Wednesday, November 25, 2009

Mak Erot, Simbol Kurang Percaya Diri Laki-laki Indonesia


Mak Erot mungkin telah tiada, namun kini keberadaannya telah digantikan oleh para generasi penerusnya. Dalam tulisan ini bukan untuk menyudutkan atau menghancurkan suatu usaha yang dirintis oleh Mak Erot, namun lebih kepada gejala yang muncul di dalam diri setiap laki-laki yang ada di negeri tercinta Indonesia, dan hal tersebut juga bukan karena adanya Mak Erot dan penerusnya, namun kepada kejujuran jiwa maskulin yang ada di dalam diri setiap laki-laki. Di dalam diri setiap laki-laki terdapat hasrat yang besar untuk berkuasa atas segala sesuatu, mungkin tidak dengan kekuatan fisik namun juga dengan kekuatan intelektual bahkan dengan kelmbutan hati. Seperti disepakati bersama walau ini bukan hasil yang jelas dan benar adanya melainkan hanya sebuah stereotip yang menjadi suatu jalan pikiran dan anggapan masyarakat banyak bahwa pria menggunakan 80% logika untuk mengambil keputusan dan wanita menggunakan 80% perasaan untuk mengambil keputusan. Dari pendangan tersebut maka dapat diketahui bahwa yang dominan dalam diri laki-laki adalah otak kiri yang merupakan pusat berhitung dan pembeda antara ‘hitam dan putih”, baik dan benar serta objektivitas. Sehingga laki-laki disebut sebagai makhluk yang paling rasional diantara makhluk-makhluk yang lain. Bahkan terkadang karena rasionalnya sehingga mereka menjadi benar-benar irasional.

Kekuasaan dan kekuatan merupakan idaman setiap laki-laki, bukan hanya itu, laki-laki juga dituntut untuk menjadi perkasa dan mampu menguasai apa yang mau dia kuasai. Bagi sebagian orang menjadi laki-laki adalah suatu anugrah dimana dalam kehidupan ini para laki-laki merupakan kaum yang bebas dalam bertindak, kaum yang berkuasa dalam berkehendak dan memonopoli segala bidang tanpa kecuali. Tapi pemikiran dan sangkaan ini dalam jangka waktu terakhir rasa-rasanya sudah tidak lagi relevan, lihat saja diluar sana kini antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, entah dalam berkarir, mencari nafkah, pemimpin dan lain-lain. sehingga penempatan perempuan dalam hirarki kini disamakan saja dengan laki-laki, tidak ada bedanya, emansipasi berjalan dengan baik. Jadi bukan laki-laki yang diturunkan martabatnya melainkan wanita yang diangkat derajatnya, atau memang tidak pernah ada cara pandang ini sebelumnya dikembalikan kepada cara pandang pembaca.

Dalam keadaan ini nampaknya banyak laki-laki yang kalah dari wanita, karena kesempatan yang sama, yang baru terjadi beberapa dekade terakhir ini, banyak dari mereka yang berjiwa maskulin kolot merasa menjadi rendah diri dan kehilangan harga diri, mereka seakan lupa akan yang mereka selalu utarakan sebagai kejantanan yaitu kata “siapa yang paling banyak berkeringat (usaha) maka ialah yang menang”. Mereka seperti tidak mengikhlaskan adanya sisi maskulin dalam tubuh perempuan yang mengalahkan mereka. Kalau begini jadinya, maka hal ini dikatakan bahwa laki-laki tersebut adalah mereka yang memiliki sisi feminin yang terasah dalam dirinya. Dengan kata lain tidak jantan jika mengeluh mengingat mereka (wanita) memperoleh segala sesuatu dengan usahanya sendiri.

seharusnya pihak yang dikatakan superior kini dapat diartikan bukan lagi berdasarkan seks dan gender, melainkan superioritas ditentukan oleh kemampuan yang dibalut dengan perjuangan, bukan bawaan. Walau ada indikasi bertentangan dengan budaya yang berlaku didalam masyarakat, namun begitulah nyatanya, masyarakat terbentuk dari hasil interaksi antar manusia yang ada didalamnya, membentuk kebudayaan, dan kebudayaan itu sendiri bersifat dinamis, dimana satu-satunya ketetapan adalah perubahan itu sendiri. pergeseran nilai-nilai lama menuju nilai-nilai yang baru jelas sedang terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi hal ini berlaku secara global.

Kembali kepada masalah kenapa praktek Mak Erot menjadi pilihan bagi beberapa laki-laki adalah karena merasa kurang besarnya ukuran “senjata” yang dimilikinya. Dari kenyataan ini mungkin merasa rendah diri dan ingin lebih dari apa yang telah dimiliki, selain itu mengharapkan pujian dari “lawan main” dengan ukuran yang sudah diubah tersebut, yang dengannya diharapkan lawan main juga akan menjadi lebih puas dan senang. namun mengingat ini semua, tampaknya kita (penulis dan mereka) masih dilanda suatu stereotip tentang ukuran dimana menganggap bahwa yang paling besar adalah yang paling kuat dan benar. Mari kita buktikan, bukankah dalam menggunakan senjata lebih berarti tentang siapa yang berada dibalik senjata tersebut, dengan kata lain cara menggunakannya merupakan hal yang lebih penting dari pada senjatanya.

Tingkat kebermaknaan sesuatu sangat bergantung terhadap tingkat fungsinya. Berdasarkan pengalaman beberapa orang ternyata dalam melakukan hubungan seksual, anatomi dan ukurannya tidaklah berpengaruh, namun lebih kepada bagaimana satu sama lain memainkan perannya masing-masing, dikarenakan hubungan seksual bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan pribadi semata, namun pada individu yang melakukannya memiliki fokus untuk memberikan kepuasan kepada lawan mainnya. Dilaporkan bahwa wanita yang mementingkan ukuran semata bukanlah mereka yang mampu mencapai titik puncak kepuasan saat berhubungan, sehingga mereka cenderung menyalahkan lawan main karena keadaan itu, sang lawan main yang telah disalahkan menjadi rendah diri dikarenakannya dan mencoba mencari cara untuk dapat memuaskan lawan mainnya. Secara filsafat kebatinan hal ini bukanlah sekedar kesalahan dari anatomi yang dimiliki namun lebih kepada keadaan diluar ranjang. Coba, mungkin bisa kita telaah lagi, apakah sang pemilik senjata dalam hal ini pihak laki-laki, dan pemilik sasaran dalam hal ini perempuan telah sama-sama memberikan yang terbaik yang mereka miliki satu sama lain. ataukah mereka cenderung kepada sikap hanya ingin dipuaskan tanpa pernah berpikir bahwa sang pasangan juga membutuhkan kepuasan dari dirinya, jika demikian yang terjadi maka yang ada adalah ketidak seimbangan dari hubungan. Sebelum terlalu jauh maka penulis mengartikan semua ini kepada pasangan yang telah menikah, bukan kepada mereka yang melakukan “kumpul kebo”, melihat nilai-nilai kesucian yang dimiliki oleh pasangan suami istri, bukannya untuk keterkutukkan bagi mereka yang menganut paham seks bebas.

Jika dipandang dari sisi ini maka yang terjadi adalah bagaimana seseorang dapat memberikan kesenangan kepada orang lain, dimana cinta menjadi landasan dari semuanya, bukan tentang kepemilikan melainkan tentang bagaimana memberdayakan apa yang telah dimiliki. Dalam hal ini maka yang dibutuhkan adalah tentang suatu rasa syukur yang ada setiap individu, cintai dan syukurilah mereka yang telah menjadi pasangan anda. Karena cinta merupakan kata kerja yang kini telah diartikan hanya sebatas retorika yang tidak bermakna. Arti cinta sebagai kata kerja adalah mencintai, walau dengan cinta saja sudah cukup, tapi ini tetap saja retorika, maka jika cinta maka lakukanlah, berikan perhatian dan kasih sayang, rasakan menggebu-gebunya perasaan terhadap pasangan, tunjukkan kesetiaan dan juga pengabdian dan tamukanlah bahwa kita sedang melakukan cinta, dan ketika itu dilakukan oleh dua orang kepada masing-masing, maka yang terjadi adalah bercinta itu sendiri.

Sebagai laki-laki masalah ukuran jelaslah bukan masalah sekali lagi penulis ingin menegaskan kalau yang terpenting adalah kebijaksanaan dalam menggunakannya, bukan ukuran yang menjadi simbol belaka, jika tanpa fungsi maka akan menjadi sia-sia. Simbolisasi tanpa makna sama saja kering dan kosong, seperti halnya suatu benda yang sudah absolut nilai kebermaknaannya dilihat dari fungsinya. Dengan ini maka lebih baik kita memfungsikan segala sesuatu dengan maksimal, sehingga apa yang kurang menjadi lebih tinggi nilai kebermaknaannya, bukan hanya simbol dalam ukuran melainkan lebih kepada “kejantanan sejati” dalam menggunakannya.

Baca terusannya......

Konseling Untuk Anda


Hidup tidak akan pernah lepas dari permasalahan dan juga kejadian yang kurang baik, entah ditimbulkan oleh diri sendiri atau mungkin oleh pihak yang lain. Wajar memang segala permasalahan terjadi, tanpa melakukan kesalahan atau terlibat dalam suatu masalah manusia tidak akan belajar, karena pengalaman merupakan bahan pembelajaran, sehingga manusia dapat mengambil hikmah dari segala yang ia hadapi dalam kehidupan ini.

Susah dan senang datang silih berganti dalam kehidupan ini, laksana perahu di laut lepas, yang terkadang bertemu hari yang cerah, dimana saat itu baik untuk berlayar, namun ada kalanya juga ketika badai datang menerpa, semua datang tanpa diduga, terkadang badai datang pada saat diri tidak mengalami kesiapan untuk menghadapinya, sehingga keadaan menjadi begitu buruk, dimana diri menjadi terasa sangat terpuruk, menghilangnya kepercayaan didalam diri, tidak dapat berpikir jernih, kehilangan kemampuan dalam bertindak, diselimuti ketakutan dan tidak memiliki arah tujuan serta penuh dengan kebimbangan.

Dalam keadaan seperti ini seseorang akan cenderung mencari suatu tempat untuk mengadu, dimana bisa berbagi kesedihan dan juga nestapa. Wajar, setiap manusia diketahui memiliki masalah dan kesedihannya masing-masing, dengan tingkatan berbeda dan juga dengan daya tahan yang berbeda. Terkadang ada dari mereka yang mampu menjadi diri sendiri dan melawan getirnya kehidupan dengan badan sendiri, walau tetap sakit terasa. Namun ada juga mereka yang membutuhkan orang lain dalam menghadapi apa yang mereka alami, mereka membutuhkan teman, bantuan, perlindungan dan yang terpenting adalah kehadiran seseorang yang mampu untuk mengerti. Pada titik inilah para konselor hadir menjadi penyejuk bagi mereka yang haus akan rasa percaya.

Konseling adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan segala problema dalam hidup Anda. Dengan konseling Anda dapat melihat dari sudut pandang yang berbeda dari permasalahan Anda. segala permasalahan pastilah memiliki jalan keluar, memiliki suatu titik untuk dipecahkan, serumit apapun itu dan setidakmungkin apapun itu dari sudut pandang Anda. Dengan konseling Anda akan disadarkan tentang adanya potensi dan juga keunggulan dalam diri Anda yang belum terbuka, yaitu potensi Anda dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan Anda. sehingga demikian dengan tangan Anda sendiri Anda akan mampu menyelesaikan semua permasalahan dengan baik.

Berikut beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan konseling:

1. Mereduksi stress yang anda alami.
2. Memperoleh rasa nyaman, aman, tentram dan bahagia.
3. Mampu memahami diri anda dan orang lain secara lebih mendalam.
4. Mendapatkan semangat hidup yang baru.
5. Maksimalisasi potensi diri.
6. Mengembangkan kemampuan dalam menjalin hubungan efektif dengan orang lain.
7. Membantu proses pengembangan diri.
8. Membantu Anda dalam memperoleh kepuasan hidup.
9. Memberikan Anda sudut pandang yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.

Pada era modern seperti sekarang dimana tingkat mobilitas manusia yang sangat tinggi dan tekanan kehidupan yang semakin kuat, mengharuskan seseorang untuk selalu dapat berada dalam kondisi prima, baik itu secara fisik maupun mental dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Sedangkan permasalahan yang datang menghambat pergerakan diri Anda tidak mengenal kapan dan dimana, serta harus Anda pecahkan sendiri. Dalam tekanan yang sangat tinggi seperti sekarang maka kehadiran konselor akan sangat membantu, memberikan Anda tempat yang nyaman untuk terbuka dan mengembalikan fokus dalam hidup Anda, sehingga Anda mampu menjalani semua dengan baik tanpa pernah merasa putus asa dan kehilangan arah, Anda akan tampil dengan potensi diri Anda yang sesungguhnya dan memiliki kebermaknaan dalam hidup Anda. yang dengan demikian maka kesuksesan akan selalu bersama Anda.

Baca terusannya......

Wednesday, November 18, 2009

Jendela Hati Menuju Kematian


Sangat ironi jika manusia telah melupakan hakikatnya sebagai makhluk ciptaan tuhan, dalam tulisan ini penulis akan berusaha memberikan suatu paradigma baru dalam melihat kehidupan yang kita alami dalam bumi ini. Ketika manusia tenggelam dalam nikmat duniawi yang telah membutakannya, atau juga dalam nikmat dendam ketika mereka sudah biasa menikmati apa itu arti rasa sakit. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat merdeka 100% walau mereka sangat menginginkannya, walau mereka sangat menyukainya, walau mereka sangat mengharapkannya, ketika mereka mulai ingin mengalahkan kematian, yang sampai saat ini tidak mungkin dilakukan, berbagai macam usaha telah kita lakukan untuk menunda suatu kepastian yang paling pasti terjadi pada setiap manusia yaitu kematian. Mulai dari obat-obat untuk kesehatan hingga adanya dokter-dokter yang bertugas untuk menyembuhkan suatu penyakit. Manusia selalu menghindari kematian padahal mereka selalu tahu kalau kematian merupakan suatu kepastian yang pasti terjadi, sesuatu yang pasti terjadi, walau tidak pernah diketahui kapan akan terjadinya tapi itu pasti akan terjadi.

setiap Manusia selalu terlahir tanpa mengetahui apa-apa, lalu orang tua atau orang yang merawat kita yang memberikan keterangan paling awal tentang apa yang ada di sekitar kita, manusia memiliki proses kehidupan, dari bayi sampai mati dihari tua secara normal. Kita ambil rata-rata umur manusia adalah hanya 60 tahun dan itu bukanlah suatu waktu yang lama, itu adalah suatu waktu yang sangat sigkat dan cepat. Lalu kita akan kemana setelah itu, apakah ada yang terjadi setelah itu atau kita akan binasa saja, lenyap tanpa pernah merasa pernah ada. Dalam setiap agama selalu percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, adanya sesuatu yang terjadi di balik tirai kehidupan, kehidupan dibalik kehidupan. Dari agama-agama itu telah mengajarkan bahwa setelah kematian siapa yang kehidupannya dipenuhi dengan kebaikan dalam dunia maka akan mendapat balasan kebaikan dalam kehidupan setelah kematian itu, sedangkan untuk mereka yang selalu melakukan keburukan dan kejahatan di dunia maka akan menerima suatu balasan yang amat perih dalam kehidupan setelah kematian. Semua hasl ini selalu sama pada setiap agama yang ada. Lalu selain itu manusia juga selalu percaya dan yakin akan adanya alam roh atau adanya alam kehidupan setelah kematian hal itu ditunjukan dengan adanya kegiatan “nyekar” ke kuburan untuk menghormati orang yang telah meninggal terlebih dahulu, atau mungkin ada kegiatan yang lainnya seperti mendoakan arwah orang yang baru meninggal dengan diadakannya tahlilan.

Kepercayaan manusia terhadap adanya suatu bentuk kehidupan lain setelah kematian sangatlah kental walau mereka yang sangat mencintai dunia pasti dengan lantang akan menyangkalnya. Semua manusia yang telah merasa nyaman dan dimanjakan oleh dunia pasti sangat mencintai dunia dan tidak akan pernah mau mati atau bertambah usianya, hal ini karena kita memang diciptakan untuk menjadi makhluk yang dapat mencintai dunia ini, menjadi makhluk yang sangat menyukai apa yang ditawarkan oleh dunia dengan segala kenikmatannya yang membutakan.

Hanya mencoba sedikit berfilsafat dalam kehidupan setelah kematian, bahwa manusia selalu yakin bahwa orang yang telah tiada sebenarnya masih ada, hanya saja mereka berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Sebagian mengatakan tentang hal ini sebagai suatu bentuk dari ketidak terimaan akan hilangnya seseorang dari muka bumi, namun sebagian lagi meyakini bahwa memang ada kehidupan setelah kematian. Dari jaman dahulu hingga hari ini ketika menulis tulisan ini belum ditemukan seorangpun yang dapat hidup abadi, keseluruhan dari manusia akan merasakan mati lebih tepatnya semua yang bernyawa akan mengalami mati dan lebih umumnya segala sesuatu yang berbentuk akan mengalami kemusnahan. Siapapun akan mati, jadi mengapa harus takut dan menghindar. Yang kini menjadi focus dari pemikiran penulis adalah mengapa seseorang harus takut terhadap satu-satunya kepastian, disini dikatakan sebagai satu-satunya kepastian dikarenakan dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, bias saja hari ini kita tertawa-tawa namun esok hari kita menangis meraung-raung. Bias saja hari ini kita sehat dan besok kita sakit. Namun kalau masalah kematian maka suatu hari kita akan mati dan itu pasti terjadi. Jika memang manusia itu akan mati mengapa harus takut? Mengapa kita tidak hidup dengan tujuan kematian itu sendiri, kita hidup untuk apa yang akan terjadi jika saya mati nanti.

Dalam beberapa buku motivasi ala barat yang saya temui dikatakan bahwa tujuan manusia dalam hidup dikatakan baik jika ia nantinya mati dengan kehadiran orang-orang yang dicintainya, fokus hidup adalah dengan membayangkan siapa dan berapa banyak yang datang kepemakaman kita. Maknanya begini, seseorang yang berperilaku baik dan penuh kasih saying kepada orang lain maka akan dicintai oleh orang lain juga. Dengan demikian jika orang baik itu meninggal dunia maka orang-orang yang juga sayang terhadap dirinya akan hadir di pemakamannya, mereka akan merasa sedih karena telah ditinggalkan oleh seseorang yang baik dan penuh kasih sayang tersebut. Dengan demikian makna kehidupan adalah lebih kepada seberapa kebermakanaan kita terhadap lingkungan kita, kembali kepada fungsi dan makna yang selalu saling berkorelasi.

Jika demikian adanya maka manusia dilihat dari fungsinya terhadap lingkungan hidupnya, seseorang yang berfungsi baik akan membawa kebaikan terhadap setiap orang yang ditemuinya dalam kehidupan yang sementara ini, sedangkan seseorang yang tidak berfungsi dengan baik akan hanya membawa kerusakan bagi lingkungan hidupnya. Manusia adalah makhluk sosial dimana manusia hidup berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Jikalau manusia berbuat buruk terhadap lingkungannya maka lingkungannya tidak akan mengharapkan kehadirannya diantara mereka. Kebiasaan manusia untuk tidak menjadi yang dibenci oleh manusia lain, jadi berbuat baik memang benar adanya bahwa bagi orang yang buruk sekalipun jika bertemu dengan orang yang santun, ramah dan baik akan senang. Jadi kebaikan adalah sifat universal, dengan artian jika mendapat bentuk kebaikan dari orang lain setiap orang akan merasa suka dan senang dengan orang tersebut.

Itulah kehidupan, tentang bagaiman kita dapat sebaik mungkin dapat melaksanakannya, memilih setiap persimpangan jalan pilihan hidup dengan sebijak-bijaknya, melakukan kesalahan dan belajar dari padanya, dan memiliki kemampuan untuk tidak jatuh kedalam lubang yang sama. Namun sebesar apapun manusia belajar dan berkarya tetap saja mereka tidak dapat menghindari diri dari kematian itu sendiri. Karena kematian tetaplah suatu kepastian yang pasti terjadi. Tidak ada yang bias bersembunyi dari padanya, ada yang bilang setelah itu ada surga dan neraka, maka pilihan dilakukan dari sekarang, siapakah yangpantas masuk kedalam salah satunya pasti dilihat dari apa yang dilakukan semasa didunia. Semoga kita semua adalah manusia yang berfungsi baik bagi sesama, sehingga makna kita yang telah hadir di dunia ini akan membawa kebaikan bagi semua yang dengan begitu akan memberikan arti dari kehidupan yang bermanfaat dan bukan menjadi makhluk yang membawa keburukan bagi orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna dan dunia itu hanya sementara.

Baca terusannya......

Beberapa Keuntungan Untuk Tidak Dapat Melihat Masa Depan


Dalam kehidupan diatas bumi ini dimana kini kita berada dalam wujud sebagai manusia, terlahir tanpa mengetahui apa-apa dan tanpa pernah merasa memilih untuk terlahir dari siapa dan sebagai siapa. Salah satu hal yang menakjubkan dalam kehidupan ini dimana kehidupan itu sendiri terasa sangat menakjubkan, tidak kita mengetahui apa yang membawa kita menjadi seperti sekarang ini. Mungkin sebagian dari kita mengatakan bahwa semua ini adalah hasil usaha keras kita seorang diri namun benarkah?, mengapa ketika ditanya lebih jauh tentang kebaikan yang telah terjadi dan pernah kita akui sebagai bentuk dari kehebatan kita pada akhirnya kita sebut sebagai nasib baik, dimana kita yakin bahwa kita hanya menjalankan dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Disini jelas bahwa walaupun kita yakin akan apa yang kita lakukan namun pada perwujudannya dalam kenyataan tidaklah selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Mungkin bisa melenceng jauh entah itu menjadi jauh lebih baik atau mungkin menjadi jauh lebih buruk.

Salah satu misteri dunia ini yang selalu diusahakan untuk dijawab oleh para manusia adalah masa depan, dimana manusia sering melakukan prediksi dan juga analisis secara seksama dan penuh dengan perhitungan, namun pada kenyataannya manusia tetap saja tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi nantinya, walau sudah dicoba untuk diterka namun jawaban selalu berpihak pada kenyataan sehingga sebagian dari kita sering mengatakan “biar waktu yang menjawabnya”.

Menjalani hidup ini adalah suatu ketetapan bagi mereka yang hidup, entah itu dengan tujuan atau tanpanya, tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi didepan, namun alam telah berjanji dimana kita sebagai manusia akan menuai apa yang kita tanam, sebagai contoh nyata dan dapat dilihat adalah jika kita sedang berkebun, ketika seseorang menanam tomat, misalkan, maka ia akan mencari benih tomat, menanamnya diatas tanah, maka yang nantinya akan tumbuh adalah tomat, tidak mungkin yang tumbuh adalah durian atau mungkin jeruk dan pepaya. Dengan kata lain si penanam mendapatkan apa yang diharapkannya yaitu tomat, namun jika sang penanam adalah seorang yang telah kehilangan akal sehat beserta pikiran jernihnya maka ia akan mengharap durian dan juga pepaya atau mungkin jeruk walau yang ia tanam adalah benih tomat. Dengan demikian yang terjadi pada diri sang penanam adalah suatu bentuk ketidak-rasionalan dan juga angan-angan kosong yang tidak beralasan. Namun keadaan manusia kini walau penuh dengan mimpi dan keinginan maka haruslah disesuaikan dengan apa yang bisa ditanamnya, menemukan benih yang tepat dan penuh dengan harapan. Dimana manusia dengan begitu tidak menjadi sekedar seorang pemimpi yang muluk-muluk dan kosong, hanya mengharap keajaiban yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan normal.

Anggap saja kalau keajaiban itu tidak ada walau diawal tulisan ini penulis menyebutkan nasib baik, namun nasib baik adalah suatu rentang yang panjang, bukan terpatok pada satu kejadian saja. Yang berarti bahwa nasib baik merupakan suatu rangkaian kejadian yang berurutan, dalam kejadiannya beringgungan dengan nasib buruk sekalipun menciptakan suatu ketetapan dalam kehidupan yang membawa manusia pada akhir hayatnya. Jadi yang terjadi bukanlah keajaiban walau penuh dengan kebetulan dan juga keberuntungan. Setiap langkah manusia diyakini telah diatur oleh yang maha kuasa dan manusia yang mengaku memiliki free will merupakan suatu ketetapan dari yang maha penyayang. Manusia tidak menciptakan tindakannya sendiri melainkan telah diatur sedemikian rupa dari awal lahir hingga akhir hayatnya. Dengan adanya hal itu maka dengan baik manusia tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian waktu terhadap dirinya sendiri atau terhadap segala sesuatu yang berada diluar dirinya. Disinilah keuntungan yang akan di bahas dikarenakan jika seorang manusia mengetahui apa yang akan terjadi maka manusia memiliki kesempatan guna mengubahnya dan memberikan kemampuan bagi manusia untuk mengetahui kebaikan dan keburukan sebelum waktunya, jika sudah demikian maka habislah cerita kita diatas bumi ini. Kita tidak lagi perlu melakukan apa-apa, diam saja dan bertindak yang perlu, semua menjadi kacau karena ada satu kebenaran yang telah datang dan menetap serta diketahui dan dipahami.

Hidup itu penuh dengan kejutan dikarenakan banyak ketidak pastian sedangkan satu-satunya kepastian yang pasti datang dan akan dialami hanyalah kematian. Kematian sendiri dianggap sebagai akhir dari kehidupan dunia. Kepastian itu akan datang namun yang mengherankan adalah mengapa kita masih saja melakukan hal yang sia-sia jika yang pasti itu hanyalah kematian itu sendiri (termasuk penulis sendiri...hehehe). jawabannya adalah walaupun kematian adalah suatu bentuk dari kepastian namun tidak ada yang pernah mengetahui kapan tepatnya akan terjadi, semua mencoba untuk memprediksi tapi yang terjadi hanyalah persangkaan yang terkadang dan sering kali luput dari yang akan terjadi. Masa depan adalah misteri, masa lalu adalah suatu keabadian dan hari ini atau saat ini adalah anugerah, ketiganya sangat berkaitan satu sama lain, bersifat integral dan tak mungkin bisa dipisahkan. Dalam berpikir tentang apa yang telah terjadi sebelumnya, kita sebagai manusia jelas berjalan dnegan waktu yang terus bertambah, detik-demi-detik kita lewati, saat kita sadar akan waktu dan kita menyebut kata “sekarang”, dan menatap kedepan penuh dengan kabut ketidak pastian.

Kembali kepada fokus penulisan dimana keuntungan atas ketidak tahuan diri kita terhadap apa yang akan terjadi didepan adalah agar “saat ini” kita gunakan dengan baik, sehingga apa yang terjadi didepan baik pula keadaannya. Dengan berbekal masa lalu sebagai pengalaman dan pembelajaran, maka saat ini kita gunakan agar mendapat kebaikan didepan hari nanti. Masa depan itu adalah suatu bentuk pohon misteri, dimana bibitnya adalah masa sekarang yang dipupuk dalam tanah masa lalu. Namun pohon itu tidak akan menjadi pohon yang baik jika tidak diberikan bibit yang baik. Hukum alam adalah ketetapan, dan masa depan ditetapkan untuk tidak diketahui, kita hanya bisa berprasangka, dan lebih banyak meleset dari pada terbukti.

Maka dengan tidak diketahuinya apa yang ada didepan menguatkan kepercayaan dalam diri setiap orang, mereka menetapkan dan mencapai apa yang mau mereka peroleh dalam masa depan nanti, dalam bentuk harapan, mimpi dan doa. Sehingga mereka berusaha dengan giat dalam menggapainnya. Tidak perduli karena memang masih kosong, belum ada yang ditetapkan didepan sehingga mereka yakin dapat mengisinya dengan apa yang mereka harapkan sendiri. itulah bentuk keuntungan yang paling besar dari tidak mengetahui masa depan. Karena dengan belum ditetapkannya apa yang akan terjadi membuat kita menjadi yakin akan ada jalan menuju apa yang kita inginkan. Walau kita percaya terhadap takdir, dan jika begitu maka lakukanlah kerena memang tidak ada pengetahuan kita tentang apa yang menjadi takdir itu sendiri, walau semua sudah ditetapkan, tapi tetap kita juga yang akan membuka tabir ketetapan itu sehingga kita mengetahui apa yang sebenarnya benar itu sendiri.

Baca terusannya......

Makna Pejuang


Setiap orang bebas mengartikan apa yang mereka ingin artikan, setiap orang memiliki pandangannya sendiri sesuai dengan apa yang ia pelajari, rasakan dan alami. Berjuang adalah melakukan sesuatu demi mencapai suatu tujuan, dan tujuan semua orang dalam kehidupan yang sementara ini adalah berbeda-beda, dan ada juga yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Namun bagi mereka yang memilikinya, tujuan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan, namun bagi para pejuang tujuan merupakan harapan. Dimana saat berjuang mereka memiliki kepercayaan mereka sendiri terhadap suatu hal, entah itu masuk akal bagi orang lain ataupun sangat tidak masuk akal bagi orang lain. namun didalam diri setiap pejuang selalu ada yang namanya kepercayaan, keyakinan yang akan selalu dipertahankan sampai titik darah penghabisan.

Makna dari pejuangan adalah melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan prinsip dan mencapai tujuan, mati dengan gagah ketika menggenggam erat kepercayaan yang dimiliki adalah sebuah kehormatan bagi setiap pejuang. Kematian dan rasa sakit bukanlah halangan karena apa yang sebenarnya dipercayai adalah keyakinan kuat dalam hati yang tidak mudah diombang-ambing oleh keadaan. Tujuan merupakan harapan, karena dengannya akan jelas jalan mana yang akan dituju, walau itu jurang sekalipun, walau itu laut sekalipun, atau mungkin api sekalipun. Namun dengan keyakinan dan tekad yang bulat semua menjadi terasa manis dan mudah.

Yakin adalah keharusan bagi setiap pejuang, terlepas dari itu salah atau benar, tidak pernah perduli dengan apa yang ditentang oleh orang lain, setiap rintangan hanya akan membuatnya semakin kuat jika berhasil dipatahkan. Kematian yang dialami terkadang berada dalam keadaan yang bersemangat, namun bukan mati dalam keadaan hina karena berkhianat terhadap diri sendiri, keyakinan sendiri dan kemauan sendiri. mati dalam keadaan terpuji, bukan terhina jika yang dipertahankan adalah kepercayaan dan keyakinan. Tidak akan bisa dibutakan oleh apapun, mengorbankan segalanya mulai dari harta, jiwa serta orang-orang yang dicintai. Hanya dengan berbekal kehendak melakukan apa yang dipercaya dan diyakini secara pasti.

Mentalitas seorang pejuang tidaklah mudah didapat, melainkan hal itu adalah suatu berkah yang datang dari langit, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah. Namun juga bukan otak dan hati yang menjadi penopang keyakinan para pejuang melainkan roh yang ada pada diri, yang sudah menyatu dengan kesemuanya dan mengambil alih segala sisi tubuh. Membakar, menyalakan semuanya, membawa pada titik tertinggi dari kemanusiaan itu sendiri. perjuangan tanpa henti, maju dengan tenang, tak kenal lagi takut, ataupun keberanian melainkan keyakinan, hanya yakin-yakin dan yakin saja yang dimiliki. Percaya, entah apapun tentang yang ada didalamnya. Mentalitas dimana siksaan sekalipun tidak akan menyurutkan tujuan, semua telah dilampaui hingga rasa yang paling pedih sekalipun.

Pejuang adalah mereka yang benar, karena mereka berani mempertahankannya dengan sekuat tenaga, mengikuti apa kata hati, tidak terjebak dalam pemikiran busuk yang penuh tipu daya, melainkan mereka yang berjuang dengan hati nurani. Mendengarkan bisikkan-bisikkan hati menuntun mereka kepada tujuan yang paling mulia. walau terkadang bertemu dengan mereka yang menentang apa yang kita perjuangkan dan juga menentang apa yang kita pertahankan, mencoba untuk meruntuhkan, mencoba untuk menghancurkan, dan itu sudah biasa terjadi dalam sesuatu bentuk perjuangan. dianggap remeh dan dianggap yang tidak-tidak bukan hanya oleh mereka yang tidak mengerti tentang diri kita melainkan dari mereka yang dicintai. tidak takutnya diri ini dalam kehilangan segala macam hal yang kita sukai sebelumnya entah itu dalam bentuk barang atau bahkan orang-orang yang kita cintai. pengorbanan dengan seluruh jiwa dan raga demi satu tujuan.

Baca terusannya......

Hidup Untuk Kehidupan


Didalam kehidupan ini kita semua yang membaca pastilah terlahir sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran. Itulah yang menjadi kelebihan manusia yang menyebabkan kita disebut sebagai makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Manusia hidup dibumi dengan makhluk-makhluk yang lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Manusia sangat bergantung kepada alam dan alam tidak sedikitpun bergantung kepada manusia, namun dengan akal dan pikirannya manusia melakukan tindakan-tindakan yang berujung pada penaklukan alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Hal ini sebenarnya adalah baik jika manusia melakukannya dengan wajar dan juga memberikan juga kebaikan kepada alam itu sendiri dan bukannya hanya berserakah diri untuk mengeruk semua dari alam untuk dikonsumsi.

Maksud dari tulisan ini adalah mencoba memberikan masukkan kepada para manusia agar membuat kesementaraan ini sebagai manusia untuk kepentingan alam itu sendiri, atau dengan gamblang dikatakan hidup untuk kehidupan. Setidaknya manusia selalu mengkonsumsi segala macam makanan dan minumannya yang berasal dari alam, belum lagi segala macam keperluan sekunder yang kini dianggap sebagai kebutuhan primer oleh manusia merupakan hasil alam. Dari sini dalam keadaan bumi yang menurut para ahli sedang sekarat ini karena terjadinya pemanasan global, maka seharusnya manusia-manusia sadar bahwa bumi ini diciptakan bukanlah untuk dirusak melainkan untuk dipelihara, karena hingga saat ini manusia masih hanya bisa hidup dibumi, dan tidak di tempat lain. dibumi ini nanti kelak akan lahir manusia-manusia dari generasi yang baru, dan mereka akan hidup dalam bumi yang sama dengan bumi dimana kita hidup. Jadi janganlah apa yang ada pada bumi sekarang menjadi rusak karena perilaku serakah manusia, segala kekayaannya bukanlah untuk dihabiskan sekarang melainkan untuk dilestarikan agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang nanti.

Kehidupan itu sendiri merupakan anugrah, dan mengapa sebagai manusia daripada kita menjadi perusak lingkungan, kenapa tidak kita membantu
proses kehidupan seperti ikut serta memelihara tanaman dan juga mengembangbiakkan hewan, yang dengan demikian maka kita sebagai manusia ikut serta dalam melestarikan alam yang kita miliki. karena manusia sangatlah bergantung terhadap alam dan alam tidak membutuhkan manusia sama sekali. jadi ibaratnya kita ini hidup bersama-sama dengan alam jadi berikanlah juga kasih sayang kepada alam sehingga alampun akan bersikap ramah terhadap kita.

Bencana banjir adalah bentuk dari tindakan buruk dari manusia terhadap alam yang akhirnya merugikan manusia sendiri, kebiasaan manusia yang mengeksploitasi alam akhirnya menimbulkan tidak berfungsinya alam sebagai mestinya, perusakan hutan, pengurangan daerah resapan dan juga pengotoran dengan membuang sampah sembarangan mengakibatkan air hujan tidak dapat lagi dibendung, begitu hujan deras datang maka keseluruhan airnya meluap pada tempat hidup lingkungan manusia. manusia juga yang mendapatkan akibat buruk dari perilaku buruknya kepada alam.

banjir hanyalah salah satu contoh saja, dan masih banyak contoh lain yang dapat diambil menjadi pelajaran bagi manusia dalam berinteraksi dengan alam. keserakahan manusia adalah bentuk dari upaya bunuh diri yang dilakukan oleh manusia terhadap dirinya sendiri, dikarenakan dalam memuaskan keserakahannya manusi melupakan hak alam dan terus saja melakukan kerusakan terhadapnya.sehingga pada akhirnya alam membalas semua perbuatan manusia dalam bentuk bencana dan ketidak bersahabatan alam.manusia yang kini hidup didalam masayarakat modern tidak lagi mengenal alam sebagai mitra dalam kehidupan, tetapi lebih mengenalnya sebagai budak yang dapat diperintah apa saja, mereka lupa kalau hewan dan tumbuhan juga merupakan makhluk hidup yang bernafas, mereka lupa kalau tumbuhan dan hewan terhubung dalam suatu mata rantai kehidupan, sehingga jika salah satu ada yang mengalami perubahan maka menimbulkan dampak terhadap yang lainnya.

dengan demikian maka keselarasan antara manusia dengan alam haruslah tercipta, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, sikap saling menghormati alam haruslah tumbuh dalam diri setiap individu dikarenakan manusia bukanlah makhluk yang mampu bertahan hidup tanpa alam disekitarnya. kehidupan manusia untuk kehidupan adlah sebuah jalan dimana manusia membantu proses pertumbuhan alam bebas dan melestarikan semua dengan hati yang ikhlas, sehingga manusia terbebas dari belenggu keserakahan akan mengeksploitasi alam yang pada akhirnya akan merugikan umat manusia sendiri seperti yang terjadi pada masa sekarang ini.

Baca terusannya......

Topeng-Topeng Sosial Manusia Modern dan Penyakitnya


Manusia modern cenderung sibuk dan berusaha untuk mengikuti serta menyesuaikan diri dengan kehidupan modern mereka. Didalam diri mereka selalu merasa kalau dirinya melakukan apa yang sebenarnya mereka inginkan padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka melakukan apa yang menjadi tuntutan orang lain (sosial) kepada mereka. Dalam tulisan ini akan coba penulis jabarkan mengenai beberapa hal yang menyangkut dengan modernisasi dan juga globalisasi serta efek-efek buruk yang didapat oleh manusia-manusia didalamnya, diusahakan dalam tulisan ini tidak dijelaskan mengenai solusi dari apa yang seharusnya dilakukan dan apa cara yang dapat menyelamatkan, mengingat kemungkinan akan dibahasnya hal tersebut dalam tulisan yang lain.

Dengan begitu rajinnya manusia modern mengikuti perkembangan jaman mengakibatkan mereka sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan. Arus informasi tiada henti akibat globalisasi yang mengubah dunia seperti tanpa jarak, mengakibatkan perubahan yang begitu cepat didalam masyarakat, trend demi trend datang dan pergi, menyerbu serta menuntut setiap orang yang ingin terlihat modern untuk berlomba dalam mendapatkan dan mengenakan simbol-simbolnya. Entah itu dalam bidang otomotif, teknologi, fashion, makanan, pengetahuan, profesi dan berbagai macam lainnya. Dunia industri maju yang didominasi oleh negara maju didukung dengan globalisasi informasi yang berfungsi memudahkan promosi, telah berimbas buruk bagi negara-negara berkembang dimana persaingan terasa sangat tidak adil lagi. Tingkat pemahaman dan pengalaman masyarakat yang masih minim dinegara-negara berkembang mengakibatkan terjadinya distorsi yang sangat merugikan, seperti di Indonesia rasanya telah disusupi oleh hal-hal berbau asing yang sewajarnya tidak ada didalam negara ini, yang pada dasarnya merupakan negara yang masih berkembang.

Teknologi dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang berfungsi sebagai peningkat kualitas kehidupan manusia, seperti mempermudah apa yang sebelumnya sulit dan memperbaiki apa yang sebelumnya buruk. Dengan demikian maka seharusnya manusia modern adalah manusia yang lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dikarenakan apa yang menjadi fokus kehidupannya telah ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada digenggaman mereka. Namun pada kenyataannya manusia modern menjadi manusia yang tenggelam dalam teknologi dan kecerdasan mereka sendiri, seperti istilah senjata makan tuan. Hal ini diakibatkan oleh ketidak-siapan manusia modern itu sendiri dalam menerima semua pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, hal ini ditunjukkan dengan penurunan kualitas manusia dan kemunduran nilai dalam berperilaku.

Tingkat kualitas manusia yang tidak siap dalam menerima seluruh teknologi dan arus informasi yang ditawarkan dunia mengakibatkan mereka yang ingin mengikuti semua perkembangan ini menjadi kehilangan diri mereka sendiri, terlalu cepatnya semua datang dan pergi membuat mereka tidak sempat memikirkan apa yang sebenarnya menjadi keinginan mereka dan yang mereka ketahui adalah hanya apa yang diinginkan oleh orang lain (sosial). semua ini mengakibatkan manusia modern menjadi manusia yang kosong karena kehilangan makna dalam kehidupannya, walau keseluruhan simbol modern telah melekat pada diri mereka. Para manusia modern yang sudah ditambal dengan simbol-simbol modernisasi pada diri mereka tersebut menjadi manusia yang terasing walau berada dalam keramaian sekalipun, mereka menjadi kehilangan makna dalam hidup serta kehangatan dari orang lain karena segalanya telah diatur oleh keinginan orang lain (sosial) yang bukanlah keinginan luhur yang ada pada diri mereka sendiri. keadaan ini oleh para sosiolog disebabkan oleh baberapa hal, pertama, perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, kedua, hubungan antar manusia sudah berubah menjadi suatu hubungan yang gersang, ketiga, lembaga tradisional sudah berubah menjadi lembaga rasional, keempat, masyarakat yang homogen sudah menjadi masyarakat yang heterogen, kelima, stabilitas sosial sudah berubah menjadi mobilitas sosial. dari kelima aspek aspek tersebut merupakan apa yang menjadi dasar perubahan yang terjadi pada manusia modern untuk menjadi manusia yang kosong dan kehilangan makna.

Dalam hal berhubungan dengan orang lain manusia modern cenderung memakai topeng-topeng sosial, sehingga mereka kehilangan kehangatan dari sebuah hubungan bahkan jika sudah parah maka hubungan yang intim sekalipun tidaklah terasa hangat. Hubungan yang gersang ini diakibatkan perilaku yang mereka wujudkan bukan berasal dari diri mereka sendiri melainkan dari tatacara yang telah diatur oleh orang lain (sosial), sehingga ketika berkontak sosial dengan orang lain yang dirasakan hanyalah bahwa orang lain yang sedang berada didepannya jugalah pengguna topeng seperti dirinya, menjadi penuh curiga ketika diberi pujian bahkan ketika diberikan sapaan oleh orang lain. jika telah begitu maka betapa beratnya hidup manusia modern tersebut.

hausnya manusia modern terhadap apa yang namanya makna dan kehangatan merubah mereka menjadi manusia-manusia yang tampak hangat diluar namun terasa dingin didalam, seperti topeng-toprng yang saling menipu satu sama lain dengan mengaku sebagai wajah asli, senyumannya tidak tulus dan penuh dengan tipu daya. walau sudah separah itu namun jalan untuk keluar dari penjara manusia modern itu maka setiap manusia yang sudah merasa muak terhadap kepalsuan yang selalu mereka perankan haruslah mendobrak pintu agar dapat menemukan suara hati nuraninya yang paling mendalam, karena hanya ada disanalah kejujuran yang sebenarnya dalam menentukan sikap terhadap diri sendiri.

Baca terusannya......

Anda Adalah Apa Yang Anda Pakai dan Anda Miliki


Kini telah muncul suatu aliran sesat, dengan paradigma “Anda adalah apa yang anda Pakai atau apa yang anda Miliki”, menjadi salah satu bentuk agama didunia ini, tidak diketahui kapan tepatnya cara pandang ini muncul, mungkin sejak adanya manusia itu sendiri atau merupakan cara pandang ter-rendah dari manusia, tapi di masa modern seperti ini keberadaannya semakin terasa menguasai dan mengepung alam pikiran kita tak perduli siapapun orangnya. Inilah yang terjadi dengan kemajuan teknologi pesat yang tidak diimbangi oleh kapasitas manusianya. paradigma ini telah secara terang-terangan menyama-ratakan derajat manusia dengan benda-benda mati, dan jelas sekali kalau ini adalah kesesatan yang nyata.

Yang semakin parahnya lagi kesesatan yang nyata ini menjadi agama bagi segelintir orang yang telah dianutnya dengan sangat fanatik. Sebagai contoh, penulis sering bertemu dengan orang-orang yang kehilangan kepercayaan dirinya ketika tidak mengenakan pakaian-pakaian dengan merk terkenal yang harganya selangit, atau mereka juga tidak mau makan ditempat-tempat yang “biasa saja” dalam pandangan mereka, juga sering mencela orang lain karena menggunakan barang-barang yang mereka anggap telah ketinggalan jaman. Yah diluar sana dalam kehidupan sehari-hari pasti contoh-contoh seperti itu sudah dianggap wajar dan bagi mereka yang sudah terjebak dalam kesesatan yang nyata menganggap memang seharusnya begitu.

Jelas ini adalah bentuk dari DEHUMANISASI, yaitu pelecehan terhadap harkat dan derajat juga martabat manusia, dan dehumanisasi yang terjadi ditengah masyarakat ini semakin di perkuat dengan iklan-iklan yang ditayangkan televisi, media cetak dan berbagai macam media komunikasi massa yang lain, iklan-iklan itu seperti membacakan ayat-ayat suci agama kesesatan yang nyata tadi dengan mengulas jargon-jargon yang sangat-sangat melecehkan martabat manusia, ada iklan yang secara sadar melakukannya dan juga ada yang secara terlihat tidak sadar tapi memiliki maksud-maksud yang menjurus pada dehumanisasi. Sebagai contoh yang paling kentara adalah pada iklan pakaian mahal bermerk internasional yang mengusung kata-kata “you are what you wear”, kenyataan ini cukup menyedihkan bukan? Lalu pada iklan makanan yang enak, lezat, mahal dan berkualitas internasional menggunakan kata-kata “you are what you eat” kalau yang ini jelas sungguh menggelikan dan menyedihkan, dan yang paling menyedihkan dan sama menyedihkannya dengan yang lain adalah kata-kata “you are what you drive” pada iklan mobil yang mahal jelas. Untuk yang secara tidak sadar mungkin hampir setiap iklan yang muncul melakukan itu, memberikan ide-ide kepada para penonto atau pembaca agar masuk kedalam peta mental “anda adalah yang anda Pakai atau apa yang anda Miliki”

Dari kata-kata itu telah dikuatkan pandangan bahwa anda adalah pakaian mahal, anda adalah jam tangan, anda adalah sepatu, anda adalah makanan yang anda makan, anda adalah mobil, anda adalah motor dan anda adalah benda tak lebih dan selalu kurang. Lalu siapakah anda yang tidak memiliki itu semua? Siapakah anda yang naik angkot untuk beraktifitas? Siapakah anda yang hanya mampu membeli pakaian bekas atau dengan kualitas rendahan? Siapakah anda yang makan dengan tangan di pinggir jalan dengan kondisi buruk yang jauh dari kebersihan? Apakah anda yang tergolong dalam mereka yang tidak memiliki harga diri?. Cara memandang manusia dengan cara ini jelas adalah pelcehan terhadap kemanusiaan, berarti telah sama harga manusia dengan benda mati, telah sama harga manusia dengan benda ciptaan tangan manusia sendiri, telah masuk kembali kita ke dalam jaman penyembahan berhala yang lebih modern, dengan artian adalah manusia jaman jahiliyah yang hidup dalam gemilang teknologi masa depan, atau bahkan jauh lebih parah dari jaman itu.

Kembali ke ayat-ayat iklan, mungkin para pembaca yang sangat manusia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan iklan-iklan itu, tapi coba tolong lebih peka dan bandingkan dengan yang tidak sesat, atau anda sendiri telah menganggap penulis ini sedang mengalami sakit jiwa, tetapi ternyata kemungkinan yang lebih besar adalah anda sekalian telah terjebak dan terikat kuat dalam paradigma “anda adalah apa yang anda Pakai dan apa yang anda Miliki”. Ternyata ayat-ayat itu hanya alat pencari keuntungan bagi para produsen, lihat saja sekarang ini biaya iklan bisa hampir lebih separuh dari biaya produksi itu sendiri.

Manusia memiliki dimensi-dimensi-nya sendiri yang membedakan dirinya dari benda mati, tumhbuhan dan juga hewan, manusia memiliki dimensi fisik yang pada dasarnya adalah dimensi terendah dalam kehidupan, lalu ada dimensi mental-psikologi yang membuat manusia bisa berpikir dengan rasio, menentukan arah yang ia tuju, menciptakan ciptaan-ciptaannya sendiri, menciptakan mimpi dan sebagainya. Lalu ada dimensi sosial-emosional yang mengakibatkan kita bisa bermain dengan orang lain atau melakukan hubungan dengan mereka juga adanya rasa empati dan saling berbagi diantara manusia dengan lingkungannya, dan dimensi spiritual yang menghubungkan manusia dengan penciptanya,jadi manusia dapat bersyukur dan mengenal penciptanya dengan seharusnya.

Hal-hal diatas tadi adalah unsur utama pembeda antara manusia dengan makhluk atau benda lain yang ada di dunia ini, menurut pandangan penulis, sehina-hinanya manusia dia tetaplah manusia dan begitu juga ketika melihat orang-orang yang mulia mereka tetaplah manusia, kebutuhan dasar manusia pun tidak jauh dari makan, minum, kawin dan memperoleh keturunan, jadi apa yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain, itu semua tergantung bagaimana kita memandangnya, tapi cara pandang kita adalah diri kita yang sebenarnya, jadi jika kita memandang dengan cara kita yang menentukan siapakah diri kita ini. Yang jelas sekali adalah ke-ada-an fisik adalah dimensi ter-rendah manusia.

Semua orang ingin diperlakukan secara manusiawi, secara wajar sebagai manusia, tanpa harus dipandang bentuk wujud dan lingkungannya, tak perduli ia miskin atau kaya, yang paling mudah adalah kita membiasakan diri untuk melihat manusia lain bukan dari gaya-nya, bukan dari keturunan-nya, bukan dari rumah megah-nya, bukan dari mobil-nya, bukan dari kekayaannya, melainkan dari keahliannya dalam suatu bidang atau banyak bidang, Amal saleh yang telah ia lakukan, kemanfaatan dirinya dalam lingkungannya, dan akhlak pribadi yang dimiliki oleh dirinya. Tidakkah menyedihkan para manusia yang hanya memiliki gaya, kemewahan, wajah yang tampan dan cantik, pakaian yang indah-indah tapi tidak memiliki akhlak yang baik, cuma menjadi penyebar penyakit di dalam lingkungannya, dan bahkan tidak memiliki keahlian sedikitpun dalam bidang apapun, dan merupakan orang yang memiliki kelakuan yang buruk.

....maknanya, ilmu pengetahuan manusia, adab kesopanan, ibadah, kedermawanan serta akhlak dan moralitasnya adalah nilai diri yang sebenarnya dan bukan wajah, gaya dan kedudukannya. (Ali Bin AbiThalib)

Baca terusannya......
everyone is the chosen one