Sunday, February 15, 2009

Melihat Manusia dari 3 Spektrum

Sering kali kita melihat manusia lain yang ada dalam kehidupan kita dengan cara pandang kita yang penuh dengan prasangka, bercampur dengan segala macam tuduhan dan juga penyelewengan dari kenyataan. Bukannya tidak boleh kita menilai orang lain namun setidaknya semua tuduhan itu haruslah didasari oleh segala macam kebenaran dan tidak bertujuan untuk membuka belang orang lain, jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain maka bercerminlah, dan kita yang sadar bahwa mengetahui kekurangan sendiri dibandingkan mencari kesalahan orang lain akan jauh lebih beruntung, dikarenakan dengannya kita akan dapat menjadi pribadi yang lebih baik dikarenakan dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri yang dengannya dapat melakukan tindakan-tindakan yang berguna untuk menjadi manusia yang lebih baik dikemudian hari.

Manusia jelas bukanlah makhluk yang dapat berdiri sendiri, manusia merupakan makhluk sosial, namun dilain sisi juga merupakan makhluk individu yang hidup di dalam alamnya. Berdasarkan pengakuan dari manusia sendiri mengenai keberadaannya dalam susunan jagad raya ini adalah sebagai makhluk yang berakal dan sempat mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lain dikarenakan akal dan pikiran mereka yang mampu digunakan untuk menentukan jalan mereka sendiri (free will). diatas bumi ini jelas manusia menjadi makhluk yang nomor satu, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, pembedanya adalah akal pikiran mereka yang dapat merubah keadaan mereka sesuai dengan kehendak bebas mereka, kemampuan untuk berkembang yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi membuat mereka dapat hidup dengan teknologi serta pengetahuan yang selalu dibanggakan.

Namun ditengah-tengah kesombongannya, manusia juga merupakan makhluk yang sangat bergantung terhadap alam. Jelas manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa alam, seperti udara yang mereka butuhkan untuk bernapas, lalu air untuk mereka minum, alam juga menyediakan makanan bagi manusia, matahari dengan sinarnya yang memberikan kehangatan, gravitasi yang menjaga kedudukan manusia diatas bumi sehingga tidak terpental jauh keangkasa luar karenanya. Tanpa itu semua manusia tidak dapat hidup dan tidak mampu bertahan serta berkembang biak, dari sini maka dapat diketahui bahwa manusia sangat bergantung terhadap alam. Diketahui juga bahwa alam tidaklah bergantung barang sedikitpun terhadap manusia, kehadiran manusia dewasa ini bagi alam cenderung hanya sebagai perusak, mengeksploitasi alam guna mendapat keuntungan darinya tanpa pernah membalas kebaikan yang telah diberikan alam kepada manusia. Manusia menambang, menggali, meruntuhkan, menebang, membakar, yang dari kesemuanya mengakibatkan kerusakan bagi alam sendiri dan keuntungan bagi manusia. Walau tidak semua manusia melakukan kerusakan terhadap alam, dan masih banyak ditemui manusia-manusia yang mau mengabdikan kesementaraannya terhadap alam dalam kehidupan yang fana ini.

Setiap manusia pastilah memiliki kecenderungan untuk menjadi jahat ataupun baik, berbagai macam faktor jelas mendukung kualitas manusia entah itu dari dalam (internal) atau dari luar (eksternal). Manusia terlahir dengan bakat yang dibawanya yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Manusia adalah makhluk yang paling sulit diterka dalam segala tindakannya, karena selain akal mereka juga memiliki perasaan atau hati. Bentuk sulit diterkanya manusia terlihat dari perubahan jaman yang terjadi pada lingkungan hidup manusia, manusia yang berkelompok atau yang biasa disebut sebagai masyarakat bersifat dinamis dalam segala hal, tidak ada yang bertahan selamanya, semua berubah, sehingga ketetapan yang ada adalah perubahan itu sendiri.

Hal yang telah dituliskan diatas adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain. maksud dalam tulisan ini adalah memberikan masukan dalam suatu cara untuk mengartikan manusia-manusia yang ada di dalam kehidupan kita. Sering kali kita tidak mengerti dengan maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang yang ada disekitar kita, sehingga kita merasa heran ataupun bingung dalam menentukan sikap terhadap mereka, namun setidaknya kita harus mengerti tentang orang yang sedang kita perhatikan itu berdasarkan tiga hal yang akan penulis coba jelaskan dalam tulisan ini, ketiga hal itu adalah manusia sebagai makhluk yang sama dengan manusia lain (universal), manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain (kelompok), dan manusia sebagai makhluk yang jelas berbeda dari manusia lainnya (unik/individu).

Seringkali kita melihat manusia hanya dari satu sisi, melihat kesalahan yang mereka lakukan dan menilainya dengan serampangan, memberikan label permanen terhadap dirinya tanpa pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pemaknaan terhadap orang lain sering kali yang terjadi hanyalah bias belaka yang diliputi oleh persangkaan-persangkaan yang belum tentu benarnya, bukan hanya merugikan siapa yang disangkakan melainkan juga akan merugikan orang yang memiliki prasangka tersebut. dalam keadaan yang sering disebut sebagai keadaan salah sangka ini seseorang sering kali mengalami salam paham yang mengakibatkan buruknya hubungan yang terjadi didalam lingkungan sosial. untuk mengatasi hal tersebut ada baiknya kita sebagai manusia dalam menilai manusia lainnya dilandasi oleh 3 spektrum seperti yang telah disebutkan diatas sehingga apa yang telah kita nyatakan tidaklah terlalu jauh dengan kenyataannya, dan juga tidak hanya merupakan persangkaan kosong yang subjektif belaka.

Melihat manusia sebagai bagian dari suatu kelompok tertentu jelas sangat didasari dengan sifat manusia yang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin terlepas dari kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Kecenderungan manusia untuk dipengaruhi dan juga saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam berinteraksi sosial merupakan salah satu faktor penting dalam diri kita ketika melihat satu sosok manusia untuk dinilai, namun dalam kenyataannya dalam suatu kelompok cenderung ada yang disebut dengan stereotip yang merupakan suatu sangkaan yang cenderung belum benar adanya. Stereotip pada dasarnya terbentuk akibat suatu bentuk generalisasi yang dilakukan secara membabi-buta terhadap suatu kelompok tertentu, baik itu etnis, agama, ras, budaya, bangsa, partai politik, atau yang lainnya oleh masyarkat. Namun memang pada kenyataannya kehadiran stereotip memang bukanlah hanya merupakan suatu isapan jempol belaka, ada juga bentuk empiris yang terjadi diakibatkan suatu pengalaman dan juga pengamatan yang telah berlalu bersama dengan waktu. Tidak dapat dikatakan bahwa stereotip selalu salah, namun dalam melihat manusia itu sendiri tidak semudah kita melihat sebuah benda, dalam keadaan ini tidak seorangpun dapat melihat dalam diri manusia yang paling dalam, manusia dilindungi oleh tubuhnya dalam menyembunyikan aktifitas mental yang dimilikinya. Sehingga tidak ada yang mampu melihat dan menerka apa yang akan dilakukan oleh seseorang pada kemudian saat. Manusia merupakan makhluk yang sulit untuk diterka dikarenakan mereka memiliki akal pikiran namun selain itu juga dikarenakan manusia memiliki perasaannya yang unik terhadap segala sesuatu yang dihadapinya.

Dalam suatu kelompok pastilah berlaku suatu peraturan-peraturan atau norma baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan dari norma dan peraturan itu akan menumbuhkan suatu karakter yang bersifat umum bagi anggota kelompok tertentu. Dari sinilah kita bisa menilai manusia lainnya, dikarenakan lingkunagn hidup tempat ia berinteraksi sehari-hari pastilah merupakan suatu rujukan bagi dirinya dalam berperilaku sehari-hari. Baik itu gender, ras, agama, suku, bangsa, paham politik dan lain-lain. manusia memiliki sifat dasar yang menuntut penerimaan dari lingkungannya, kebanyakan manusia mengerti bahwa jika mereka ingin diterima dalam kelompok mereka, maka yang harus dilakukan adalah dengan memenuhi harapan kelompok, walau tidak jarang seseorang menolak tuntutan masyarakat terhadap dirinya walau hal ini hanya terjadi pada segelintir orang saja, namun akibat dari itu semua adalah suatu penolakan dari masyarakat dan juga alienasi.

Maka dari itu dapat dilihat dan dinilai mengenai manusia dari apa yang ada dalam lingkungan tempat mereka hidup, peran-perannya dalam lingkungan dan juga hasil interaksi yang ia lakukan dengan manusia lain didalam lingkungannya tersebut. dalam melihat manusia sebagai makhluk yang sama dengan sebagian manusia lain dapat dinilai juga dari proses-proses mental yang mereka miliki seperti prinsip dalam beragama dan juga pandangan politik. Hal ini dapat dikenali dari simbol-simbol yang mereka gunakan dalam memperkenalkan apa yang mereka anut terhadap dunia diluar dirinya. Maka mereka yang melihat dapat meng-kira-kira apa yang menjadi dasar perilakunya. Demikianlah sedikit dari cara melihat manusia dari sisi manusia sebagai bagian dari kelompok.

Maka yang terakhir adalah melihat manusia sebagai makhluk yang unik, manusia sebagai pribadi, manusia sebagai sesuatu yang tidak ada duanya. Bahkan dua orang yang kembar secara identik pun tidak memiliki kepribadian yang sama. Manusia masing-masing memiliki dimensinya sendiri, dimana dimensi mereka dengan dimensi manusia lainnya hanya memiliki kemiripan namun bukan kesamaan secara persis. Demikian halnya dengan fisik mereka. Jadi jumlah jenis manusia adalah sebanyak jumlah manusia itu sendiri. menghargai manusia sebagai makhluk yang unik pada dasarnya merupakan hal yang sulit bagi manusia itu sendiri, kemanusiaan adalah suatu bentuk penghargaan terhadap setiap jiwa dan juga terhadap segala potensi-potensinya.

Dalam melihat manusia sebagai makhluk yang unik dapat diterapkan dengan melihatnya sebagai bagian dari lingkungan, interaksinya terhadap gejala-gejala yang bersifat umum. Karena langkah yang diambil manusia dalam menghadapi sesuatu pada dasarnya ada yang bersifat umum dan khusus, memfokuskan permasalahan pada hal yang khusus sering kali bersifat subjektif namun dapat menjadi suatu landasan yang ampuh dalam menilai diri seseorang jika dipadukan dengan apa yang dianut dalam kehidupan mentalnya sebagai garis besar dasar filsafat dan juga pemahaman.

Bersama dengan kekurangan dan kelebihannya manusia hidup dalam dunia ini, dan berusaha menjadi seperti apa yang mereka harapkan, walaupun harapan itu merupakan hasil ciptaan yang dipengaruhi oleh pihak lain diluar dirinya, namun tetap yang menjalankan semua itu adalah diri mereka sendiri-sendiri. manusia adalah makhluk yang memiliki potensi yang tidak dapat diduga, apa yang terjadi hari ini pada dirinya memiliki kemungkinan menjadi berbeda pada hari yang bereikutnya, namun ada manusia yang memiliki kekonsistenan dalam dirinya, entah itu yang membabibuta atau yang bersifat membangun. Manusia adalah makhluk dengan moral namun terkadang manusia juga bisa disebut sebagai binatang yang berakal. Gejolak dalam diri manusia akan selalu tercermin dlama tingkahlakunya sehingga, dari tingkahlaku akan terlihat apa yang sebenarnya terjadi didalam diri manusia itu sendiri, apa yang menjadi pokok permasalahannya dan apa yang menjadi tujuannya.

Semoga dengan tulisan yang tidak seberapa ini akan dapat memberikan sedikit inspirasi kepada para pembaca, masukan kritik dan seran jelas sangat dibutuhkan sehingga apa yang tertulis sekarang ini dapat dicari tahu dimana kesalahan dan kebenarannya.


No comments:

everyone is the chosen one