Friday, December 4, 2009

Mengurangi Angka Perceraian Dengan Konseling Pranikah



Tulisan kali ini tentang manfaat konseling pranikah bagi mereka yang akan melaksanakan pernikahan, karena seperti kita tahu bahwa pernikahan adalah sebuah pilihan hidup, dimana antar anggota pasangan akan terjalin hubungan yang bersifat mengikat dan diupayakan agar bertahan untuk selama-lamanya hingga maut memisahkan.



Mengapa Pasangan Bercerai?

Tahukah Anda, berdasarkan berita tertanggal 15 Agustus 2009 (Suara Karya): “Angka perceraian di Indonesia meningkat tajam dalam 5 tahun terakhir. Lima tahun lalu angka perceraian masih di bawah 100 ribu, tetapi kini mencapai lebih dari 200 ribu. Sebagian besar (70%) justru istri yang menceraikan suami (gugat cerai). Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag, Nasaruddin Umar mengatakan sekitar 2 juta pasangan menikah setiap tahun, di sisi lain sekitar 200 ribu pasangan juga bercerai setiap tahun. "Angka perceraian 10 persen dari angka pernikahan ini besar sekali," katanya. Itu berarti terdapat 1 perceraian setiap 10 pernikahan.”

Kutipan berita diatas adalah laporan terbaru dari kuartal ketiga tahun 2009, apakah pernikahan bukan lagi sesuatu yang direncanakan untuk bersifat selamanya didalam bayangan dan harapan mereka yang akan menikah?, dimana seharusnya yang diharapkan dalam setiap pernikahan adalah “sampai maut memisahkan”.

“cinta itu buta”, atau inikah yang telah membutakan mereka sehingga sepasang kekasih berpikir karena mereka saling mencintai maka dapat mengatasi setiap masalah. Sehingga mereka melupakan segala kekurangan masing-masing dan tidak mengambil keputusan dengan pemikiran yang masak.

Banyak sekali penyebab terjadinya perceraian, mulai dari masalah prinsip, anak, ekonomi, perbedaan paham politik, agama, poligami tidak sehat, krisis akhlak, kawin paksa, alasan ekonomi, cacat biologis, tidak ada tanggung jawab (dalam rumah tangga), serta rumah tangga yang tak lagi harmonis. Namun mengapa mereka bisa sampai menikah pada waktu yang lalu jika terdapat suatu perselisihan, atau mungkin benar bahwa mereka telah dibutakan oleh cinta.

Terlebih mereka yang menyimpan rahasia terhadap pasangannya, yang tidak dibuka selama masa pacaran, entah bisa apa saja rahasia tersebut, namun sama saja dengan berbohong jika menyembunyikannya secara menahun. Mereka biasanya akan tetap menyembunyikan rahasia tersebut sampai pernikahan terjadi, dan setelah itu barulah rahasia dibuka kepada pasangannya, alhasil, ada kalanya kekecewaanlah yang didapat oleh sang pasangan.

Kejadian seperti ini biasanya menjadi pemicu dari retaknya tali perkawinan, merasa dikhianati dan juga dibohongi, terlebih merasa telah ditipu. Rasa tidak terima dari salah satu pihak mengakibatkan semakin besarnya masalah dan berakhir dengan perceraian.

Jika saja keterbukaan dan akal sehat digunakan secara baik pada masa sebelum menikah maka ada kemungkinan bahwa segala masalah tidak akan terjadi pasca pernikahan, dikarenakan pasangan telah mempertimbangkan secara masak segala aspek dalam pernikahan mereka, seperti jumlah anak, penghasilan, agama, peraturan dan lain sebagainya.


Konseling Pranikah Sebagai Solusi

Suatu program konseling pranikah dirancang untuk membuat pasangan calon pengantin meningkatkan pemahaman tentang perkawinan dan hubungan antar suami-istri sebagai suatu yang serius. konseling pranikah bukan semata-mata upaya prevensi terhadap kemungkinan gangguan dalam pernikahan yang akan berlangsung, namun juga untuk meningkatkan kualitas hubungan suami-istri yang baik serta memberikan kesejahteraan, rasa aman dan kebahagiaan dalam perkawinan. Dengan demikian maka akar keretakan dari hubungan dapat dihindari sedini mungkin. konseling biasanya dilakukan dengan cara memberikan pelatihan keterampilan menjalin hubungan interpersonal, seperti kemampuan komunikasi dan kemampuan untuk penyelesaian konflik.

Pasangan perlu mempelajari cara yang efektif untuk mengatasi masalah yang timbul sebelum masalah tersebut menumpuk dan meledak dengan terjadinya konflik yang berujung pada kerugian bagi kedua belah pihak. Dalam hal ini, calon suami ataupun istri harus mempelajari bahwa mengatasi permasalahan yang masih tergolong ringan akan lebih baik daripada menimbun masalah menjadi lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Melalui konseling pranikah, kedua pasangan akan menyadari bahwa mereka mendapat kesempatan untuk mengukur kelebihan dan kekurangan masing-masing serta menemukan bentuk kebaikan bersama yang masih dapat terus dikembangkan, juga dengan konseling pranikah pasangan dapat mengetahui hal-hal yang selama ini bersifat mengganggu kelangsungan hubungan di antara kedua pasangan atau salah satu pasangan.

Bekerjasama dalam masalah hubungan saat proses konseling pranikah berlangsung akan menjadikan kedua calon suami-istri mampu mengambil keputusan seputar pernikahan mereka, seperti, apakah akan dilakukan sesuai dengan rencana atau mungkin justru ditunda, serta berbagai kesepakatan lainnya yang telah melalui proses berpikir sehat.

Bagian terpenting dalam konseling pranikah adalah sebagai suatu kesempatan bagi kedua pasangan untuk mewaspadai adanya sikap meremehkan atas keputusan yang mereka akan ambil, menjadikan calon pasangan lebih berpikir kritis akan masa depan hubungan, kebahagian, dan kesejahteraan masing-masing.

Dengan demikian maka pendapat yang menyatakan bahwa bila pasangan saling mencinta maka hubungannya akan dengan sendirinya memuaskan kedua belah pihak menjadi tidak terpakai. Yang dengan demikian pula maka bukan hanya cinta yang membutakan yang dijadikan landasan dari terjadinya suatu pernikahan, melainkan juga hasil dari suatu bentuk pemikiran dan juga pengambilan keputusan yang telah ditentukan secara masak.

sumber:
Kompas
Suara Karya


No comments:

everyone is the chosen one