Sunday, May 13, 2012

Korelasi Akun Facebook Dengan Keadaan Otak Anda

Ketika melihat akun facebook pernahkah Anda bertanya mengapa ada seseorang yang memiliki teman yang sangat banyak dan mengapa ada seseorang yang memiliki jumlah pertemanan yang tidak terlalu banyak. Ditemukan bahwa ternyata hal ini memiliki hubungan dengan seberapa “besar” otak Anda. Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa seseorang yang memiliki banyak teman ternyata juga memiliki Orbitofrontal Cortex (sebuah bagian pada otak yang terletak di paling depan kepala atau dahi tepat diatas mata Anda) yang lebih besar. Orbitofrontal Cortex adalah bagian yang berguna untuk fungsi kognitif seperti berpikir tentang diri sendiri dan memikirkan apa yang orang lain mungkin pikirkan. Pada studi lainnya juga ditemukan bahwa seseorang yang memiliki jejaring sosial yang luas (seperti jumlah teman yang banyak di Facebook) juga memiliki Amigdala yang lebih besar, dimana Amigdala merupakan bagian pada otak yang mengatur emosi.

Menciptakan dan memelihara suatu hubungan sosial membutuhkan kekuatan dari otak, dimana kita harus ingat banyak sekali nama dan wajah, menyimpan ingatan akan suatu individu lain tentang apa, kapan dan dimana mereka melakukan sesuatu, memperbaharui informasi tersebut secara berkala saat kita menilai hubungan yang ada antara diri kita dengan orang-orang tersebut, apakah kita masih berteman dengan mereka atau sudah menjadi musuh, terus mengikuti perkembangan tentang orang-orang tersebut dalam menjalin hubungan dengan orang lain, seperti siapa bercinta dengan siapa, siapa yang berkoalisi dengan siapa, serta kita mencoba untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan oleh orang ini dikemudian hari. Bagi manusia dan beberapa jenis primata yang ingin selamat untuk hidup dalam kompetisi kehidupan sosial yang kompleks dan berat ini membutuhkan kemampuan sosial seperti yang disebutkan diawal ini adalah pembeda antara hidup dan mati, atau antara memperoleh kehidupan yang baik dan buruk.

Mari kita mengambil contoh primata jenis kera rhesus, mereka hidup dalam kumpulan yang sangat kompetitif dimana setiap individu dari spesies tersebut memiliki keterikatan dengan banyak individu lain dalam sebuah jejaring sosial yang rumit. Setiap langkah yang diambil oleh kera rhesus dalam percaturan sosial mereka menghasilkan sebuah efek domino yang berpengaruh kepada kera lainnya secara baik atau buruk. Kera rhesus tidak dapat hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, menjadi pasif dapat dinilai oleh kera lain sebagai bentuk dari eksploitasi. Jika kera rhesus ingin untuk hidup dalam kesendirian saja maka mereka harus bekerja keras untuk itu. Jika tujuan hidup mereka tidak hanya untuk bertahan hidup saja, melainkan juga untuk menjadi sukses, maka mereka harus menemukan agar orang lain mau untuk bekerja sama dengan mereka atau bekerja untuk kepentingan mereka. Dalam kehidupan yang kompetitif memiliki musuh tidaklah bisa dihindarkan oleh karena itu membuat sebuah bentuk kelompok pertemanan adalah penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Dengan demikian seseorang dapat menang saat bersaing dengan orang lain ditopang kerjasama yang memberikan dukungan dari kelompoknya. Hidup di dalam kelompok besar dan kompleks menimbulkan masalah sosial dimana agar kita dapat menyelesaikan segala problematika tersebut dibutuhkanlah kemampuan dan kecerdasan otak yang tinggi. Sebuah teori yang menyatakan bahwa kecerdasan dan otak yang besar seperti dimiliki manusia dan jenis primata besar lainnya berkembang untuk menyelesaikan masalah sosial dikenal denga teori Intelijen Machiavellian.

Dengan konsistensi pada teori ini, pada studi sebelumnya yang membandingkan spesies yang berbeda antara monyet dengan kera menunjukkan bahwa spesies yang hidup dalam kelompok sosial yang besar cenderung memiliki ukuran otak yang lebih besar (dalam perbandingan dengan tubuh mereka) khususnya pada korteks prefrontal daripada spesies yang hidup dalam kelompok yang kecil. Kera rhesus, babon, simpanse serta manusia merupakan contoh dari spesies yang cerdas secara sosial dengan korteks prefrontal yang besar. Namun dengan demikian bukan berarti makhluk yang lain adalah makhluk yang bodoh, melainkan mereka memiliki kebutuhan hidup yang berbeda dengan lingkungan sosialnya, sebagai contoh seekor gorila gunung hidup dalam sebuah kelompok kecil, yang mana hanya terdiri dari pejantan besar dan betina serta anak mereka. Pejantan yang sukses dalam kalangan gorila gunung tersebut adalah mereka yang kuat dan tenang, sedangkan untuk betinanya yang sukses adalah yang mampu menemukan pejantan yang akan menetap dalam jangka waktu lama bersamanya, dalam aspek kepribadian gorila gunung tersebut tidak memiliki ambisi politik yang berlebih, gaya hidup yang hanya akan menghasilkan model Kingkong dan bukannya Machiavelli.

Ada sesuatu yang menarik dalam teori intelijen Machiavellian mengenai evolusi otak, menurut teori primatologi pada saat ini ditemukan bahwa primata hidup secara berkelompok ditentukan oleh para betinanya dan kebutuhan mereka. Jika ternyata para betina lebih baik dalam mecari makanan dan dapat menghindarkan diri dari predator, maka spesies tersebut memiliki gaya hidup soliter. Namun jika ternyata para betinanya memerlukan bantuan para pejantan dalam meningkatkan keturunan mereka, maka spesies terebut akan hidup berpasangan atau berkelompok kecil. Terakhir, jika sang betina perlu untuk bekerja sama dengan perempuan lain untuk mencari makanan, mempertahankan makanan dan melindungi diri dari predator, maka mereka akan hidup dalam kelompok yang lebih besar. Kelompok apa yang akan dibentuk oleh suatu spesies ditentukan oleh kebutuhan para betina, dalam hal ini kebutuhan para jantan adalah para betina itu sendiri.

Ada beberapa hasil pemikiran yang sangat cemerlang di antara para ilmuwan yang telah mempelajari tentang evolusi sosial yang dialami oleh primata, dan setelah puluhan tahun upaya tersebut dilakukan baik secara intelektual dan model penghitungan matematika yang tidak terhitung jumlahnya, para ilmuwan tersebut telah mengambil kesimpulan bahwa kontribusi yang diberikan primata jantan dalam evolusi sosial spesies mereka terekam dalam sebuah bentuk pernyataan “primata jantan akan ikut kemana sang betina pergi”. Jadi jika sang betina hidup secara sendiri maka sang jantan hanya akan hidup di sekitar mereka. Jika sang betina hidup secara berkelompok dengan betina lain maka sang jantan akan hidup bersama mereka dalam suatu bentuk kelompok. Karena tujuan Pejantan dalam hidup adalah selalu sama yaitu, untuk mendapatkan hubungan seksual. Karena pejantan banyak memakan makanan, memiliki potensi membahayakan dan tidak membantu dalam merawat anak-anak dengan demikian maka para betina pada spesies primata hanya mengijinkan beberapa jantan saja yang dapat hidup di dalam kelompok mereka, yang mana diharapkan dapat melawan predator atau primata dari kelompok lain yang mengancam.

Fakta menarik dalam teori Intelijen Machiavellian adalah ditemukan bahwa ukuran korteks prefrontal yang besar pada spesies primata berkelompok besar terdapat pada para betinanya dan bukan pada pejantan dalam kelompok tersebut. Dengan kata lain, para betina hidup dengan betina lain yang memiliki korteks prefrontal yang lebih besar dalam spesiesnya sedangkan ukuran korteks prefrontal pada primata jantan tidak memiliki korelasi antara korteks prefrontal mereka dan besar atau kecilnya kelompok tempat mereka hidup. Hasil penemuan menarik ini mengindikasikan bahwa evolusi intelijen secara kompleks pada kera purba kala dan primata, dalam hal ini termasuk manusia mungkin terjadi karena meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial para betinanya. Dalam perjalanan evolusi yang menyebabkan membesarnya otak primata dan semakin kompleksnya cara berpikir, antara para betina dan jantan selalu pergi bersama-sama sampai akhirnya mencapai suatu tujuan yang sama, namun ternyata yang memiliki kendali adalah para betina dan para pejantan hanyalah para penumpang yang ikut kemana sang betina pergi. Betina yang cerdas menghasilkan keturunan yang cerdas dan beberapa dari anak-anak tersebut adalah jantan. Secara genetis dan anatomis pejantan tak jauh berbeda dari para betina, jadi ketika para betina menjadi lebih cerdas pada pejantan pun sebagiannya menjadi cerdas juga, mengikuti garis keturunan dari sang induk yang cerdas.

Sumber:

http://www.psychologytoday.com/blog/games-primates-play/201203/what-your-facebook-account-says-about-your-brain
http://en.wikipedia.org/wiki/Amygdala
http://en.wikipedia.org/wiki/Orbitofrontal_cortex

No comments:

everyone is the chosen one