Wednesday, November 25, 2009

Mak Erot, Simbol Kurang Percaya Diri Laki-laki Indonesia


Mak Erot mungkin telah tiada, namun kini keberadaannya telah digantikan oleh para generasi penerusnya. Dalam tulisan ini bukan untuk menyudutkan atau menghancurkan suatu usaha yang dirintis oleh Mak Erot, namun lebih kepada gejala yang muncul di dalam diri setiap laki-laki yang ada di negeri tercinta Indonesia, dan hal tersebut juga bukan karena adanya Mak Erot dan penerusnya, namun kepada kejujuran jiwa maskulin yang ada di dalam diri setiap laki-laki. Di dalam diri setiap laki-laki terdapat hasrat yang besar untuk berkuasa atas segala sesuatu, mungkin tidak dengan kekuatan fisik namun juga dengan kekuatan intelektual bahkan dengan kelmbutan hati. Seperti disepakati bersama walau ini bukan hasil yang jelas dan benar adanya melainkan hanya sebuah stereotip yang menjadi suatu jalan pikiran dan anggapan masyarakat banyak bahwa pria menggunakan 80% logika untuk mengambil keputusan dan wanita menggunakan 80% perasaan untuk mengambil keputusan. Dari pendangan tersebut maka dapat diketahui bahwa yang dominan dalam diri laki-laki adalah otak kiri yang merupakan pusat berhitung dan pembeda antara ‘hitam dan putih”, baik dan benar serta objektivitas. Sehingga laki-laki disebut sebagai makhluk yang paling rasional diantara makhluk-makhluk yang lain. Bahkan terkadang karena rasionalnya sehingga mereka menjadi benar-benar irasional.

Kekuasaan dan kekuatan merupakan idaman setiap laki-laki, bukan hanya itu, laki-laki juga dituntut untuk menjadi perkasa dan mampu menguasai apa yang mau dia kuasai. Bagi sebagian orang menjadi laki-laki adalah suatu anugrah dimana dalam kehidupan ini para laki-laki merupakan kaum yang bebas dalam bertindak, kaum yang berkuasa dalam berkehendak dan memonopoli segala bidang tanpa kecuali. Tapi pemikiran dan sangkaan ini dalam jangka waktu terakhir rasa-rasanya sudah tidak lagi relevan, lihat saja diluar sana kini antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, entah dalam berkarir, mencari nafkah, pemimpin dan lain-lain. sehingga penempatan perempuan dalam hirarki kini disamakan saja dengan laki-laki, tidak ada bedanya, emansipasi berjalan dengan baik. Jadi bukan laki-laki yang diturunkan martabatnya melainkan wanita yang diangkat derajatnya, atau memang tidak pernah ada cara pandang ini sebelumnya dikembalikan kepada cara pandang pembaca.

Dalam keadaan ini nampaknya banyak laki-laki yang kalah dari wanita, karena kesempatan yang sama, yang baru terjadi beberapa dekade terakhir ini, banyak dari mereka yang berjiwa maskulin kolot merasa menjadi rendah diri dan kehilangan harga diri, mereka seakan lupa akan yang mereka selalu utarakan sebagai kejantanan yaitu kata “siapa yang paling banyak berkeringat (usaha) maka ialah yang menang”. Mereka seperti tidak mengikhlaskan adanya sisi maskulin dalam tubuh perempuan yang mengalahkan mereka. Kalau begini jadinya, maka hal ini dikatakan bahwa laki-laki tersebut adalah mereka yang memiliki sisi feminin yang terasah dalam dirinya. Dengan kata lain tidak jantan jika mengeluh mengingat mereka (wanita) memperoleh segala sesuatu dengan usahanya sendiri.

seharusnya pihak yang dikatakan superior kini dapat diartikan bukan lagi berdasarkan seks dan gender, melainkan superioritas ditentukan oleh kemampuan yang dibalut dengan perjuangan, bukan bawaan. Walau ada indikasi bertentangan dengan budaya yang berlaku didalam masyarakat, namun begitulah nyatanya, masyarakat terbentuk dari hasil interaksi antar manusia yang ada didalamnya, membentuk kebudayaan, dan kebudayaan itu sendiri bersifat dinamis, dimana satu-satunya ketetapan adalah perubahan itu sendiri. pergeseran nilai-nilai lama menuju nilai-nilai yang baru jelas sedang terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi hal ini berlaku secara global.

Kembali kepada masalah kenapa praktek Mak Erot menjadi pilihan bagi beberapa laki-laki adalah karena merasa kurang besarnya ukuran “senjata” yang dimilikinya. Dari kenyataan ini mungkin merasa rendah diri dan ingin lebih dari apa yang telah dimiliki, selain itu mengharapkan pujian dari “lawan main” dengan ukuran yang sudah diubah tersebut, yang dengannya diharapkan lawan main juga akan menjadi lebih puas dan senang. namun mengingat ini semua, tampaknya kita (penulis dan mereka) masih dilanda suatu stereotip tentang ukuran dimana menganggap bahwa yang paling besar adalah yang paling kuat dan benar. Mari kita buktikan, bukankah dalam menggunakan senjata lebih berarti tentang siapa yang berada dibalik senjata tersebut, dengan kata lain cara menggunakannya merupakan hal yang lebih penting dari pada senjatanya.

Tingkat kebermaknaan sesuatu sangat bergantung terhadap tingkat fungsinya. Berdasarkan pengalaman beberapa orang ternyata dalam melakukan hubungan seksual, anatomi dan ukurannya tidaklah berpengaruh, namun lebih kepada bagaimana satu sama lain memainkan perannya masing-masing, dikarenakan hubungan seksual bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan pribadi semata, namun pada individu yang melakukannya memiliki fokus untuk memberikan kepuasan kepada lawan mainnya. Dilaporkan bahwa wanita yang mementingkan ukuran semata bukanlah mereka yang mampu mencapai titik puncak kepuasan saat berhubungan, sehingga mereka cenderung menyalahkan lawan main karena keadaan itu, sang lawan main yang telah disalahkan menjadi rendah diri dikarenakannya dan mencoba mencari cara untuk dapat memuaskan lawan mainnya. Secara filsafat kebatinan hal ini bukanlah sekedar kesalahan dari anatomi yang dimiliki namun lebih kepada keadaan diluar ranjang. Coba, mungkin bisa kita telaah lagi, apakah sang pemilik senjata dalam hal ini pihak laki-laki, dan pemilik sasaran dalam hal ini perempuan telah sama-sama memberikan yang terbaik yang mereka miliki satu sama lain. ataukah mereka cenderung kepada sikap hanya ingin dipuaskan tanpa pernah berpikir bahwa sang pasangan juga membutuhkan kepuasan dari dirinya, jika demikian yang terjadi maka yang ada adalah ketidak seimbangan dari hubungan. Sebelum terlalu jauh maka penulis mengartikan semua ini kepada pasangan yang telah menikah, bukan kepada mereka yang melakukan “kumpul kebo”, melihat nilai-nilai kesucian yang dimiliki oleh pasangan suami istri, bukannya untuk keterkutukkan bagi mereka yang menganut paham seks bebas.

Jika dipandang dari sisi ini maka yang terjadi adalah bagaimana seseorang dapat memberikan kesenangan kepada orang lain, dimana cinta menjadi landasan dari semuanya, bukan tentang kepemilikan melainkan tentang bagaimana memberdayakan apa yang telah dimiliki. Dalam hal ini maka yang dibutuhkan adalah tentang suatu rasa syukur yang ada setiap individu, cintai dan syukurilah mereka yang telah menjadi pasangan anda. Karena cinta merupakan kata kerja yang kini telah diartikan hanya sebatas retorika yang tidak bermakna. Arti cinta sebagai kata kerja adalah mencintai, walau dengan cinta saja sudah cukup, tapi ini tetap saja retorika, maka jika cinta maka lakukanlah, berikan perhatian dan kasih sayang, rasakan menggebu-gebunya perasaan terhadap pasangan, tunjukkan kesetiaan dan juga pengabdian dan tamukanlah bahwa kita sedang melakukan cinta, dan ketika itu dilakukan oleh dua orang kepada masing-masing, maka yang terjadi adalah bercinta itu sendiri.

Sebagai laki-laki masalah ukuran jelaslah bukan masalah sekali lagi penulis ingin menegaskan kalau yang terpenting adalah kebijaksanaan dalam menggunakannya, bukan ukuran yang menjadi simbol belaka, jika tanpa fungsi maka akan menjadi sia-sia. Simbolisasi tanpa makna sama saja kering dan kosong, seperti halnya suatu benda yang sudah absolut nilai kebermaknaannya dilihat dari fungsinya. Dengan ini maka lebih baik kita memfungsikan segala sesuatu dengan maksimal, sehingga apa yang kurang menjadi lebih tinggi nilai kebermaknaannya, bukan hanya simbol dalam ukuran melainkan lebih kepada “kejantanan sejati” dalam menggunakannya.

No comments:

everyone is the chosen one