Sunday, April 22, 2012

Bagaimana Masyarakat Bergerak: Penguraian 8 Bentuk Psikologi Massa Dalam Kehidupan Sehari-hari

Apakah ketika Anda menemukan sebuah surat yang jatuh di jalan maka Anda akan mengirimkan surat tersebut dengan memasukkannya kedalam kotak pos?, apakah Anda akan mematuhi jika diperintahkan untuk menyetrum orang lain dengan listrik?, apakah Anda akan memulai percakapan dengan orang asing yang Anda ketahui?, dan apakah Anda akan membantu seorang anak yang tersesat? Pada artikel kali ini Anda akan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat, apa motivasi dan dorongan mereka untuk melakukan beberapa kegiatan masyarakat baik yang sendiri atau yang berkelompok.

Stanley Milgram adalah seorang psikolog sosial asal Amerika yang terkenal dalam hal penelitian tentang kepatuhan. Beliau juga sangat tertarik dengan aspek-aspek yang meliputi tatanan sosial masyarakat yang hidup di perkotaan.

Beliau selalu bertanya-tanya tentang bagaimana penduduk kota berhasil hidup berdampingan satu sama lainnya. Bertanya-tanya tentang bagaimana penduduk kota mau untuk mengantri secara tertib dan bagaimana jika keseimbangan mereka terganggu, dan juga beliau ingin sekali melihat bagaimana cara orang-orang melakukan kontak sosial sebelum ada Twitter dan Facebook seperti sekarang.

Berikut adalah delapan hasil penelitian yang mana pada masing-masing hasilnya memberikan pandangan baru tentang bagaimana masyarakat bergerak.

1. Anak Yang Tersesat
Seberapa besarkah keinginan seseorang untuk membantu orang lain? Sebagai contoh siapakah yang mau merelakan waktu dan berhenti untuk sekedar membantu seorang anak yang tersesat di jalanan? Jawabannya tak seorangpun, benarkah?

Untuk mengetahuinya Milgram memutuskan untuk menggunakan bantuan dari anak-anak berumur sekitar usia 6 – 10 tahun, mereka dikirim ke jalanan di Amerika (tentunya dengan para pengamat yang berada di sekitar mereka demi keamanan) dan mereka diperintahkan untuk mendekat kepada siapa saja yang lewat di dekat mereka dan mengatakan bahwa mereka sedang tersesat dan menanyakan kesediaan mereka untuk menghubungi rumah anak tersebut.

Hasilnya relatif menggembirakan pada daerah perumahan yaitu dengan 72% dari para pejalan kaki mau untuk membantu, sedangkan untuk pada daerah perkotaan didapati hanya 46% yang mau membantu si anak yang tersesat tersebut.

Dibalik angka-angka yang di dapat tersebut ada cerita lain yang dapat lebih mencerminkan keadaan masyarakat baik yang berada di daerah pemukiman dan yang berada di daerah perkotaan. Pada daerah pemukiman mereka yang tidak membantu terlihat ikut bersimpati terhadap si anak, namun pada daerah perkotaan orang-orang yang berjalan kaki disana terlihat mengacuhkan keberadaan si anak tersesat tersebut, terkadang mereka terlihat mengelak dan ada sebagian yang hanya menyodorkan uang kepada anak itu, bahkan ada seseorang yang mengatakan kepada sang anak : “pergilah ke restoran itu, ibu mu menunggu mu di sana”.

2. Memotong jalur dan menyerobot antrian

Milgram menyadari bahwa mengantri adalah sebuah bentuk contoh klasik tentang bagaimana sekelompok orang secara otomatis membuat bentuk tatanan sosial yang bertujuan menghindari kekacauan

Tetapi tatanan sosial sangat rapuh ketika menghadapi bentuk ancaman kekacauan, seperti ada salah satu dari yang mengantri tersebut menyelak masuk kedepan antrian. Untuk menguji reaksi terebut, Milgram membuat penelitian yang ia lakukan pada sejumlah 129 antrian yang berbeda-beda, mulai dari antrian tiket taruhan, antrian karcis kereta dan lain-lainnya, dimana di dalamnya ada yang secara sengaja melakukan penyerobotan antrian. (Milgram et al., 1986)

Anehnya pada penelitian ini ternyata menunjukan bahwa sikap orang lain cukup apatis saat melihat penyerobotan di dalam antrian, ditunjukkan bawha hanya 10% dari kesempatan yang ada, dimana sang penyerobot antrian dikeluarkan secara paksa dari antrian, sedangkan hampir lebih dari setengahnya tidak melakukan apa-apa saat terjadi kejadian terebut, walau terlihat dari mereka terlihat jijik atas perilaku si penyerobot dan menunjukkan cibiran baik sera verbal maupun non-verbal namun tidak melakukan pencegahan secara fisik seperti maju dan menarik kebelakang si penyerobot tersebut. Menurut Milgram hal ini dikarenakan oleh 4 hal, yaitu:

a. Formasi kelompok dimana semua orang berada pada garis sejajar dan berada dibelakang satu sama lain serta menghadap kearah yang sama menimbulkan efek yang sulit untuk melakukan kontak sosial dengan orang yang berada di depan dan di belakanganya.

b. Menghalangi seorang penyerobot dapat berakibat hilangnya posisi mengantri.

c. Sistem sosial harus dapat mentolerir beberapa jenis penyimpangan, hal ini bertujuan agar tidak mudah terprovokasi dan hancurnya tatanan sosial yang telah ada.

d. Dalam barisan orang-orang memilih untuk membiarkan mereka namun tetap dengan sikap mengecam perbuatan menyerobot tersebut sehingga dengan demikian walau si penyerobot lolos namun baris antrian menjadi lebih solid.

3. Ketaatan Pada otoritas

Salah satu bentuk eksperimen psikologi yang paling terkenal adalah hasil penelitian yang dilakukan Milgram terhadap ketaatan yang dimiliki seseorang terhadap otoritas yang berlaku dimana orang tersebut mendapat perintah untuk menyakiti manusia lainnya.


Para peserta dalam penelitian ini diperintahkan oleh seorang berjas putih untuk memberikan sengatan mematikan kepada orang lain yaitu para peserta didik, 63% peserta terus melanjutkan setruman sampai selesai, walau mereka tahu para peserta didik berteriak kesakitan, memohon untuk berhenti dan akhirnya jatuh terdiam.

Apakah Anda berpikir untuk melakukan hal yang sama?


Dalam hal ini Milgram jelas telah mengungkap kecenderungan seseorang untuk menjadi patuh terhadap otoritas yang ada. Hal ini dijelaskan oleh Milgram dengan mengatakan bahwa seseorang dapat saja melakukan perbuatan yang keji dan berutal atas nama otoritas yang memerintahnya, dari hasil dari apa yang sudah Milgram lakukan beliau berkesimpulan bahwa manusia secara tidak disadari menikmati perilaku mereka yang menyakiti orang lain secara keji, pemikiran ini adalah hasil dari penelitian yang ia lakukan, dimana penelitian itu didasari oleh pelaksanaan sidang terhadap kriminal Perang Dunia II, Adolf Eichmann diadakan. Eichmann yang adalah seorang Nazi diadili karena perbuatannya yang telah membunuh banyak orang Yahudi. Eichmann ketika itu berdalih bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya.

untuk lebih lanjut tentang bagian ini dapat Anda lihat pada artikel saya sebelumnya, Stanley Milgram: Antara Kepatuhan dan Konformitas.

4. Orang Asing Yang Terlihat Familiar

Apakah Anda melihat orang yang sama setiap hari dalam perjalanan Anda ke tempat kerja, toko-toko, atau tempat-tempat aktifitas publik? Dimana Anda sebelumnya belum pernah berbicara dengannya? Apakah Anda pernah bertanya-tanya tentang siapa diri mereka, latar belakang mereka dan lainnya tentang diri mereka, dan pernahkah terbayang oleh Anda kalau mereka juga mempertnayakan hal yang sama tentang diri Anda?

Dalam hal yang satu ini Milgram pun bertanya-tanya hal yang sama tentang orang-orang menunggu kereta di dekat tempat tinggalnya di Riverdale, New York. Jadi dia meminta kepada murid-muridnya untuk mengambil gambar dari semua orang di peron dan kemudian dalam waktu beberapa minggu kemudian, mereka ikut naik kedalam kereta dan memperlihatkan gambar-gambar tersebut kepada penumpang untuk mengetahui siapa saja yang mungkin para penumpang kenali.

Hasilnya mengejutkan, sebanyak 90% responden mengidentifikasi minimal satu orang yang mereka tidak kenal namun familiar bagi mereka. Rata-rata yang didapatkan adalah 4 orang per penumpang. 62% penumpang mengatakan bahwa mereka telah berbincang dengan salah satu dari orang-orang tersebut. Setengah dari responden mengaku memiliki pertanyaan tentang siapa orang-orang asing terebut. Serta diketahui bahwa mereka yang memiliki daya tarik karena keunikkan tertentu menjadi orang yang paling banyak dikenali.

Dari hasil penelitian ini Milgram juga mendapati bahwa antara mereka yang tidak kenal namun saling menyadari keberadaan masing-masing akan lebih mudah unutk saling bertegur sapa saat mereka berada pada kondisi yang tidak biasa, seperti saat mereka bertemu di sebuah kota lain.

5. Sempitnya Dunia

Milgram juga memiliki ketertarikan terhadap keterikatan antara manusia di dalam sebuah masyarakat global, beliau memiliki perhatian terhadap kemungkinan jika dua orang dipilih secara acak lalu ditanyakan kepada keduanya apakah merekas saling mengenal? Dan jika memang mereka ternyata tidak saling kenal apakah ada kemungkinan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki satu orang yang merka kenal sama-sama dan seterusnya sampai ditemukan bahwa mereka satu sama lain memiliki orang yang mereka sama-sama kenal dalam suatu bentuk jarak keterpisahan.

Cara Milgram mencari tahu jarak keterpisahan antar manusia maka ia menguji dengan mengirimkan surat kepada orang lain secara acak di dua daerah yaitu Nebraska dan di Boston sedangkan untuk sang target sendiri berada di Massachusetts, dalam surat tersebut Milgram meminta kepada si penerima surat untuk meneruskan surat tersebut kepada orang yang menjadi target di dalam isi surat itu, jika mereka (si penerima surat) tidak mengenali sang target maka diwajibkan kepada si penerima surat agar mengirimkan kembali surat tersebut kepada orang yang mereka kenal yang mungkin saja mengenal si target dalam surat. (Travers & Milgram, 1969).

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata surat akan sampai ke target dalam jangka perantara sebanyak 5,2 kali pengiriman dari orang pertama yang menerima surat, dengan melalui jaringan sosial si penerima surat pertama.

Dengan ini kita dapat melihat tentang masyarakat yang saling berhubungan,

6. Pendapat Rahasia

Kali ini Milgram ingin mengukur sikap masyarakat secara tidak langsung, namun tidak dengan cara menanyakannya kepada mereka, karena selalu saja ada kecenderungan manusia untuk berbohong. Jadi kali ini ia meninggalkan surat yang belum memiliki perangko dan meninggalkannya tercecer di jalanan dan demikian ia akan melihat apakah orang-orang yang menemukan surat tersebut akan mengirimkan surat tersebut. Sedangkan alamat yang tercantum di amplop menjadi salah satu stimulus bagi yang menemukan untuk mengirimkan surat tersebut. (Milgram et al., 1965).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 70% surat yang ditujukan kepada Medical Research Assosiates (asosiasi penelitian kesehatan) dikirimkan oleh mereka yang menemukan surat tersebut. Tetapi ketika alamat surat yang tercantum dalam surat tersebut ditujukan kepada partai komunis atau Partai Nazi maka hanya 25% dari surat yang dikirimkan kepada alamat dimaksud oleh mereka yang menemukan surat tersebut.

Hal ini tidak hanya mengukur tentang opini publik yang ada di masyarakat tetapi juga melihat apakah masyarakat mau untuk membantu memberikan sedikit pengorbanan untuk membelikan perangko pada surat tersebut.

7. Pengaruh Massa

Pernahkah Anda mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak tanpa tahu apa sebabnya, dimana saat itu Anda hanya berasumsi bahwa Anda harus bergabung untuk melakukannya karena memang begitu keadaannya?
Milgram dalam hal ini sangat tertarik untuk mencari tahu alasan mengapa seseorang mengikuti orang kebanyakan yang ada disekitarnya. Pada tahun 1969 Milgram dan rekan melakukan penelitian, pengujian ia lakukan dengan cara menempatkan sekelompok orang untuk berdiri bersama di pinggir jalan dan secara bersama-sama orang-orang tersebut menatap ke lantai 6 pada gedung yang ada di depan mereka, walau di sana tidak terjadi apa-apa.

Dengan penelitian yang ia lakukan tersebut ditemukan bahwa 4% orang yang lewat pada kerumunan yang ia siapkan akan berhenti dan ikut menapat ke lantai 6 gedung saat ada satu orang dalam kerumunan tersebut yang menatap kesana, ketika 15 orang dalam kerumunan menatap ke arah gedung ditemukan hampir 40 orang yang sedang berjalan melewati kerumunan ikut berhenti dan turut serta mencari tahu apa yang dipandang 15 orang tersebut ke arah gedung, dan ketika lebih dari 15 orang dalam kerumunan yang menatap ke gedung ditemukan bahwa 86% pejalan yang lewat akan berhenti dan bergabung untuk ikut menatap kearah lantai 6 gedung.

8. Keramaian Kota

Pada bagian terakhir ini bukan merupakan sebuah hasil penelitian melainkan sebuah teori yang mecoba untuk menjelaskan perilaku sosial di perkotaan.
Milgram berpikir bahwa cara manusia dalam menentukan perilaku di kota atau di daerah perkotaan adalah dengan memberikan sebuah bentuk respon alami terhadap informasi berlebihan yang ada. Hidup di perkotaan membuat seluruh indera kita kebanjiran informasi. Di sini (perkotaan) ada terlalu banyak pemandangan, suara dan orang-orang serta kesemuanya harus dapat kita tangkap dan olah dengan baik.

Karena itulah penduduk di perkotaan menerapkan metode yang akan membuat mereka dapat menghemat energi psikologis mereka, menempatkan perhatin mereka pada yang seperlunya saja sesuai dengan batasan mereka. Yang mana perilaku itu ditunjukkan dengan beberapa hal berikut:

a. Penduduk kota cenderung memiliki interaksi yang dangkal antara satu dengan yang lainnya, hal ini ditunjukkan dengan memasang wajah merengut atau terlihat marah sepanjang waktu.

b. Mereka melakukan transaksi dan pergerakan secepat mungkin.

c. Penduduk perkotaan cenderung seperti terlihat tidak memiliki tatakrama dan sopan santun, seperti tidak meminta maaf atau pernyataan permisis saat sedang berdesak-desakan diantara orang lain dalam suatu kerumunan, hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki lagi cadangan kekuatan untuk memproses hal tersebut.

Norma hidup di dalam lingkungan perkotaan bersifat anonim dan aturan yang tidak tertulis di sana menyebutkan “saya akan bersikap seolah-olah Anda tidak ada jika Anda bersikap seolah-olah saya tidak ada”.
Namun pada dasarnya penduduk di perkotaan bukanlah orang yang jahat (sebagaimana hasil penelotian terhadap anak yang tersesat sebelumnya), hanya saja mereka menerapkan sebuah strategi yang rasional dan tepat guna untuk menangani banjir informasi yang ada di dalam lingkungan perkotaan tersebut.


Sebagaimana Milgram mengatakan:

"Mungkin kita boneka yang dikendalikan oleh “tali” masyarakat. Tetapi setidaknya kita adalah boneka yang memiliki persepsi kita sendiri yang ditunjukkan dengan kesadaran. Maka dimungkinkan kesadaran kita itulah langkah awal kita untuk menuju kebebasan. "

SUMBER

Baca terusannya......

Wednesday, April 18, 2012

Stanley Milgram: Antara Kepatuhan dan Konformitas

Percobaan Milgram atau dikenal juga sebagai percobaan kepatuhan kepada otoritas adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang profesor psikologi dari Universitas Yale untuk mecari tahu sampai sejauh mana orang-orang akan mematuhi figur otoritas ketika disuruh untuk melakukan hal yang berlawanan dengan hati nurani dan berbahaya. Percobaan ini dilakukan oleh Milgram pada 1961 setelah sidang terhadap kriminal Perang Dunia II, Adolf Eichmann diadakan. Eichmann yang adalah seorang Nazi diadili karena perbuatannya yang telah membunuh banyak orang Yahudi. Eichmann ketika itu berdalih bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya. Peristiwa ini menjadi dasar bagi Stanley Milgram untuk melakukan percobaannya.(Sumber)

Menjelaskan kekejaman manusia 



Eksperimen Stanley Milgram yang terkenal adalah sebuah eksperimen yang dilakukannya untuk menguji tingkat ketaatan seseorang kepada otoritas yang berlaku pada suatu situasi (Milgram, 1963). Milgram mencari tentang seberapa jauh seseorang akan menuruti perintah dari suatu bentuk otoritas yang berada diatasnya pada siatuasi tertentu, jika perintah tersebut adalah perintah yang akan memberikan dampak menyakitkan kepada orang lain. Banyak yang bertanya-tanya setelah terjadinya perang dunia kedua yang mengerikan, mengapa seseorang mampu untuk setuju saat diminta atau diperintahkan untuk berbuat kejam terhadap orang lain. Bukan hanya pada tentara saja, namun juga mengapa orang biasa yang dipaksa melakukan tindakan kejam dan mengerikan akan dapat dengan tega melakukannya, hal inilah yang membuat Milgram mengadakan penelitian ini.

Tetapi dalam eksperimen ini Milgram tidak terjun langsung kedalam suatu situasi perang, dia lebih ingin melihat bagaimana seseorang bereaksi terhadap perintah dalam sebuah situasi yang relatif normal, sehingga dalam laboratorium yang ia gunakan ia menciptakan atmosfir yang cukup kondusif sesuai dengan yang ia maksudkan. Maka dalam penelitian ini yang ia lakukan adalah mencari tahu tentang perilaku manusia ketika diminta untuk memberikan kejutan listrik dalam beberapa kategori tegangan kepada manusia lainnya dalam eksperimen. Perilaku yang dimaksud dalam eksperimen ini adalah sejauh mana orang yang dijadikan subjek tersebut akan mematuhi perintah dari situasi dan mengabaikan keraguan tentang apa yang sedang mereka lakukan beserta dampaknya.

Situasi eksperimen yang diciptakan Milgram terlihat sangat mudah pada awalnya, dimana peserta diberitahu bahwa mereka terlibat dalam suatu bentuk percobaan belajar, para peserta diminta untuk menjadi operator alat kejut yang telah disediakan dan mereka akan diberikan arahan serta ditekankan bahwa mereka harus melakukannya sampai dengan akhir percobaan. Dikatakan kepada peserta bahwa mereka akan berada diantara guru dan si pelajar, yang mana keduanya adalah aktor tanpa diketahui peserta karena mereka hanya mengetahui bahwa diri mereka hanya membantu dan bukan sebagai objek penelitian itu sendiri. Peserta yakin bahwa objek penelitian ini adalah ada pada pelajar dan bukan pada mereka. Para peserta duduk di depan mesin dengan banyak tombol dimana pada mesin tersebut terdapat label dari tegangan terendah sampai yang tertinggi, dikatakan bahwa mesin itu bernama Shock Machine atau mesin kejut, pada saklar ketiga yang mereka gunakan terdapat label “Bahaya: Tegangan Tinggi” dan dua saklar terakhir berlabelkan “XXX”.

Selama percobaan, setiap kali si pelajar membuat kesalahan peserta diperintahkan untuk menambahkan tegangan sengatan listrik yang diberikan. Tentu saja si pelajar harus terus melakukan kesalahan sehingga operator yang malang tersebut harus tetap memberikan sengatan listrik yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, lalu si pelajar akan menjerit kesakitan karena disetrum dan sampai akhirnya si pelajar diam tak bergerak. sang operator yang malang sebenarnya tidak memberikan sengatan listrik kepada si pelajar, si pelajar sudah berlatih untuk berakting sebelum percobaan berlangsung agar mereka dapat menirukan kondisi seseorang yang benar-benar tersengat listrik secara realistis. Si pelajar dengan sandiwaranya harus dapat meyakinkan sang operator kalau mereka benar-benar kesakitan karena tersengat listrik sehingga sang operator berasumsi bahwa kesakitan tersebut berasal dari mesin yang mereka kendalikan.

Hasil Penelitian

Sebelum saya menjelaskan hasil, cobalah untuk membayangkan diri Anda sebagai peserta dalam percobaan ini. Seberapa jauh Anda dapat memberikan kejutan listrik untuk manusia lain hanya untuk sebuah studi tentang memori? Apa yang akan Anda pikirkan ketika si pelajar jatuh tak sadarkan diri setelah Anda berikan kepada mereka kejutan pada tingkat berbahaya? Jujur. Seberapa tega Anda dapat melakukannya? Tak akan lama Anda akan melakukannya, mungkin itu yang Anda pikirkan, Anda mungkin meremehkan hal ini sama dengan yang kebanyakan orang lakukan.

Ternyata hasil yang ditunjukkan kali ini cukup mencengangkan, Milgram menemukan orang akan jauh lebih patuh daripada yang Anda bayangkan sebelumnya. Sebanyak 63% peserta memutar saklar ke arah kanan sampai akhir, mereka diberikan segala bentuk stimulus seperti dengan si pelajar berteriak kesakitan, memohon untuk dihentikan dansampai akhirnya jatuh terdiam. Eksperimen ini tidak menggunakan mereka yang tergolong sadis dan terlibat dalam kejahatan pembunuhan atau penyiksaan sebelumnya, ini adalah orang biasa seperti Anda.

Penjelasan Hasil Penelitian

Pada masanya penelitian Milgram menjadi sebuah berita besar. Penjelasan Milgram terhadap hasil temuan yang ia dapatkan dari penelitian merupakan jawaban atas perilaku dalam sebuah situasi tertentu. Dari penelitian psikologi sosial inilah dapat ditunjukkan sebuah kenyataan yang mencengangkan tentang bagaimana sebiuah situasi tertentu dapat merubah perilaku seseorang. Percobaan yang dilakukan Milgram memicu sebuah gelombang berkelanjutan yang mengadopsi metode yang ia gunakan, diterapkan kepada berbagai macam budaya, berbagai macam situasi dan gender, yang mengejutkan hasilnya tidak berbeda jauh dengan apa yang sudah dibuktikan duluan oleh Milgram.

Apakah ada kesalahan?

Situasi penelitian yang di sengaja, diciptakan untuk mempengaruhi perilaku masyarakat Sekarang pikirkan lagi. Tentu, percobaan bergantung pada situasi untuk mempengaruhi perilaku masyarakat, tapi bagaimana sebenarnya situasi dapat mempeengaruhi? Jika Anda berada pada posisi demikian, dapat dipastikan bahwa Anda akan mengerti bahwa ini tidak nyata pada suatu tingkat tertentu, bahwa Anda tidak sedang benar-benar menyetrum seseorang, dalam penelitian di universitas membuat para subjek mereka merasa bahwa hal yang mereka lakukan tidak benar adanya adalah sebuah kesalahan, karena jika demikian yang terjadi maka penelitian tidak dapat dilanjutkan dengan menggunakan subjek yang sudah sadar situasi tersebut.

Diketahui bahwa manusia selalu menggunakan isyarat nonverbal dalam berkomunikasi satu sama lain. Seberapa baikkah seorang aktor yang dapat mengelabui dan terlihat begitu nyata dalam berperan? Apakah bisa sampai terlihat secara nonverbal berbicara dan meyakinkan?. Seseorang dapat berperan dengan baik bahkan dalam sebuah situasi dimana mereka tahu melalui lubuk hati bahwa mereka melakukan yang bukan sebenarnya. Semakin kita mendalami tentang pola pikiran dan psikologi manusia maka semakin kita menemukan tentang kekuatan besar dari proses bawah sadar yang dimiliki manusia, baik itu secara emosional dan secara kognitif. Karena tanpa disadari bawah sadar memiliki pengaruh yang besar dalam perilaku manusia.

Penjelasan lain dari hasil penelitian ini adalah bahwa alam bawah sadar peserta mengetahui tentang kepura-puraan dari penelitian ini. Mungkin saja dalam hasil penelitian yang telah dilakukan oleh milgram ini benar-benar menunjukkan kekuatan dari konformitas. Yang mana dari konformitas terebut kita berupaya untuk memberikan kesenangan kepada sang pelaku eksperimen, agar sesuai dengan situasi yang mereka inginkan dengan cara melakukan apa yang diharapkan dari kita. Walaupun hal ini bukanlah sesuatu yang dicari oleh Milgram sendiri tetapi hal ini tetap masih merupakan hasil intepretasi dari apa yang telah Milgram lakukan.

Apakah Anda mempercayai hasil penelitian tersebut, namun yang tidak bisa dipungkiri adalah apa yang telah Milgram lakukan memang salah satu hal yang sangat mengesankan dari dunia psikologi, serta eksperimen ini tidak akan pernah bisa diulang pada masa kini dikarenakan adanya standart etika yang melarang menyertum orang lain dengan sengaja. Jelas sejak awal melihat hasil penelitian tersebut semua pandangan kita terhadap manusia akan berubah, kita melihat manusia sebagai makhluk yang sadis dan tidak berperikemanusiaan, namun kini dengan adanya alternatif interpretasi dari penelitian tersebut maka segala sesuatunya harus dipikirkan ulang.

(SUMBER)

Baca terusannya......
everyone is the chosen one