Sunday, November 7, 2010

Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder)



Gangguan kepribadian ambang atau dalam bahasa inggris di kenal sebagai Borderline Personality Disorder, biasa disingkat BPD, merupakan suatu bentuk gangguan mental yang serius. Gangguan ini secara garis besar memiliki ciri dengan adanya bentuk tidak stabilnya keadaan jiwa, konsep diri dan juga perilaku. Keadaan tidak stabil ini seringkali mengacaukan hubungan dengan keluarga, pekerjaan, harapan jangka panjang, dan identitas seseorang sebagai individu.

Dikatakan ambang karena memang diketahui para penderitanya berada pada “ambang” psikosis, para penderita gangguan ini mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi yang mereka miliki. Di Amerika sendiri gangguan ini diderita oleh 2% orang dewasa dan hampir keseluruhannya adalah wanita muda, diketahui lebih tinggi dari pada gangguan skizofrenia dan gangguan bipolar. Gangguan ini juga sering mendorong para penderitanya untuk melukai diri mereka sendiri, terkadang ditemukan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri baik yang masih berupa sebuah keinginan sampai yang benar-benar melakukan bunuh diri.

Jika pada seseorang yang menderita gangguan depresi atau bipolar mereka memiliki keadaan jiwa yang stabil selama satu minggu atau lebih, maka pada penderita BPD ini mereka akan mengalami perubahan keadaan jiwa dari mulai marah, depresi atau cemas hanya dalam hitungan jam, dan dalam satu hari saja mereka dapat mengalami semuanya tanpa terkendali. Hal ini bisa dihubungkan dengan akan terjadinya perilaku agresi-impulsif, melukai diri sendiri dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Segala macam bentuk distorsi yang mereka alami dalam pikiran dan perasaan mereka akan mendorong terjadinya perubahan berkala dalam tujuan jangka panjang, rencana berkarir, pekerjaan, pertemanan, identitas gender dan nilai. Dalam beberapa kasus sering ditemui bahwa mereka yang mengalami gangguan ini seringkali secara mendasar menilai bahwa diri mereka itu buruk dan tidak berguna. Sering mereka merasa diperlakukan tidak adil, salah dimengerti, diperlakukan secara salah, bosan, perasaan diri yang kosong, dan hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai diri mereka sendiri. semua gejala tersebut menjadi akan menjadi lebih akut ketika sang penderita merasa terisolasi dan disisihkan dari dukungan sosial sehingga mengakibatkan kekalutan dalam rangka menghindari kesendirian.

Penderita BPD seringkali memiliki sebuah hubungan sosial yang bersifat tidak stabil dengan orang lain, mereka bisa menjalin kedekatan dengan orang lain namun bersifat cepat, perilaku mereka terhadap keluarga, teman dan pasangan hidup mereka cenderung dengan cepat berubah dari penuh kesetiaan dan cinta menjadi rasa tidak suka yang tinggi dan juga kemarahan. Kemudian dengan segera mereka akan melakukan sebuah hubungan yang lekat dan ideal dengan orang lain, namun ketika muncul perbedaan dan juga sedikit konflik mereka tanpa disangka akan berubah secara ekstrim dan marah menyimpulkan bahwa orang tersebut sama sekali tidak peduli terhadap mereka.

Kebanyakan orang mampu menangani perasaan bertentangan ketika mereka memiliki dua hal yang bertentangan pada satu waktu. Namun pada penderita BPD selalu mengalami perubahan secara total dalam hal sisi yang baik dan buruk, ketika mereka berada pada kondisi pada sisi yang buruk maka mereka tidak akan peduli sama sekali dengan sisi baik mereka.

Bahkan dengan anggota keluarga mereka sekalipun, mudah sekali mereka melakukan penolakan, bereaksi dengan amarah dan berikap tertekan karena sedikit saja terpisah dari salah satu anggota keluarga. Bahkan alasan liburam, perjalanan bisnis, atau sedikit perubahan dalam rencana dapat mengakibatkan munculnya pemikiran negatif dalam diri penderita. Sebuah bentuk ketakutan akan ditinggalkan oleh orang lain muncul, berkaitan dengan perasaan emosional mereka untuk terhubung dengan seseorang yang penting bagi mereka. Saat orang tersebut tidak berada di sisi mereka, maka penderita merasa kehilangan dan tidak berarti sama sekali. Percobaan untuk membunuh diri mereka sendiri pada penderita BPD memiliki kaitan dengan kemarahan mereka terhadap perasaan ditinggalkan dan dikecewakan oleh orang lain.

Selain itu para penderita BPD juga menunjukkan perilaku impulsif lain seperti berbelanja dengan sangat boros, mabuk-mabukan dan melakukan hubungan seks yang tidak sehat. BPD juga memiliki keterkaitan dengan masalah kejiwaan lain seperti gangguan bipolar, depresi, kecemasan, masalah perhatian dan berbagai macam gangguan kepribadian lainnya.

Sampai saat ini penyebab pasti dari terjadinya gangguan kepribadian ambang ini masih belum diketahui, namun faktor lingkungan dan genetik memiliki peran dalam membentuk seseorang untuk menunjukkan gejala dan bentuk dari gangguan ini.

Hasil studi menunjukkan bahwa hampir semua individu yang menderita BPD memiliki suatu riwayat yang berhubungan dengan penyiksaan, ditelantarkan, atau perceraian saat masih berusia dini. 40%-70% pasien yang menderita BPD dilaporkan memiliki pengalaman menjadi korban kekerasan seksual yang biasanya dilakukan oleh orang lain yang bukan orang dekat mereka.

Para peneliti meyakini bahwa BPD merupakan hasil dari kombinasi antara kelemahan diri individu dengan tekanan lingkungan, pengabaian atau kekerasan yang diterima saat masih berusia dini, kemudian berlanjut menjadi pemicu munculnya gangguan saat penderita berada pada usia dewasa awal. Sehingga Penderita BPD dewasa seringkali di pandang sebagai korban dari tindak kekerasan, seperti pemerkosaan dan jenis kejahatan lainnya. Ini juga merupakan hasil dari sebuah lingkungan tidak sehat yang ditanggapi secara impulsif dan penilaian yang kurang dalam pemilihan teman hidup dan gaya hidup.

Ilmu syaraf mengungkapkan tentang mekanisme otak yang mendasari sikap impulsif, mood yang tidak stabil, agresi, amarah, dan segala emosi negatif pada BPD. Hasil studi menunjukkan bahwa manusia bersikap menyerang secara impulsif dikarenakan terjadi penyumbatan pada sirkuit syaraf yang mengatur emosi. Bagian pada otak tersebut adalah Amigdala yang merupakan bagian penting yang berfungsi atas kontrol emosi negatif pada diri seseorang. Dalam merespon sinyal yang datang dari bagian tengah otak lainnya yang menunjukkan adanya ancaman maka hal tersebut akan menimbulkan perasaan takut dan reaksi. Hal ini akan jauh lebih nyata saat berada di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan atau stress, sedangkan area yang berada dibagian depan otak merupakan bagian yang berfungsi untuk mengurangi aktfitas dari sirkuit tersebut. berdasarkan hasil penggambaran secara visual dari otak menunjukkan bahwa adanya perbedaan antara satu individu dengan individu lain dalam kemampuannya menggunakan bagian otak depan saat berhadapan dengan emosi negatif yang terjadi pada dirinya.

Serotonin, norephineprine dan acetylcholine adalah unsur kimia yang menghantar pada sirkuit dalam peran terjadinya kegiatan emosional seperti sedih, marah, cemas dan jijik. Obat yang berfungsi mengurangi kadar serotonin dapat berguna untuk menanggulangi masalah emosional pada penderita BPD. Seperti diketahui juga obat yang berfungsi menstabilkan mood bekerja dengan mempengaruhi GABA, yang merupakan inhibitor utama dari neurotransmiter, yang mana sangat membantu orang-orang yang mengalami BPD seperti gangguan mood.

Sedangkan untuk jenis pengobatan dan perawatan bagi para penderita BPD telah dikembangkan, psikoterapi secara kelompok ataupun individual terbukti memiliki khasiat terhadap banyak pasien. Jenis perawatan yang terbaru adalah dengan terapi dialektik perilaku (dialectical behavior therapy DBT) yang dikembangkan secara khusus untuk penderita BPD dan dari hasil studi menunjukkan bahwa terapi ini cukup menjanjikan bagi kesembuhan pasien. Terapi dengan obat-obatan juga berfungsi dalam menangani beberapa gejala tertentu yang ditunjukkan oleh pasien. Obat antidepresan dan obat untuk penstabil mood sangat membantu untuk menghilangkan perasaan depresi dalam diri penderita dan keadaan diri labil yang mereka alami. Serta untuk mengatasi distorsi kognitif pada penderita maka pemberian obat antipsikosis sangatlah membantu.

Amarilldo

Sumber:
psychologytoday

Baca terusannya......

Saturday, November 6, 2010

Kembali Menulis: Sebut Saja Ini Intro


Karena kesibukan yang ada sekarang menjadikan penulis tidak lagi segencar dahulu dalam menulis dan menelaah segala macam yang menjadi pertanyaan yang ada dalam kepala penulis, kesibukan dan perut yang kenyang terkadang menjauhkan seseorang dari pertanyaan-pertanyaan yang terkadang menumbuhkan ide-ide cermelang dalam penggalian dan pencarian jawabannya.

Singkatnya zona nyaman merupakan keadaan dimana seseorang terbuai dan terlena dalam kenyamanan sehingga tidak mau lagi atau terhambat (walau lebih tepatnya “merasa tidak butuh lagi”) untuk menggali segala macam potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk terus dikembangkan. Itulah zona nyaman, yang ketika, mungkin, pernah diketahui dan dipelajari oleh para pembaca merupakan keadaan manusia yang cenderung tidak mau lagi untuk berkembang.

Saya dengan latar belakang pendidikan psikologi seringkali melakukan penelaahan terhadap diri saya sendiri, mencari kesadaran di atas kesadaran untuk menilai apa yang telah saya perbuat, apa yang telah saya ciptakan dan apa yang telah saya sia-siakan. Introspeksi diri, inilah tema yang akan saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Sesuatu yang ada dalam diri kita yang tidak mampu kita lihat dan juga tidak mampu dilihat oleh orang lain, merujuk pada Jendela Johari hal tersebut dikatakan sebagai sesuatu yang tidak diketahui.

Pada bagian itu mungkin masih ada yang bisa kita gali kembali dari dalam diri kita, pengenalan terhadap diri dan juga pencarian jati diri terjadi selama rentang kehidupan manusia, entah dari makna yang telah mereka alami dan apa yang telah mereka pelajari dari semua kejadian yang pernah mereka alami.

Dalam psikologi sendiri ada sebuah istilah pengembangan diri. setiap orang dapat mempelajari bagaimana caranya menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya, menjadi pribadi yang berguna bagi lingkungan hidupnya, pribadi yang memikirkan kepentingan orang lain dengan tidak melupakan kepentingan dirinya sendiri, individu yang adil dalam bersikap dan sehat dalam berpikir.

Tujuan hidup seseorang beserta segala macam cara pandanganya merupakan sesuatu yang dapat dilihat dalam diri seseorang, apa yang menjadi fokus kita dalam bertindak dan apa yang kita inginkan dapat menunjukkan apa yang menjadi tujuan hidup kita, serta menunjukkan sejatinya diri kita. Pencarian ke dalam diri tentang pemaknaan-pemaknaan yang kita miliki di dalam diri kita terhadap apa yang terjadi di dalam kehidupan kita membentuk suatu prinsip-prinsip kehidupan yang kita anut, menjadikan kita bersikap unik antara satu manusia dengan manusia lain dalam berbagai macam situasi.

Keunikan manusia adalah berkah, yang dengannya manusia memiliki ciri khasnya masing-masing, membuat dunia melahirkan ilmu psikologi, mencari kesamaan dari semua manusia atas dasar-dasar perilaku yang mereka tunjukkan dalam keseharian. Kembali kepada zona nyaman, yang kesemuanya adalah suatu bentuk pilihan tergantung pada bagaimana kita sebagai individu yang menjalaninya menanggapi semuanya, ketika kita yakin bahwa kita tidak memiliki pilihan lain dalam kehidupan ini maka jadilah Anda sebagai manusia yang tidak memiliki pilihan lain, namun jika Anda menyadari bahwa ada sesuatu yang belum Anda keluarkan dari dalam diri Anda, seperti yang dalam Jendela Johari disebut sebagai “sesuatu yang tidak diketahui”, dan Anda yakin masih ada pilihan lain yang dapat Anda lakukan maka pilihan itu pun ada di tangan Anda.

Seperti kita ketahui tentang rasa takut, mereka muncul bukan sebagai bentuk dari pribadi yang pengecut, rasa takut ada karena kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan. Bayangkan jika kita tidak memiliki rasa takut, mungkin saja kita dengan berani akan melakukan hal yang bodoh seperti berada terlalu dekat dengan jurang, yang mengakibatkan kita terjatuh dan kehilangan nyawa di dalam jurang itu, atau kita takut pada harimau, bayangkan juka kita tidak memiliki rasa untuk takut dan segera lari menghindar, pasti kita akan diterkam dan menjadi santapan lezat bagi binatang buas tersebut.

Takut dan khawatir yang cerdas adalah yang memiliki alasan yang tepat, sesuatu yang seharusnya kita ketahui terlebih dahulu tentang apa yang ada dalam diri kita, tentang kemampuan-kemampuan kita dan barulah setelah itu kita boleh mengatakan takut atau tidak terhadap sesuatu. Pengenalan diri tentang apa yang membuat kita tidak mau mengambil resiko dan juga tidak memiliki keberanian untuk mengetahui merupakan sebuah bentuk yang menghambat seseorang dalam membangun dirinya sendiri menjadi individu yang lebih unggul dari sebelumnya.

Kemampuan kita untuk mengetahui seberap daya tahan yang kita miliki sekarang dan bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan dan daya tahan kita merupakan bentuk upaya dalam menumbuhkan mentalitas juara di dalam diri kita. Sehingga dengannya manusia yang mau berkembang tidak menjadi statis dan begitu-begitu saja tanpa ada kemajuan, namun menjadi manusia yang dinamis dan penuh dengan inovasi, sesuai dengan perkembangan jaman sekarang ini yang segala sesuatunya melaju dengan cepat dan berubah tanpa pernah bisa untuk dihentikan.

Salam Sukses Untuk Semua.

Jangan Pernah Menyerah!!!

Baca terusannya......
everyone is the chosen one