mereka menjadi semakin liar dikarenakan kini mereka mengetahui trik-trik baru dalam bersosial melalui terapi kelompok tersebut.

Psikopat cenderung memanipulasi anda dan mengeksploitasi anda dengan memanfaatkan kelemahan dalam diri anda, entah itu rasa percaya diri anda, harga diri anda, dan juga segala macam bentuk kelemahan yang terdapat dalam diri anda, mereka memanfaatkannya untuk bisa mengendalikan anda secara fisik dan mental, sehingga anda merasa hancur lebur dalam menjalani kehidupan anda tanpa anda sadari. Cara yang terbaik untuk menyikapi hal ini adalah dengan pengenalan diri yang baik pada diri anda, ketika anda mengetahui apa saja titik lemah yang ada dalam kepirbadian anda maka anda dapat mewaspadai setiap usaha mereka untuk mengambil keuntungan dari padanya. Mungkin mereka datang dengan berbagai macam cara yang telah mereka manipulasi dan palsukan namun jika anda lebih mengenal siapa diri anda Insya Allah mereka tidak mampu untuk menjahati diri anda.

Karena mereka mungkin saja orang-orang yang berada di kehidupan anda atau mungkin itu adalah diri anda sendiri, atau juga yang menulis tulisan ini. Mengingat dari buku Hare, dalam terjemahan bahasa Indonesia seorang alih bahasanya mengatakan bahwa mereka (para psikopat) merupakan para pembenci dan pendengki, yang dalam Al-Quran disebutkan dalam ayat terakhir surat al-Falaq yaitu tertulis “ dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”(QS:113, ayat5). Yang menurutnya kejahatan mereka lebih parah dari pada kejahatan wanita-wanita tukang sihir dalam ayat 4 (satu ayat sebelumnya yang menandakan hal yang paling akhir disebut itu lebih parah dari hal yang disebut sebelumnya) dalam surat yang sama. Dan diyakini bahwa kedengkian yang tersimpan dalam hati memiliki daya rusak yang sangat pada kehidupan manusia, kerena merekalah para psikopat yang merupakan makhluk yang berjalan dengan sombong dan melakukan kerusakan diatas muka bumi.

Semoga kita semua bisa selamat dari kejahatan mereka, yang terpenting adalah sekarang bagaiman kita bisa menciptakan suatu bentuk lingkungan hidup yang mampu menciptakan para manusia yang berkualitas dimasa yang akan datang, bukannya ikut serta dalam memperkeruh keadaan yang kini terasa semakin keruh dari hari kehari. Intinya jangan pesimis dan berhentilah berputus asa, apapun yang kita lakukan selama itu baik dan benar serta tidak bertentangan dengan norma yang berlaku maka akan menyelamatkan diri kita sendiri. Teringat dari khotbah jum’at saat seorang khotib mengatakan bahwa yang akan menyelamatkan atau menyusahkan manusia adalah perilakunya terhadap sesama makhluk Tuhannya. Semoga kita semua selamat dari perilaku busuk mereka.

Baca terusannya......
everyone is the chosen one