Thursday, February 5, 2009

Ujub, Riya’ dan Takabbur dalam Psikologi Islami

Mengingat tulisan dari Saudara Bahril Hidayat, beliau mengatakan dalam tulisannya yang berjudul Definisi skizofrenik. Didalamnya terdapat: “salah satu ciri utama (gejala positif) gangguan utama skizofrenia adalah delusi, singkatnya makna delusi sangat dekat dengan kesombongan jika dikaitkan dengan agama, proses dinamika delusi berjalan pada 3 tahap, Unobserveable Phase (ujub), Preobserveable Phase (riya’) dan Observeable Phase (takabbur). Saya tidak menemukan delusi yang terbesar bagi seseorang selain 2 hal. Pertama meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah pada ibadah fardhu (wajib), kedua, berlaku sombong karena merasa banyak ibadah kepada-Nya. Jika seseorang termasuk pada salah satu jenis diatas, maka dia hanya tinggal menunggu masa-masa datangnya psikotik (pribadi terbelah) dalam hidupnya. Atau jika Allah lebih murka kepadanya maka azab Allah dihari pembalasan jauh lebih pedih apabila dia meninggal dalam keadaan belum bertobat.”


Sebelumnya beliau juga menuliskan "Skizofrenik menggerogoti fungsi kesadaran (insight) intelektual, emosional, dan spiritual secara perlahan-lahan. Tak jarang gejala skizofrenik muncul dari peningkatan suatu kesadaran (misal, intelektual) tapi diikuti oleh penurunan kesadaran lain (misal, emosional). Sebagian orang jenius justru mendapat pemikiran yang orisinil dan gemilang melalui tahap awal skizofrenik tersebut. Kesadaran intelektual meningkat (misal, muncul teori atau temuan baru) namun kesadaran emosional-spiritual menurun (misal, delusional of grandeur; penurunan kemauan; penurunan naluriah). Tahap demi tahap itu berlangsung terus menerus hingga akhirnya penurunan tersebut mencapai keadaan distorsi mental yang luar biasa. Apabila kondisi itu sudah terjadi maka skizofrenik berhasil menguasai seseorang. Pada saat itu individu telah kehilangan dirinya, yaitu hilangnya kesadaran intelektual, emosional, dan spiritual secara tidak masuk akal. Bahkan tidak masuk akal bagi penderita skizofrenik lainnya, meski klasifikasi diagnosis tipe skizofrenik (delusi dan halusinasi) mereka sama."

Jelas dari penjelasan yang telah diberikan secara lengkap (bagi saya) oleh Bahril Hidayat memberikan gambaran mengapa menusia menjadi sakit secara kejiwaan dikarenakan manusia tidak bersikap adail terhadap dirinya sendiri atau dengan kata lain melakukan tindakan yang menganiaya diri sendiri. dalam tulisan yang akan jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritikan ini, penulis akan mencoba untuk memberikan tanggapan terhadap "kegilaan" berdasarkan apa yang telah dituliskan oleh Bahril Hidayat.

seperti apa yang telah dijanjikan oleh alam kepada manusia dimana segala tindakan yang dilakukan oleh manusia akan memberikan efek kembali atau "aksi min reaksi", dimana hukum kekekalan energi berlaku, tidak ada energi yang hilang melainkan berubah bentuk menjadi energi yang lain. janji alam sebagai contoh adalah dalam hal menanam tanaman dimana seorang petani yang menanam padi dengan benih padi maka akan memanen padi, tidak mungkin sang petani yang pergi kesawah dan menanam benih padi akan mendapati pohon kesemek atau juga durian di atas petak sawahnya. demikian juga halnya dengan seseorang yang menanam benih tomat pada ladang maka dengan waktu yang berlalu maka yang akan dia dapatkan diladangnya adalah pohon tomat dengan buah yang merah, bukan pohon jambu atau juga pohon mangga. seperti itulah janji alam kepada kita, apa yang kita peroleh (dalam artian apa yang kita lakukan) akan menjadi sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita tanam (dalam artian apa yang kita lakukan).

seperti apa yang telah dijanjikan oleh alam kepada manusia dimana segala tindakan yang dilakukan oleh manusia akan memberikan efek kembali atau "aksi min reaksi", dimana hukum kekekalan energi berlaku, tidak ada energi yang hilang melainkan berubah bentuk menjadi energi yang lain. janji alam sebagai contoh adalah dalam hal menanam tanaman dimana seorang petani yang menanam padi dengan benih padi maka akan memanen padi, tidak mungkin sang petani yang pergi kesawah dan menanam benih padi akan mendapati pohon kesemek atau juga durian di atas petak sawahnya. demikian juga halnya dengan seseorang yang menanam benih tomat pada ladang maka dengan waktu yang berlalu maka yang akan dia dapatkan diladangnya adalah pohon tomat dengan buah yang merah, bukan pohon jambu atau juga pohon mangga. seperti itulah janji alam kepada kita, apa yang kita peroleh (dalam artian apa yang kita lakukan) akan menjadi sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita tanam (dalam artian apa yang kita lakukan).

Suatu aliran psikologi yang sedang populer dan cenderung efektif pada masa dewasa ini adalah aliran Psikologi Islam dimana menjadikan ajaran agama Islam sebagai dasarnya, dinamakan psikologi Islam dikarenakan memang pada dasarnya apa yang ada didalamnya merupakan hasil pencitraan Islam dalam dunia psikologi yang diyakini oleh para kalangannya bahwa fungsi Islam adalah Rahmatan Lil Alammin (rahmat bagi semesta alam). Filsafat dasar dari psikologi Islam adalah Tauhid atau yang biasa dikatakan sebagai Laillahailallah (tidak ada Tuhan Selain Allah). Didalam Islam sendiri kata sombong merupakan suatu sifat yang buruk, dikarenakan kesombongan merupakan suatu tindakan yang sangat tidak layak ada pada setiap makhluk dikerenakan satu-satunya yang berhak untuk sombong hanyalah Allah, manusia tidak memiliki daya apapun, sehebat apapun seorang manusia tetap saja dia membutuhkan yang namanya makan, minum, pakaian dan segala macam kebutuhan pokok. Ketergantungan manusia terhadapa tempat hidupnya merupakan salah satu alasan mengapa manusia tidak boleh melakukan kesombongan sedikitpun juga. Segala yang dimiliki manusia entah itu ilmu, kepandaian dan juga harta benda baik itu tubuh dan segala macamnya, berasal dari Allah sebagai suatu titipan dalam kehidupan dunia ini yang hanya bersifat sementara saja.

Skizofrenia merupakan bentuk gangguan pada kejiawaan yang menyerang fungsi kesadaran emosi, intelektual dan spiritual seperti yang telah dijelaskan diatas dikarenakan pada saat mengalaminya seseorang menjadi sangat jauh dari kenyataan atau tidak melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. Terjadi pembelahan dan juga distorsi didalam alam sadar, yang bersumber dari bawah sadar. Tidak dengan cepat seseorang mencapai proses skizofrenia, melainkan keadaan ini dicapai dengan melalui beberapa tahapan, tidak serta-merta menjadi rusak melainkan dengan tahapan sedikit demi sedikit yang menggerogoti diri.

Dalam hal ujub, riya’ dan takabbur ketiganya jelas merupakan bentuk dari kesombongan karena berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia ujub merupakan rasa bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan, kemudian riya’ adalah rasa bangga karena telah berbuat kebaikan, dan takabbur adalah merasa diri mulia (hebat, pandai dan sebagainya). Dari ketiga hal itu tidak satupun yang memikirkan tentang adanya pengaruh lain yang menunjang keberhasilan diri seseorang, ketiganya merupakan perasaan teramat bagga terhadap diri sendiri yang membuat seseorang menganggap bahwa segala yang ada pada dirinya merupakan hasil kehebatannya sendiri. Dengan kata lain adalah sombong. Berbagai macam sikap sombong disebut sebagai pintu menuju psikotik dikarenakan dengan perasaan demikian maka seseorang didalam kepalanya telah menyangkal kebenaran. Sebagai contoh jika seseorang memperoleh suatu keberhasilan maka ia menganggap keberhasilan itu adalah hasil dari kehebatannya sendiri, besar kepala, dan melupakan orang-orang yang selama ini mendukung diirnya dalam proses pencapaian keberhasilan itu.

Dengan adanya penyangkalan ini maka seseorang dengan kegembiraan akan keberhasilannya melakukan pemutusan hubungan dengan para penunjang dirinya, ia tidak lagi menganggap bahwa mungkin sahabat, orang tua, teman-teman, saudara, atau sebagainya sebagai penunjang bagi keberhasilannya. Perasaan merasa diri adalah pusat dunia, kesombongan yang sakit. Dalam psikologi barat keadaan mental seperti ini disebut sebagai narsistis, diperkenalkan pertama kali oleh freud yang diambil dari mitologi yunani tentang seorang pemuda yang jatuh hati kepada bayangannya sendiri diatas danau, ia terus memandanginya, dan mengagumi dirinya secara terus menerus. Manusia membutuhkan kebutuhan akan penghargaan namun jika seseorang hanya ingin dipuja secara terus-menerus maka yang terjadi adalah suatu bentuk penyakit yang melekat pada kepribadian, bayangkan saja jika ada manusia yang menginginkan selalu menjadi pusat perhatian, tidak perduli dengan orang lain dan hanya berorientasi pada dirinya sendiri, maka yang terjadi adalah penebaran kerusakan bagi lingkungan, dimana diri narsis (ujub) menjadi sumbernya.

Dengan kesombongan manusia telah memilih psikosis sebagai jalan hidup dikarenakan 2 hal, pertama Ia mendustai dirinya secara sadar dan kemudian dia mengakui kedustannya itu sebagai satu-satunya kebenaran. Dan sudah menjadi bawaan dari dusta bahwa pada akhirnya akan ditutupi oleh dusta yang lain. Dengan demikian maka akan semakin banyak manipulasi didalam kepalanya sendiri sehingga mengakibatkan hilangnya diri dari realitas, terlempar dari kenyataan dan menuju alam skizofrenia, tersiksa akan suatu dusta yang berada didalam kepalanya sendiri yang diyakini oleh diri sendiri sebagai kebenaran.

Dalam psikologi Islam dikarenakan didasari pada AlQuran dan Hadist maka setiap manusia diharuskan barsyukur kepada nikmat yang telah diberikan oleh Allah, dan pelaku Ujub, Riya’ dan takabbur merupakan bentuk ketidak-bersyukuran seseorang terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah, dimana pribadi tidak menganggap ada campur tangan kuasa tuhan terhadap apa yang telah diperolehnya. Sedangkan dalam pandangan Islam sendiri Allah merupakan sumber kekuatan dimana semua makhluk bergantung kepadanya, dan Allah tidak membutuhkan makhluknya barang sedikitpun, Allah Maha Kaya lagi Maha Esa. Orang yang sombong merupakan mereka yang kufur terhadap nikmat Allah, mereka yang menganggap diri lebih dari orang lain, mereka yang menganggap dirinya telah banyak beribadah kepada Allah, mereka yang telah mengkultuskan diri sebagai ahli surga, dan kesemuanya adalah perbuatan-perbuatan yang keji. sedangkan Allah tidak pernah menganiaya hamba-hambanya melainkan mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.

Paham dalam Islam tidak menganggap umat manusia sebagai pusat alam semesta, seperti yang telah dijunjung oleh paham humanis, melainkan Islam memandang bahwa setiap manusia itu sama dihadapan Allah dan hanya Allah sajalah yang berhak untuk dipuja dikarenakan segala sesuatu yang ada didalam alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Allah dan semua berada di bawah Kuasanya tanpa kecuali. Sedangkan bagi pribadi yang sombong maka yang terjadi adalah perasaan diri hebat jika dibandingkan apapun, dan bahkan merasa diri lebih hebat dari Tuhan. Perbuatan yang sangat mengerikan itu akan membawa manusia pada posisi yang tidak menyenangkan bagi dirinya, bukan karena Allah memberikan azab kepada dirinya melainkan dirinyalah yang menganiaya dirinya sendiri, seperti janji alam yang telah disebutkan diatas berperilaku sombong adalah ibarat menanam pohon penyakit dimana pada akhinya akan menjadikan kita manusia yang sakit secara mental. Perilaku yang kita lakukan sekarang berserta dengan kekuatan hatinya merupakan bakal “buah” yang akan kita peroleh dikemudian hari.

Penanggulangan Ujub, Riya’ dan Takabbur berdasarkan Psikologi Islami

Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)". Menunjukkan bahwa pada dasarnya dalam Islam jika dipahami secara mendalam maka akan ada obat-obat penyakit hati didalam ayat-ayat Al-Quran. Seperti yang disebut oleh ibnul Qayyim tentang obat dari riya’ dan takabbur yang keduanya merupakan ayat ke-5 dari surat al-fatihah (pembukaan), surat yang dibaca didalam setiap awal rakaat saat melaksanakan Shalat. Kata “Hanya kepada-Mu kami menyembah” sebagai obat dari penyakit hati dari riya dikarenakan hanya kepada Allah saja kita menyerahkan segala sesuatu yang kita lakukan, maka dalam bertindak kebaikan terkadang manusia merasa ingin dilihat oleh orang lain yang pada akhirnya akan diberikan pujian dan juga sanjungan, namun dengan adanya kata “Hanya kepada-Mu kami menyembah (mengabdi)” maka segala sesuatu kebaikan yang kita lakukan bukanlah untuk mencari ketenaran dan juga sanjungan dari orang lain melainkan hanya semata-mata karena Allah. Karena memang hanya Allah-lah yang telah mengijinkan kita untuk melakukan kebaikan tersebut dan atas kuasa-Nya-lah kita mampu beramal soleh dan beribadah.

Lalu untuk penyakit takabbur maka obat yang diperoleh adalah kata “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan dan diri kita tidak mampu untuk menolong diri kita sendiri tanpa adanya ijin dari Yang Menciptakan diri kita, karena ubun-ubun kitapun berada didalam genggaman-Nya, tidak ada suatu kuasapun selain kuasa Allah. Maka tidak pantaslah manusia melakukan hal yang takabbur, membangga-banggakan dirinya, merasa paling hebat, merasa paling benar dan merasa paling suci. Maka dengan kesadaran bahwa hanya Allah-lah sebaik-baik penolong dalam kehidupan kita, akan menumbuhkan sifat stabil dalam diri kita, dimana kita tahu bukan diri kitalah yang sebenarnya pantas untuk dipuji, melainkan hanya yang Menciptakan kita, bukan diri kitalah yang mengakibatkan kebaikan bagi orang lain melainkan hanya saja Allah menjadikan kita sebagai perantara dari apa yang telah kita lakukan kepada orang lain.

Namun seperti yang diawal dikatakan oleh Bahril Hidayat dimana Ujub merupakan fase awal dari delusi yang dekat dengan kesombongan itu. Dimana ujub merupakan perilaku bangga terhadap diri sendiri, walau ujub tidak dapat terobservasi, melainkan perasaan yang bangga dan memuji diri sendri yang terletak didalam proses mental manusia, sehingga dikatakan sebagai Unobserveable Phase. Ini adalah titik awal dari perilaku riya’ dan takabbur, dan bagi penulis sendiri obatnya adalah pada surat yang sama yaitu al-fatihah, pada ayat 1, 2, 3 dan 4. dimana disana tertulis “Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang(1) Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam(2) Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang(3) Yang mengusasi hari pembalasan(4)”. Disini tertulis tentang Ar-rahman dan Ar-rahim sebanyak masing-masing 2 kali, walau pada sebagian umat menganggap bahwa “bismillah” bukan merupakan bagian dari surat namun tetap dalam mengawali pembacaan tetap akan dibaca kata “bismillah” sebagai pembukaan. Yang menandakan bahwa Allah maha pengasih dan Maha penyayang, tidak mungkin Allah menyiksa hambanya, melainkan sebagai suatu cobaan yang akan berbuah kebaikan atau merupakan hasil dari perbuatan keji yang dilakukan oleh hamba-hambanya. Segala puji bagi Allah, itulah mengapa kita diharuskan mengucapkan Alhamdulillah pada saat kita menerima kebaikan, karena segala kebaikan yang kita terima adalah rahmat dari Allah, bukan merupakan suatu hasil dari kehebatan kita seorang diri, mengucap syukur kepada yang Maha pengasih merupakan suatu jalan pintas untuk menangkal terjadinya ujub didalam proses mental kita. Maka dengan sendirinya kita akan menyadari bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dibandingkan dengan kuasa Allah, hanya Ia yang berkuasa, dan hanya Ia yang berhak dipuji.

Maka dengan mengingat Allah merupakan obat paling mujarab, dikarenakan hanya dengan berpegang kepada sesuatu yang kekal maka manusia akan selamat dalam melintasi lautan dunia yang sementara ini. Sesuatu yang kekal dan tidak pernah berubah jelaslah bukan makhluk dengan wujud, atau juga bukan dengan teori yang akan berubah dengan adanya pembaruan dan berjalannya waktu, namun kepada ketetapan-ketapan dan kebenaran-kebenaran, yang hanya bias dipahami oleh hati yang bersih Dengan begitu maka kita akan terjauh dari penyakit hati dan juga penyimpangan-penyimpangan dalam kejiwaan kita, sehingga kita tahu dimana kita berdiri, dan mengetahui kepada apa kita berpegang. walau godaan dalam diri manusia akan selalu ada, namun itulah Jihhad yang terbesar, yaitu berperang melawan nafsu di dalam diri sendiri.




No comments:

everyone is the chosen one