Sunday, September 19, 2010

Tentang Emosi yang Menular


Manusia hidup dengan manusia lainnya, manusia sebagai makhluk sosial, manusia berinteraksi satu sama lain, melakukan kegiatan bersama dan membentuk kehidupannya. Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan atau biasa dikenal sebagai emosi, sesuatu yang ada pada diri menusia berupa rasa dan juga perasaan atas apa yang sedang, akan dan telah ia alami, secara garis besar emosi dapat dibagi menjadi 2 macam, yang pertama adalah yang positif dan yang kedua adalah yang negatif.

Perasaan positif seperti cinta, bangga, nikmat, bahagia dan semangat, sedangkan yang negatif seperti takut, sedih, malu dan marah. Dari kesemua itu datang silih berganti dalam diri seseorang, kebahagiaan dan kesedihan selalu saja ada, namun tetap ditemukan ada salah satunya yang mendominasi keadaan diri dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Dan jelas emosi itu menular, tidak percaya? Coba lihat ketika orang yang kita sayangi menangis karena sedih, bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda akan tinggal diam, atau memeluk orang yang kita sayangi tersebut dan memberikan perhatian kepada dirinya? Demikian adalah contoh kecil, juga ketika kita marah kepada keputusan pemerintah bersama para tetangga kita, atau ketika seseorang bercanda dengan Anda dan teman-teman Anda, apakah Anda tidak tertawa bersama mereka?

Dengan demikian ada pengaruh dari apa yang diri kita rasakan terhadap lingkungan kita,dimana diri kita (begitu juga diri orang lain) menyebarkan emosinya kepada sekitar. Adakalanya kita yang juga ditulari oleh emosi yang dimiliki orang lain. mungkin ada istilah seseorang sedang “sensitif” dimana dirinya tidak bisa diganggu dan menerima orang lain untuk sementara waktu. Namun dari semua keadaan itu diharapkan kepada pembaca yang budiman agar selalu menyebarkan senyum kepada dunia, agar kita menjadi pribadi yang menyebarkan kebaikan kepada sesama.

Wajah adalah cerminan dari emosi kita, dalam hal ini kita belum memasuki tentang kedutan dari wajah yang mempu memberikan kita pengartian akan gejolak yang sedang terjadi dalam diri si pemilik wajah. Dari keseharian kita apabila kita memasang tampang masam setiap hari pastilah orang-orang yang ada disekitar kita akan tidak menyukai kita, dan kebalikannya dengan senyum maka kebanyakan orang lain akan tersenyum juga kepada kita, namun dalam catatan senyum yang kita berikan adalah senyum yang tulus dan bukan senyum yang palsu.

Kembali kepada emosi yang menular, coba kita andaikan dirumah ibu kita sedang bersedih, sudah lebih dari seminggu semua itu terjadi, beliau selama seminggu itu setiap pagi, siang dan malam selalu menangis karena kehilangan kucing kesayangannya, apakah kita akan bisa hidup dalam keadaan baik-baik saja, jelas saja tidak, ada pengaruh yang beliau berikan sehingga kita juga memiliki sesuatu yang mengganjal dalam perasaan kita.

Aristoteles mengatakan “Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, semi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik - bukan hal mudah.” Dalam hal ini ditekankan tentang kemampuan emosional seseorang dimana dalam keadaan yang kacau sekalipun kita haruslah dapat mengendalikan diri kita.

Namun kalau kita dapat mengendalikan emosi dari dalam diri kita lalu bagaimana cara kita untuk dapat mengendalikan apa yang dikeluarkan oleh orang lain, jika saja mereka menulari kita dengan emosi yang negatif, atau bahkan positif. Bagi penulis sendiri keadaan seperti ini haruslah diperhatikan karena kemungkinan kita untuk bertemu dengan emosi-emosi yang tidak kita sangka sebelumnya, menjadikan kita bisa untuk hidup dalam kejutan-kejutan emosional yang sering terjadi dalam dunia sosial.

Dalam hal ini maka juga dibutuhkan kecakapan seseorang dalam mengenali perasaan (emosi) yang ia miliki dan kemudian merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kecakapan emosional seperti yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman di dalam bukunya dibagi menjadi lima wilayah utama, yaitu:

1. Mengenali emosi sendiri, Mengenali perasaan saat perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal yang penting bagi pemahaman diri. Ketidak mampuan mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat individu dalam kekuasaan perasaan. Individu dengan keyakinan lebih memiliki kepekaan lebih tinggi akan perasaan-perasaannya yang sesungguhnya ataas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.

2. Mengelola emosi, Menangani perasaan agar perasaan terungkap dengan tepat adalah kecakapan yag bergantung pada kesadaran diri. Individu yang mampu mengelola emosi akan cenderung mampu menghibur diri sendiri dalam kecemasan, kemurungan atau ketika ketersinggungan muncul emosinya tetap stabil. Individu dengan keterampilan mengelola emosi yang buruk akan terus menerus bertarung dalam kemurungan, sementara yang lain akan bangkit jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.

3. Memotivasi diri sendiri, Untuk mampu memotivasi diri individu harus mamapu menata emosi. Menata emosi untuk menjadi alat mencapai tujuan adalah hal yang penting untuk memotivasi diri dan menguasai diri sendiri. Individu mamapu untuk menahan diri dan mengontrol dorongan ketika muncul keinginan tertentu. Dengan kemampuan ini individu akan menjadi lebih produktif dan efisien.

4. Mengenali emosi orang lain, Mengenali emosi orang lain berarti mampu berempati dengan orang lain, hal ini pun dibangun oleh kesadaran diri. Semakin individu terbuka pada emosinya sendiri semakin terampil individu membaca perasaan orang lain. Setiap hubungan yang merupakan akar kepedulian berasal dari penyesuaian emosional dari kemampuan berempati. Individu yang empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

5. Membina hubungan, Seni membina hubungan erat hubungannya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Untuk mampu melakukan ini individu harus memiliki kemampuan untuk menyimpan kemarahan serta beban stress mereka, dorongan hati dan kegairahannya. Kemampuan ini menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.

Dari apa yang telah dijelaskan oleh Daniel Goleman dalam bukunya yang jadi Best Seller tersebut maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa proses mempelajari emosi yang menular dapat kita lakukan dengan mengetahui apa yang diri kita rasakan dan juga apa yang orang lain rasakan. Kepekaan hati seseorang dalam berinteraksi dengan sesamanya, menjadikan segala macam hal yang berhubungan dengan emosi menjadi begitu mudah, namun seperti diketahui juga bahwa kecakapan ini dapat terus ditingkatkan sepanjang hidup manusia.

Pada jaman sekarang penularan emosi dapat terjadi dengan cepat dengan bantuan media sosial seperti situs-situs jejaring sosial, televisi dan radio, bahkan ketikan Anda bercanda atau marah-marah di telepon terhadap pasangan Anda. Sehingga terkadang jarak tidak lagi jadi penghalang atas penularan emosi dalam kehidupan manusia. Manusia dan kehidupan sosialnya adalah sesuatu yang bersifat sangat kompleks, penuh dengan dinamika dan juga keterkaitan satu sama lain yang sangat acak. Hal ini yang menjadikan manusia makhluk yang terus saja berubah, dipengaruhi dan mempengaruhi satu sama lain.

Sampai pada saat ini penulis masih menjadikan tulisan ini sebagai bahan mentah dari pemikiran dan masih membutukan banyak teori penyangga yang akan segera penulis temukan dalam beberapa literatur yang penulis dapatkan, sejauh ini penulis masih memperhatikan tentang pergerakan manusia dalam kehidupan nyata dan juga dalam dunia maya yaitu dalam situs jejaring sosial yang sekarang telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia modern pada masa ini. Semoga apa yang penulis gali dapat menjadi sebuah masukkan bagi para pembaca yang budiman, sehingga, dari harapan penulis, dapat tercipta kehidupan sejahtera yang cerdas dalam keseharian kita semua.

No comments:

everyone is the chosen one