Sunday, August 15, 2010

Cyberstalkers: Modus Kejahatan di Dunia Maya


pada jaman Internet seperti sekarang dimana segala sesuatu telah dikomputerisasi, ketika arus informasi terjadi tanpa henti, dimana manusia telah terbiasa dengan komunikasi lintas waktu dan ruang. Berhubungan dengan jejaring sosial bersama dengan berbagai macamnya. Kehidupan yang lebih mudah dalam satu sisi namun menebar bahaya yang sama tingginya pada sisi yang lain. sedangkan teknologi melaju tanpa henti, tak bisa lagi dibendung, manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan dalam segala aspek kehidupannya.

Berurusan dengan teknologi dimana pada semangat awal dari dikembangkannya teknologi adalah untuk memudahkan dan mensejahterakan kehidupan manusia, dengan kemudahan yang dihasilkan oleh teknologi tersebut manusia menjadi lebih bisa melakukan segala macam kehendak lain yang dapat mereka lakukan dimana berikutnya diharapkan untuk memberikan kebaikan kembali kepada mereka. Sedangkan kemudahan tersebut bukan hanya dapat menambahkan kesempatan bagi manusia lain untuk berbuat kebaikan namun juga membuka peluang lain bagi kejahatan untuk terjadi.

Stalking adalah perilaku yang muncul dari seseorang yang kita kenal pada kebanyakannya namun juga ada stalkers yang tidak dikenal sama sekali oleh korbannya dikarenakan ia memilih korban dengan secara acak. Dalam bentuk kejahatannya stalkers ada yang bergerak dengan offline atau pada dunia nyata dan ada yang melalui dunia maya dimana pada stalkers yang demikian ini disebut dengan Cyberstalkers, walau pada dasarnya para cyberstalkers tidak hanya menggunakan media internet melainkan juga menggunakan media elektronik lain seperti telepon dan juga berbagai macam alat komunikasi yang lain.

Stalking adalah kata yang digunakan menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana stalking didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnya Stalking digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh orang-orang terkenal (seperti selebritis, bintang film, model iklan) dari seseorang yang tidak ia kenal, dimana orang tersebut (pelaku) telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.

Dalam bidang psikologi dan psikiatri sendiri stalking diartikan oleh Meloy (1998) dan juga Stieger, Burger dan Schild (2008), yang mana oleh mereka suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai stalking jika korban melaporkan sekurang-kurangnya dua bentuk perilaku yang bersifat mengganggu dimana waktu kejadiannya terjadi kurang dari dua minggu dan selalu membentuk rasa ketakutan kepada korbannya.

Stalking telah diterapkan kedalam banyak bentuk dari perilaku, yang juga didasari oleh berbagai macam motif. Obsesi adalah dasar dari perilaku stalking, dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga melakukan kontak dengan korbannya semua ini bertujuan untuk memenuhi keinginannya untuk memiliki kedekatan dengan korban, namun secara “sakit”. Tidak jarang juga bahwa para stalker mengikuti korban sampai ketempat mereka beraktifitas dan sampai ketempat mereka tinggal, juga mereka tertarik terhadap informasi-informasi yang bersifat personal dari korbannya seperti nomor telepon, alamat email, ukuran pakaian, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi. dimana mereka juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai macam hal seperti internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi tentang diri korban, bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat dari korban untuk memperoleh hal tersebut yang jelas dilakukan tanpa ijin.

Karakteristik diri seorang stalker cenderung memiliki kepercayaan yang salah didalam dirinya, terkadang kepercayaan salah itu berbentuk bahwa orang yang menjadi targetnya memiliki rasa cinta kepada sang pelalu. Dasar ini muncul dari kecenderungan Erotomania (suatu bentuk gangguan kepribadian dimana penderitanya yakin bahwa seseorang yang lebih tinggi status sosialnya mencintai dirinya, dan hal ini biasa ditemukan pada pria) yang dimiliki pada seorang stalker. Selain itu perilakunya juga didasari oleh keinginan sang stalker untuk menolong korbannya dari sesuatu yang merupakan khayalan sang pelaku saja, padahal jelas bahwa orang tersebut tidaklah memerlukan pertolongan. Sehingga stalking juga dapat dikemas dalam suatu tindakan yang bersifat legal seperti menelepon, mengirimkan hadiah atau mengirimkan surat dan email. Namun semua itu datang dari orang yang tidak diharapkan dan malahan menimbulkan gangguan dan ketidak-nyamanan, karena sang korban tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari para stalker yang berperilaku berlebihan itu.

Perilaku merugikan sang korban seperti fitnah dan mencemarkan nama baik korban seringkali ditemui dalam suatu kasus, hal ini merupakan suatu cara bagi stalker untuk dapat berperilaku kejam yang merupakan hasrat mereka kepada para korbannya, dilakukan tanpa empati, seperti merasakan apa kira-kira yang dirasakan orang lain dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya, tidak ada rasa empati pada diri seorang stalker, mereka cacat dalam hal tersebut, membuat mereka menjadi lebih sadis, seperti dikatakan oleh Dr. Meloy (1998), bahwa setiap stalker adalah psikopat, yaitu pribadi yang tidak memiliki hati nurani dan memiliki tingkat narsisis yang terlampau tinggi. Selain itu perilaku sadis yang mereka tunjukkan mendapat dorongan dari dalam pikiran mereka yang telah mengalami berbagai macam waham, dan biasanya daripadanya mereka mendapat kesimpulan bahwa diri korban memang pantas diperlakukan dengan cara yang demikian.

Stalker memandang para korbannya buruk dan lemah sehingga dari kepercayaan sesatnya mereka merasa pantas untuk memperlakukan para korbannya dengan buruk atau bahkan berperilaku seperti ingin menolong mereka. Hal ini semakin mendorong waham di dalam pikiran mereka untuk dapat memperlakukan sang korban selayaknya apa yang mereka delusikan, seperti untuk disakiti atau untuk di tolong. Jika mereka menebar fitnah dan juga menyebarkan kejelekan karakter dari sang korban, hal tersebut akan dapat mengisolasi kehidupan sang korban yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan akan kekuasaan bagi stalker dan kendali lebih atas diri korban. Adapun kiranya para stalker melakukan diagnosa terhadap sang korban dengan kesimpulan bahwa sang korban memiliki suatu gangguan mental tertentu yang menyebabkan dirinya perlu untuk diberikan pertolongan atau mungkin perlu disakiti, kepercayaan ini sangat absolut di dalam diri stalker yang mengakibatkan korban merasa sangat tertekan.

Perilaku manipulatif merupakan senjata bagi seorang stalker, tindakan yang bersifat legal namun penuh dengan gangguan adalah salah satu cara dari sikap manipulatif yang mereka miliki. Akan lebih berbahaya jika korban sampai termakan oleh perilaku manipulatif mereka karena seorang stalker menginginkan suatu hal yang cenderung tidak rasional bagi korbannya. Bahkan demi mendapat perhatian dari korbannya tidak jarang ada bentuk perilaku stalker yang sampai mengancam akan melakukan bunuh diri jika tuntutannya tidak dipenuhi. Semua ditujukan agar sang korban mau membuka hubungan dengan dirinya. Bentuk-bentuk ancaman dan kekerasan seperti perusakan barang-barang korban sering kali ditemui dalam kasus-kasus perilaku stalking. setelah menakut-nakuti korban, bentuk kejahatan biasanya berlanjut kepada perilaku kekerasan seksual dan juga penyerangan secara fisik yang dari keduanya dapat menimbulkan bekas yang serius pada jiwa dan raga korban.

Cyberstalker sendiri muncul akibat perkembangan teknologi, dimana seperti diterangkan pada awal artikel bahwa teknologi sendiri membuka kesempatan bagi model kejahatan yang baru. Seperti stalking pada awalnya namun para pelaku cyberstalker dibekali dengan kemampuan komputer yang cukup baik sehingga mereka menjalankan aksinya melalui media komunikasi yang ada pada saat ini. Depkominfo sendiri telah memasukkan cyberstalking sebagai salah satu kejahatan dunia maya seperti yang dilansir dari kantor berita ANTARA, Cyberstalking merupakan segala bentuk kiriman e-mail yang tidak diinginkan penerimaannya dan termasuk tindakan pemaksaan atau "perkosaan". Sedangkan dalam Undang-Undang ITE sendiri semua tertulis dalam pasal 27 dalam bab Perbuatan Yang Dilarang.

Seperti sekarang, ketika hampir setiap orang memiliki akun dalam situs jejaring sosial, katakanlah seperti Facebook, Twitter dan Friendster, dimana manusia terhubung dengan teman, kerabat, saudara, keluarga, mitra kerja atau bahkan dengan seseorang yang tidak mereka kenal sebelumnya sekalipun. dengan demikian maka keempatan orang lain untuk melakukan kejahatan semakin terbuka lebar, seperti penipuan, pencurian akun, ancaman dan menjadi korban fitnah dapat saja terjadi. Era informasi tanpa henti, era dimana bumi menjadi sebuah kampung kecil didalam dunia maya, sebagai contoh, sebuah kejadian diujung dunia dapat segera diketahui oleh penduduk dari ujung dunia yang lain dalam waktu yang sangat singkat, kemajuan yang membanggakan, namun dibelakangnya terdapat bahaya yang mengintai jikalau seseorang tidak berhati-hati dalam menggunakan segala macam kecanggihan ini.

sumber:
http://www.antaranews.com/view/?i=1180489883&c=NAS&s=


Baca terusannya......
everyone is the chosen one