Thursday, February 26, 2009

Manusia Indonesia ala Mochtar Lubis

Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah Mochtar Lubis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.

Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari tokoh psikologi Indonesia, Sarlito Wirawan, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.

Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokrisi. Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh. Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.

Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.

Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.

Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.

Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.

Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.

Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut ST Sularto (dalam Kompas) pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Baca terusannya......

Sunday, February 15, 2009

Melihat Manusia dari 3 Spektrum

Sering kali kita melihat manusia lain yang ada dalam kehidupan kita dengan cara pandang kita yang penuh dengan prasangka, bercampur dengan segala macam tuduhan dan juga penyelewengan dari kenyataan. Bukannya tidak boleh kita menilai orang lain namun setidaknya semua tuduhan itu haruslah didasari oleh segala macam kebenaran dan tidak bertujuan untuk membuka belang orang lain, jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain maka bercerminlah, dan kita yang sadar bahwa mengetahui kekurangan sendiri dibandingkan mencari kesalahan orang lain akan jauh lebih beruntung, dikarenakan dengannya kita akan dapat menjadi pribadi yang lebih baik dikarenakan dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri yang dengannya dapat melakukan tindakan-tindakan yang berguna untuk menjadi manusia yang lebih baik dikemudian hari.

Manusia jelas bukanlah makhluk yang dapat berdiri sendiri, manusia merupakan makhluk sosial, namun dilain sisi juga merupakan makhluk individu yang hidup di dalam alamnya. Berdasarkan pengakuan dari manusia sendiri mengenai keberadaannya dalam susunan jagad raya ini adalah sebagai makhluk yang berakal dan sempat mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lain dikarenakan akal dan pikiran mereka yang mampu digunakan untuk menentukan jalan mereka sendiri (free will). diatas bumi ini jelas manusia menjadi makhluk yang nomor satu, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, pembedanya adalah akal pikiran mereka yang dapat merubah keadaan mereka sesuai dengan kehendak bebas mereka, kemampuan untuk berkembang yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi membuat mereka dapat hidup dengan teknologi serta pengetahuan yang selalu dibanggakan.

Namun ditengah-tengah kesombongannya, manusia juga merupakan makhluk yang sangat bergantung terhadap alam. Jelas manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa alam, seperti udara yang mereka butuhkan untuk bernapas, lalu air untuk mereka minum, alam juga menyediakan makanan bagi manusia, matahari dengan sinarnya yang memberikan kehangatan, gravitasi yang menjaga kedudukan manusia diatas bumi sehingga tidak terpental jauh keangkasa luar karenanya. Tanpa itu semua manusia tidak dapat hidup dan tidak mampu bertahan serta berkembang biak, dari sini maka dapat diketahui bahwa manusia sangat bergantung terhadap alam. Diketahui juga bahwa alam tidaklah bergantung barang sedikitpun terhadap manusia, kehadiran manusia dewasa ini bagi alam cenderung hanya sebagai perusak, mengeksploitasi alam guna mendapat keuntungan darinya tanpa pernah membalas kebaikan yang telah diberikan alam kepada manusia. Manusia menambang, menggali, meruntuhkan, menebang, membakar, yang dari kesemuanya mengakibatkan kerusakan bagi alam sendiri dan keuntungan bagi manusia. Walau tidak semua manusia melakukan kerusakan terhadap alam, dan masih banyak ditemui manusia-manusia yang mau mengabdikan kesementaraannya terhadap alam dalam kehidupan yang fana ini.

Setiap manusia pastilah memiliki kecenderungan untuk menjadi jahat ataupun baik, berbagai macam faktor jelas mendukung kualitas manusia entah itu dari dalam (internal) atau dari luar (eksternal). Manusia terlahir dengan bakat yang dibawanya yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Manusia adalah makhluk yang paling sulit diterka dalam segala tindakannya, karena selain akal mereka juga memiliki perasaan atau hati. Bentuk sulit diterkanya manusia terlihat dari perubahan jaman yang terjadi pada lingkungan hidup manusia, manusia yang berkelompok atau yang biasa disebut sebagai masyarakat bersifat dinamis dalam segala hal, tidak ada yang bertahan selamanya, semua berubah, sehingga ketetapan yang ada adalah perubahan itu sendiri.

Hal yang telah dituliskan diatas adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain. maksud dalam tulisan ini adalah memberikan masukan dalam suatu cara untuk mengartikan manusia-manusia yang ada di dalam kehidupan kita. Sering kali kita tidak mengerti dengan maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang yang ada disekitar kita, sehingga kita merasa heran ataupun bingung dalam menentukan sikap terhadap mereka, namun setidaknya kita harus mengerti tentang orang yang sedang kita perhatikan itu berdasarkan tiga hal yang akan penulis coba jelaskan dalam tulisan ini, ketiga hal itu adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain (universal), manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain (kelompok), dan manusia sebagai makhluk yang jelas berbeda dari manusia lainnya (unik/individu).

Seringkali kita melihat manusia hanya dari satu sisi, melihat kesalahan yang mereka lakukan dan menilainya dengan serampangan, memberikan label permanen terhadap dirinya tanpa pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pemaknaan terhadap orang lain sering kali yang terjadi hanyalah bias belaka yang diliputi oleh persangkaan-persangkaan yang belum tentu benarnya, bukan hanya merugikan siapa yang disangkakan melainkan juga akan merugikan orang yang memiliki prasangka tersebut. dalam keadaan yang sering disebut sebagai keadaan salah sangka ini seseorang sering kali mengalami salam paham yang mengakibatkan buruknya hubungan yang terjadi didalam lingkungan sosial. untuk mengatasi hal tersebut ada baiknya kita sebagai manusia dalam menilai manusia lainnya dilandasi oleh 3 spektrum seperti yang telah disebutkan diatas sehingga apa yang telah kita nyatakan tidaklah terlalu jauh dengan kenyataannya, dan juga tidak hanya merupakan persangkaan kosong yang subjektif belaka.

Melihat manusia sebagai bagian dari suatu kelompok tertentu jelas sangat didasari dengan sifat manusia yang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin terlepas dari kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Kecenderungan manusia untuk dipengaruhi dan juga saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam berinteraksi sosial merupakan salah satu faktor penting dalam diri kita ketika melihat satu sosok manusia untuk dinilai, namun dalam kenyataannya dalam suatu kelompok cenderung ada yang disebut dengan stereotip yang merupakan suatu sangkaan yang cenderung belum benar adanya. Stereotip pada dasarnya terbentuk akibat suatu bentuk generalisasi yang dilakukan secara membabi-buta terhadap suatu kelompok tertentu, baik itu etnis, agama, ras, budaya, bangsa, partai politik, atau yang lainnya oleh masyarkat. Namun memang pada kenyataannya kehadiran stereotip memang bukanlah hanya merupakan suatu isapan jempol belaka, ada juga bentuk empiris yang terjadi diakibatkan suatu pengalaman dan juga pengamatan yang telah berlalu bersama dengan waktu. Tidak dapat dikatakan bahwa stereotip selalu salah, namun dalam melihat manusia itu sendiri tidak semudah kita melihat sebuah benda, dalam keadaan ini tidak seorangpun dapat melihat dalam diri manusia yang paling dalam, manusia dilindungi oleh tubuhnya dalam menyembunyikan aktifitas mental yang dimilikinya. Sehingga tidak ada yang mampu melihat dan menerka apa yang akan dilakukan oleh seseorang pada kemudian saat. Manusia merupakan makhluk yang sulit untuk diterka dikarenakan mereka memiliki akal pikiran namun selain itu juga dikarenakan manusia memiliki perasaannya yang unik terhadap segala sesuatu yang dihadapinya.

Dalam suatu kelompok pastilah berlaku suatu peraturan-peraturan atau norma baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan dari norma dan peraturan itu akan menumbuhkan suatu karakter yang bersifat umum bagi anggota kelompok tertentu. Dari sinilah kita bisa menilai manusia lainnya, dikarenakan lingkunagn hidup tempat ia berinteraksi sehari-hari pastilah merupakan suatu rujukan bagi dirinya dalam berperilaku sehari-hari. Baik itu gender, ras, agama, suku, bangsa, paham politik dan lain-lain. manusia memiliki sifat dasar yang menuntut penerimaan dari lingkungannya, kebanyakan manusia mengerti bahwa jika mereka ingin diterima dalam kelompok mereka, maka yang harus dilakukan adalah dengan memenuhi harapan kelompok, walau tidak jarang seseorang menolak tuntutan masyarakat terhadap dirinya walau hal ini hanya terjadi pada segelintir orang saja, namun akibat dari itu semua adalah suatu penolakan dari masyarakat dan juga alienasi.

Maka dari itu dapat dilihat dan dinilai mengenai manusia dari apa yang ada dalam lingkungan tempat mereka hidup, peran-perannya dalam lingkungan dan juga hasil interaksi yang ia lakukan dengan manusia lain didalam lingkungannya tersebut. dalam melihat manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain dapat dinilai juga dari proses-proses mental yang mereka miliki seperti prinsip dalam beragama dan juga pandangan politik. Hal ini dapat dikenali dari simbol-simbol yang mereka gunakan dalam memperkenalkan apa yang mereka anut terhadap dunia diluar dirinya. Maka mereka yang melihat dapat meng-kira-kira apa yang menjadi dasar perilakunya. Demikianlah sedikit dari cara melihat manusia dari sisi manusia sebagai bagian dari kelompok.

Maka yang terakhir adalah melihat manusia sebagai makhluk yang unik, manusia sebagai pribadi, manusia sebagai sesuatu yang tidak ada duanya. Bahkan dua orang yang kembar secara identik pun tidak memiliki kepribadian yang sama. Manusia masing-masing memiliki dimensinya sendiri, dimana dimensi mereka dengan dimensi manusia lainnya hanya memiliki kemiripan namun bukan kesamaan secara persis. Demikian halnya dengan fisik mereka. Jadi jumlah jenis manusia adalah sebanyak jumlah manusia itu sendiri. menghargai manusia sebagai makhluk yang unik pada dasarnya merupakan hal yang sulit bagi manusia itu sendiri, kemanusiaan adalah suatu bentuk penghargaan terhadap setiap jiwa dan juga terhadap segala potensi-potensinya.

Dalam melihat manusia sebagai makhluk yang unik dapat diterapkan dengan melihatnya sebagai bagian dari lingkungan, interaksinya terhadap gejala-gejala yang bersifat umum. Karena langkah yang diambil manusia dalam menghadapi sesuatu pada dasarnya ada yang bersifat umum dan khusus, memfokuskan permasalahan pada hal yang khusus sering kali bersifat subjektif namun dapat menjadi suatu landasan yang ampuh dalam menilai diri seseorang jika dipadukan dengan apa yang dianut dalam kehidupan mentalnya sebagai garis besar dasar filsafat dan juga pemahaman.

Bersama dengan kekurangan dan kelebihannya manusia hidup dalam dunia ini, dan berusaha menjadi seperti apa yang mereka harapkan, walaupun harapan itu merupakan hasil ciptaan yang dipengaruhi oleh pihak lain diluar dirinya, namun tetap yang menjalankan semua itu adalah diri mereka sendiri-sendiri. manusia adalah makhluk yang memiliki potensi yang tidak dapat diduga, apa yang terjadi hari ini pada dirinya memiliki kemungkinan menjadi berbeda pada hari yang bereikutnya, namun ada manusia yang memiliki kekonsistenan dalam dirinya, entah itu yang membabibuta atau yang bersifat membangun. Manusia adalah makhluk dengan moral namun terkadang manusia juga bisa disebut sebagai binatang yang berakal. Gejolak dalam diri manusia akan selalu tercermin dlama tingkahlakunya sehingga, dari tingkahlaku akan terlihat apa yang sebenarnya terjadi didalam diri manusia itu sendiri, apa yang menjadi pokok permasalahannya dan apa yang menjadi tujuannya.

Semoga dengan tulisan yang tidak seberapa ini akan dapat memberikan sedikit inspirasi kepada para pembaca, masukan kritik dan seran jelas sangat dibutuhkan sehingga apa yang tertulis sekarang ini dapat dicari tahu dimana kesalahan dan kebenarannya.


Baca terusannya......

Thursday, February 5, 2009

Psikologi Transpersonal

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.

Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak.

Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.

Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik. Dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia maka era milennium ini yang merupakan era aquarian benar-benar telah terwujud.

Baca terusannya......

Ujub, Riya’ dan Takabbur dalam Psikologi Islami

Mengingat tulisan dari Saudara Bahril Hidayat, beliau mengatakan dalam tulisannya yang berjudul Definisi skizofrenik. Didalamnya terdapat: “salah satu ciri utama (gejala positif) gangguan utama skizofrenia adalah delusi, singkatnya makna delusi sangat dekat dengan kesombongan jika dikaitkan dengan agama, proses dinamika delusi berjalan pada 3 tahap, Unobserveable Phase (ujub), Preobserveable Phase (riya’) dan Observeable Phase (takabbur). Saya tidak menemukan delusi yang terbesar bagi seseorang selain 2 hal. Pertama meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah pada ibadah fardhu (wajib), kedua, berlaku sombong karena merasa banyak ibadah kepada-Nya. Jika seseorang termasuk pada salah satu jenis diatas, maka dia hanya tinggal menunggu masa-masa datangnya psikotik (pribadi terbelah) dalam hidupnya. Atau jika Allah lebih murka kepadanya maka azab Allah dihari pembalasan jauh lebih pedih apabila dia meninggal dalam keadaan belum bertobat.”


Sebelumnya beliau juga menuliskan "Skizofrenik menggerogoti fungsi kesadaran (insight) intelektual, emosional, dan spiritual secara perlahan-lahan. Tak jarang gejala skizofrenik muncul dari peningkatan suatu kesadaran (misal, intelektual) tapi diikuti oleh penurunan kesadaran lain (misal, emosional). Sebagian orang jenius justru mendapat pemikiran yang orisinil dan gemilang melalui tahap awal skizofrenik tersebut. Kesadaran intelektual meningkat (misal, muncul teori atau temuan baru) namun kesadaran emosional-spiritual menurun (misal, delusional of grandeur; penurunan kemauan; penurunan naluriah). Tahap demi tahap itu berlangsung terus menerus hingga akhirnya penurunan tersebut mencapai keadaan distorsi mental yang luar biasa. Apabila kondisi itu sudah terjadi maka skizofrenik berhasil menguasai seseorang. Pada saat itu individu telah kehilangan dirinya, yaitu hilangnya kesadaran intelektual, emosional, dan spiritual secara tidak masuk akal. Bahkan tidak masuk akal bagi penderita skizofrenik lainnya, meski klasifikasi diagnosis tipe skizofrenik (delusi dan halusinasi) mereka sama."

Jelas dari penjelasan yang telah diberikan secara lengkap (bagi saya) oleh Bahril Hidayat memberikan gambaran mengapa menusia menjadi sakit secara kejiwaan dikarenakan manusia tidak bersikap adail terhadap dirinya sendiri atau dengan kata lain melakukan tindakan yang menganiaya diri sendiri. dalam tulisan yang akan jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritikan ini, penulis akan mencoba untuk memberikan tanggapan terhadap "kegilaan" berdasarkan apa yang telah dituliskan oleh Bahril Hidayat.

seperti apa yang telah dijanjikan oleh alam kepada manusia dimana segala tindakan yang dilakukan oleh manusia akan memberikan efek kembali atau "aksi min reaksi", dimana hukum kekekalan energi berlaku, tidak ada energi yang hilang melainkan berubah bentuk menjadi energi yang lain. janji alam sebagai contoh adalah dalam hal menanam tanaman dimana seorang petani yang menanam padi dengan benih padi maka akan memanen padi, tidak mungkin sang petani yang pergi kesawah dan menanam benih padi akan mendapati pohon kesemek atau juga durian di atas petak sawahnya. demikian juga halnya dengan seseorang yang menanam benih tomat pada ladang maka dengan waktu yang berlalu maka yang akan dia dapatkan diladangnya adalah pohon tomat dengan buah yang merah, bukan pohon jambu atau juga pohon mangga. seperti itulah janji alam kepada kita, apa yang kita peroleh (dalam artian apa yang kita lakukan) akan menjadi sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita tanam (dalam artian apa yang kita lakukan).

seperti apa yang telah dijanjikan oleh alam kepada manusia dimana segala tindakan yang dilakukan oleh manusia akan memberikan efek kembali atau "aksi min reaksi", dimana hukum kekekalan energi berlaku, tidak ada energi yang hilang melainkan berubah bentuk menjadi energi yang lain. janji alam sebagai contoh adalah dalam hal menanam tanaman dimana seorang petani yang menanam padi dengan benih padi maka akan memanen padi, tidak mungkin sang petani yang pergi kesawah dan menanam benih padi akan mendapati pohon kesemek atau juga durian di atas petak sawahnya. demikian juga halnya dengan seseorang yang menanam benih tomat pada ladang maka dengan waktu yang berlalu maka yang akan dia dapatkan diladangnya adalah pohon tomat dengan buah yang merah, bukan pohon jambu atau juga pohon mangga. seperti itulah janji alam kepada kita, apa yang kita peroleh (dalam artian apa yang kita lakukan) akan menjadi sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita tanam (dalam artian apa yang kita lakukan).

Suatu aliran psikologi yang sedang populer dan cenderung efektif pada masa dewasa ini adalah aliran Psikologi Islam dimana menjadikan ajaran agama Islam sebagai dasarnya, dinamakan psikologi Islam dikarenakan memang pada dasarnya apa yang ada didalamnya merupakan hasil pencitraan Islam dalam dunia psikologi yang diyakini oleh para kalangannya bahwa fungsi Islam adalah Rahmatan Lil Alammin (rahmat bagi semesta alam). Filsafat dasar dari psikologi Islam adalah Tauhid atau yang biasa dikatakan sebagai Laillahailallah (tidak ada Tuhan Selain Allah). Didalam Islam sendiri kata sombong merupakan suatu sifat yang buruk, dikarenakan kesombongan merupakan suatu tindakan yang sangat tidak layak ada pada setiap makhluk dikerenakan satu-satunya yang berhak untuk sombong hanyalah Allah, manusia tidak memiliki daya apapun, sehebat apapun seorang manusia tetap saja dia membutuhkan yang namanya makan, minum, pakaian dan segala macam kebutuhan pokok. Ketergantungan manusia terhadapa tempat hidupnya merupakan salah satu alasan mengapa manusia tidak boleh melakukan kesombongan sedikitpun juga. Segala yang dimiliki manusia entah itu ilmu, kepandaian dan juga harta benda baik itu tubuh dan segala macamnya, berasal dari Allah sebagai suatu titipan dalam kehidupan dunia ini yang hanya bersifat sementara saja.

Skizofrenia merupakan bentuk gangguan pada kejiawaan yang menyerang fungsi kesadaran emosi, intelektual dan spiritual seperti yang telah dijelaskan diatas dikarenakan pada saat mengalaminya seseorang menjadi sangat jauh dari kenyataan atau tidak melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. Terjadi pembelahan dan juga distorsi didalam alam sadar, yang bersumber dari bawah sadar. Tidak dengan cepat seseorang mencapai proses skizofrenia, melainkan keadaan ini dicapai dengan melalui beberapa tahapan, tidak serta-merta menjadi rusak melainkan dengan tahapan sedikit demi sedikit yang menggerogoti diri.

Dalam hal ujub, riya’ dan takabbur ketiganya jelas merupakan bentuk dari kesombongan karena berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia ujub merupakan rasa bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan, kemudian riya’ adalah rasa bangga karena telah berbuat kebaikan, dan takabbur adalah merasa diri mulia (hebat, pandai dan sebagainya). Dari ketiga hal itu tidak satupun yang memikirkan tentang adanya pengaruh lain yang menunjang keberhasilan diri seseorang, ketiganya merupakan perasaan teramat bagga terhadap diri sendiri yang membuat seseorang menganggap bahwa segala yang ada pada dirinya merupakan hasil kehebatannya sendiri. Dengan kata lain adalah sombong. Berbagai macam sikap sombong disebut sebagai pintu menuju psikotik dikarenakan dengan perasaan demikian maka seseorang didalam kepalanya telah menyangkal kebenaran. Sebagai contoh jika seseorang memperoleh suatu keberhasilan maka ia menganggap keberhasilan itu adalah hasil dari kehebatannya sendiri, besar kepala, dan melupakan orang-orang yang selama ini mendukung diirnya dalam proses pencapaian keberhasilan itu.

Dengan adanya penyangkalan ini maka seseorang dengan kegembiraan akan keberhasilannya melakukan pemutusan hubungan dengan para penunjang dirinya, ia tidak lagi menganggap bahwa mungkin sahabat, orang tua, teman-teman, saudara, atau sebagainya sebagai penunjang bagi keberhasilannya. Perasaan merasa diri adalah pusat dunia, kesombongan yang sakit. Dalam psikologi barat keadaan mental seperti ini disebut sebagai narsistis, diperkenalkan pertama kali oleh freud yang diambil dari mitologi yunani tentang seorang pemuda yang jatuh hati kepada bayangannya sendiri diatas danau, ia terus memandanginya, dan mengagumi dirinya secara terus menerus. Manusia membutuhkan kebutuhan akan penghargaan namun jika seseorang hanya ingin dipuja secara terus-menerus maka yang terjadi adalah suatu bentuk penyakit yang melekat pada kepribadian, bayangkan saja jika ada manusia yang menginginkan selalu menjadi pusat perhatian, tidak perduli dengan orang lain dan hanya berorientasi pada dirinya sendiri, maka yang terjadi adalah penebaran kerusakan bagi lingkungan, dimana diri narsis (ujub) menjadi sumbernya.

Dengan kesombongan manusia telah memilih psikosis sebagai jalan hidup dikarenakan 2 hal, pertama Ia mendustai dirinya secara sadar dan kemudian dia mengakui kedustannya itu sebagai satu-satunya kebenaran. Dan sudah menjadi bawaan dari dusta bahwa pada akhirnya akan ditutupi oleh dusta yang lain. Dengan demikian maka akan semakin banyak manipulasi didalam kepalanya sendiri sehingga mengakibatkan hilangnya diri dari realitas, terlempar dari kenyataan dan menuju alam skizofrenia, tersiksa akan suatu dusta yang berada didalam kepalanya sendiri yang diyakini oleh diri sendiri sebagai kebenaran.

Dalam psikologi Islam dikarenakan didasari pada AlQuran dan Hadist maka setiap manusia diharuskan barsyukur kepada nikmat yang telah diberikan oleh Allah, dan pelaku Ujub, Riya’ dan takabbur merupakan bentuk ketidak-bersyukuran seseorang terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah, dimana pribadi tidak menganggap ada campur tangan kuasa tuhan terhadap apa yang telah diperolehnya. Sedangkan dalam pandangan Islam sendiri Allah merupakan sumber kekuatan dimana semua makhluk bergantung kepadanya, dan Allah tidak membutuhkan makhluknya barang sedikitpun, Allah Maha Kaya lagi Maha Esa. Orang yang sombong merupakan mereka yang kufur terhadap nikmat Allah, mereka yang menganggap diri lebih dari orang lain, mereka yang menganggap dirinya telah banyak beribadah kepada Allah, mereka yang telah mengkultuskan diri sebagai ahli surga, dan kesemuanya adalah perbuatan-perbuatan yang keji. sedangkan Allah tidak pernah menganiaya hamba-hambanya melainkan mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.

Paham dalam Islam tidak menganggap umat manusia sebagai pusat alam semesta, seperti yang telah dijunjung oleh paham humanis, melainkan Islam memandang bahwa setiap manusia itu sama dihadapan Allah dan hanya Allah sajalah yang berhak untuk dipuja dikarenakan segala sesuatu yang ada didalam alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Allah dan semua berada di bawah Kuasanya tanpa kecuali. Sedangkan bagi pribadi yang sombong maka yang terjadi adalah perasaan diri hebat jika dibandingkan apapun, dan bahkan merasa diri lebih hebat dari Tuhan. Perbuatan yang sangat mengerikan itu akan membawa manusia pada posisi yang tidak menyenangkan bagi dirinya, bukan karena Allah memberikan azab kepada dirinya melainkan dirinyalah yang menganiaya dirinya sendiri, seperti janji alam yang telah disebutkan diatas berperilaku sombong adalah ibarat menanam pohon penyakit dimana pada akhinya akan menjadikan kita manusia yang sakit secara mental. Perilaku yang kita lakukan sekarang berserta dengan kekuatan hatinya merupakan bakal “buah” yang akan kita peroleh dikemudian hari.

Penanggulangan Ujub, Riya’ dan Takabbur berdasarkan Psikologi Islami

Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)". Menunjukkan bahwa pada dasarnya dalam Islam jika dipahami secara mendalam maka akan ada obat-obat penyakit hati didalam ayat-ayat Al-Quran. Seperti yang disebut oleh ibnul Qayyim tentang obat dari riya’ dan takabbur yang keduanya merupakan ayat ke-5 dari surat al-fatihah (pembukaan), surat yang dibaca didalam setiap awal rakaat saat melaksanakan Shalat. Kata “Hanya kepada-Mu kami menyembah” sebagai obat dari penyakit hati dari riya dikarenakan hanya kepada Allah saja kita menyerahkan segala sesuatu yang kita lakukan, maka dalam bertindak kebaikan terkadang manusia merasa ingin dilihat oleh orang lain yang pada akhirnya akan diberikan pujian dan juga sanjungan, namun dengan adanya kata “Hanya kepada-Mu kami menyembah (mengabdi)” maka segala sesuatu kebaikan yang kita lakukan bukanlah untuk mencari ketenaran dan juga sanjungan dari orang lain melainkan hanya semata-mata karena Allah. Karena memang hanya Allah-lah yang telah mengijinkan kita untuk melakukan kebaikan tersebut dan atas kuasa-Nya-lah kita mampu beramal soleh dan beribadah.

Lalu untuk penyakit takabbur maka obat yang diperoleh adalah kata “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan dan diri kita tidak mampu untuk menolong diri kita sendiri tanpa adanya ijin dari Yang Menciptakan diri kita, karena ubun-ubun kitapun berada didalam genggaman-Nya, tidak ada suatu kuasapun selain kuasa Allah. Maka tidak pantaslah manusia melakukan hal yang takabbur, membangga-banggakan dirinya, merasa paling hebat, merasa paling benar dan merasa paling suci. Maka dengan kesadaran bahwa hanya Allah-lah sebaik-baik penolong dalam kehidupan kita, akan menumbuhkan sifat stabil dalam diri kita, dimana kita tahu bukan diri kitalah yang sebenarnya pantas untuk dipuji, melainkan hanya yang Menciptakan kita, bukan diri kitalah yang mengakibatkan kebaikan bagi orang lain melainkan hanya saja Allah menjadikan kita sebagai perantara dari apa yang telah kita lakukan kepada orang lain.

Namun seperti yang diawal dikatakan oleh Bahril Hidayat dimana Ujub merupakan fase awal dari delusi yang dekat dengan kesombongan itu. Dimana ujub merupakan perilaku bangga terhadap diri sendiri, walau ujub tidak dapat terobservasi, melainkan perasaan yang bangga dan memuji diri sendri yang terletak didalam proses mental manusia, sehingga dikatakan sebagai Unobserveable Phase. Ini adalah titik awal dari perilaku riya’ dan takabbur, dan bagi penulis sendiri obatnya adalah pada surat yang sama yaitu al-fatihah, pada ayat 1, 2, 3 dan 4. dimana disana tertulis “Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang(1) Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam(2) Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang(3) Yang mengusasi hari pembalasan(4)”. Disini tertulis tentang Ar-rahman dan Ar-rahim sebanyak masing-masing 2 kali, walau pada sebagian umat menganggap bahwa “bismillah” bukan merupakan bagian dari surat namun tetap dalam mengawali pembacaan tetap akan dibaca kata “bismillah” sebagai pembukaan. Yang menandakan bahwa Allah maha pengasih dan Maha penyayang, tidak mungkin Allah menyiksa hambanya, melainkan sebagai suatu cobaan yang akan berbuah kebaikan atau merupakan hasil dari perbuatan keji yang dilakukan oleh hamba-hambanya. Segala puji bagi Allah, itulah mengapa kita diharuskan mengucapkan Alhamdulillah pada saat kita menerima kebaikan, karena segala kebaikan yang kita terima adalah rahmat dari Allah, bukan merupakan suatu hasil dari kehebatan kita seorang diri, mengucap syukur kepada yang Maha pengasih merupakan suatu jalan pintas untuk menangkal terjadinya ujub didalam proses mental kita. Maka dengan sendirinya kita akan menyadari bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dibandingkan dengan kuasa Allah, hanya Ia yang berkuasa, dan hanya Ia yang berhak dipuji.

Maka dengan mengingat Allah merupakan obat paling mujarab, dikarenakan hanya dengan berpegang kepada sesuatu yang kekal maka manusia akan selamat dalam melintasi lautan dunia yang sementara ini. Sesuatu yang kekal dan tidak pernah berubah jelaslah bukan makhluk dengan wujud, atau juga bukan dengan teori yang akan berubah dengan adanya pembaruan dan berjalannya waktu, namun kepada ketetapan-ketapan dan kebenaran-kebenaran, yang hanya bias dipahami oleh hati yang bersih Dengan begitu maka kita akan terjauh dari penyakit hati dan juga penyimpangan-penyimpangan dalam kejiwaan kita, sehingga kita tahu dimana kita berdiri, dan mengetahui kepada apa kita berpegang. walau godaan dalam diri manusia akan selalu ada, namun itulah Jihhad yang terbesar, yaitu berperang melawan nafsu di dalam diri sendiri.




Baca terusannya......
everyone is the chosen one