Wednesday, November 18, 2009

Jendela Hati Menuju Kematian


Sangat ironi jika manusia telah melupakan hakikatnya sebagai makhluk ciptaan tuhan, dalam tulisan ini penulis akan berusaha memberikan suatu paradigma baru dalam melihat kehidupan yang kita alami dalam bumi ini. Ketika manusia tenggelam dalam nikmat duniawi yang telah membutakannya, atau juga dalam nikmat dendam ketika mereka sudah biasa menikmati apa itu arti rasa sakit. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat merdeka 100% walau mereka sangat menginginkannya, walau mereka sangat menyukainya, walau mereka sangat mengharapkannya, ketika mereka mulai ingin mengalahkan kematian, yang sampai saat ini tidak mungkin dilakukan, berbagai macam usaha telah kita lakukan untuk menunda suatu kepastian yang paling pasti terjadi pada setiap manusia yaitu kematian. Mulai dari obat-obat untuk kesehatan hingga adanya dokter-dokter yang bertugas untuk menyembuhkan suatu penyakit. Manusia selalu menghindari kematian padahal mereka selalu tahu kalau kematian merupakan suatu kepastian yang pasti terjadi, sesuatu yang pasti terjadi, walau tidak pernah diketahui kapan akan terjadinya tapi itu pasti akan terjadi.

setiap Manusia selalu terlahir tanpa mengetahui apa-apa, lalu orang tua atau orang yang merawat kita yang memberikan keterangan paling awal tentang apa yang ada di sekitar kita, manusia memiliki proses kehidupan, dari bayi sampai mati dihari tua secara normal. Kita ambil rata-rata umur manusia adalah hanya 60 tahun dan itu bukanlah suatu waktu yang lama, itu adalah suatu waktu yang sangat sigkat dan cepat. Lalu kita akan kemana setelah itu, apakah ada yang terjadi setelah itu atau kita akan binasa saja, lenyap tanpa pernah merasa pernah ada. Dalam setiap agama selalu percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, adanya sesuatu yang terjadi di balik tirai kehidupan, kehidupan dibalik kehidupan. Dari agama-agama itu telah mengajarkan bahwa setelah kematian siapa yang kehidupannya dipenuhi dengan kebaikan dalam dunia maka akan mendapat balasan kebaikan dalam kehidupan setelah kematian itu, sedangkan untuk mereka yang selalu melakukan keburukan dan kejahatan di dunia maka akan menerima suatu balasan yang amat perih dalam kehidupan setelah kematian. Semua hasl ini selalu sama pada setiap agama yang ada. Lalu selain itu manusia juga selalu percaya dan yakin akan adanya alam roh atau adanya alam kehidupan setelah kematian hal itu ditunjukan dengan adanya kegiatan “nyekar” ke kuburan untuk menghormati orang yang telah meninggal terlebih dahulu, atau mungkin ada kegiatan yang lainnya seperti mendoakan arwah orang yang baru meninggal dengan diadakannya tahlilan.

Kepercayaan manusia terhadap adanya suatu bentuk kehidupan lain setelah kematian sangatlah kental walau mereka yang sangat mencintai dunia pasti dengan lantang akan menyangkalnya. Semua manusia yang telah merasa nyaman dan dimanjakan oleh dunia pasti sangat mencintai dunia dan tidak akan pernah mau mati atau bertambah usianya, hal ini karena kita memang diciptakan untuk menjadi makhluk yang dapat mencintai dunia ini, menjadi makhluk yang sangat menyukai apa yang ditawarkan oleh dunia dengan segala kenikmatannya yang membutakan.

Hanya mencoba sedikit berfilsafat dalam kehidupan setelah kematian, bahwa manusia selalu yakin bahwa orang yang telah tiada sebenarnya masih ada, hanya saja mereka berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Sebagian mengatakan tentang hal ini sebagai suatu bentuk dari ketidak terimaan akan hilangnya seseorang dari muka bumi, namun sebagian lagi meyakini bahwa memang ada kehidupan setelah kematian. Dari jaman dahulu hingga hari ini ketika menulis tulisan ini belum ditemukan seorangpun yang dapat hidup abadi, keseluruhan dari manusia akan merasakan mati lebih tepatnya semua yang bernyawa akan mengalami mati dan lebih umumnya segala sesuatu yang berbentuk akan mengalami kemusnahan. Siapapun akan mati, jadi mengapa harus takut dan menghindar. Yang kini menjadi focus dari pemikiran penulis adalah mengapa seseorang harus takut terhadap satu-satunya kepastian, disini dikatakan sebagai satu-satunya kepastian dikarenakan dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, bias saja hari ini kita tertawa-tawa namun esok hari kita menangis meraung-raung. Bias saja hari ini kita sehat dan besok kita sakit. Namun kalau masalah kematian maka suatu hari kita akan mati dan itu pasti terjadi. Jika memang manusia itu akan mati mengapa harus takut? Mengapa kita tidak hidup dengan tujuan kematian itu sendiri, kita hidup untuk apa yang akan terjadi jika saya mati nanti.

Dalam beberapa buku motivasi ala barat yang saya temui dikatakan bahwa tujuan manusia dalam hidup dikatakan baik jika ia nantinya mati dengan kehadiran orang-orang yang dicintainya, fokus hidup adalah dengan membayangkan siapa dan berapa banyak yang datang kepemakaman kita. Maknanya begini, seseorang yang berperilaku baik dan penuh kasih saying kepada orang lain maka akan dicintai oleh orang lain juga. Dengan demikian jika orang baik itu meninggal dunia maka orang-orang yang juga sayang terhadap dirinya akan hadir di pemakamannya, mereka akan merasa sedih karena telah ditinggalkan oleh seseorang yang baik dan penuh kasih sayang tersebut. Dengan demikian makna kehidupan adalah lebih kepada seberapa kebermakanaan kita terhadap lingkungan kita, kembali kepada fungsi dan makna yang selalu saling berkorelasi.

Jika demikian adanya maka manusia dilihat dari fungsinya terhadap lingkungan hidupnya, seseorang yang berfungsi baik akan membawa kebaikan terhadap setiap orang yang ditemuinya dalam kehidupan yang sementara ini, sedangkan seseorang yang tidak berfungsi dengan baik akan hanya membawa kerusakan bagi lingkungan hidupnya. Manusia adalah makhluk sosial dimana manusia hidup berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Jikalau manusia berbuat buruk terhadap lingkungannya maka lingkungannya tidak akan mengharapkan kehadirannya diantara mereka. Kebiasaan manusia untuk tidak menjadi yang dibenci oleh manusia lain, jadi berbuat baik memang benar adanya bahwa bagi orang yang buruk sekalipun jika bertemu dengan orang yang santun, ramah dan baik akan senang. Jadi kebaikan adalah sifat universal, dengan artian jika mendapat bentuk kebaikan dari orang lain setiap orang akan merasa suka dan senang dengan orang tersebut.

Itulah kehidupan, tentang bagaiman kita dapat sebaik mungkin dapat melaksanakannya, memilih setiap persimpangan jalan pilihan hidup dengan sebijak-bijaknya, melakukan kesalahan dan belajar dari padanya, dan memiliki kemampuan untuk tidak jatuh kedalam lubang yang sama. Namun sebesar apapun manusia belajar dan berkarya tetap saja mereka tidak dapat menghindari diri dari kematian itu sendiri. Karena kematian tetaplah suatu kepastian yang pasti terjadi. Tidak ada yang bias bersembunyi dari padanya, ada yang bilang setelah itu ada surga dan neraka, maka pilihan dilakukan dari sekarang, siapakah yangpantas masuk kedalam salah satunya pasti dilihat dari apa yang dilakukan semasa didunia. Semoga kita semua adalah manusia yang berfungsi baik bagi sesama, sehingga makna kita yang telah hadir di dunia ini akan membawa kebaikan bagi semua yang dengan begitu akan memberikan arti dari kehidupan yang bermanfaat dan bukan menjadi makhluk yang membawa keburukan bagi orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna dan dunia itu hanya sementara.

No comments:

everyone is the chosen one