Monday, October 8, 2012

Mengenal Bahasa Tubuh: Tentang Kejujuran Dalam Bahasa Tubuh

"Jika ucapan diberikan kepada laki-laki untuk menyembunyikan apa yang ada dalam pikiran mereka, maka tujuan bahasa tubuh adalah untuk mengungkapkan sejatinya mereka." John Napier


Joe Navarro adalah mantan Agen FBI khusus dan merupakan penulis dari sebelas buku termasuk best seller internasional, What Every Body is Saying. Berikut adalah salah satu artikel beliau yang saya gunakan untuk bahan pembelajaran saya di hari ini, pemahaman ini adalah sebuah bentuk dasar untuk pemahaman yang lebih dalam terhadap arti dari bahasa tubuh yang dimunculkan oleh manusia, beserta pengartiannya terhadap kedaan mental dari pemilik tubuh tersebut.

Sejak jutaan tahun yang lalu dimana para leluhur kita berjalan di atas planet ini, mengarungi dunia yang penuh dengan bahaya. Mereka melakukannya dengan berkomunikasi secara efektif di antara mereka tentang kebutuhan dasar mereka, emosi, rasa takut dan keinginan satu sama lain. Yang menakjubkan adalah mereka dapat melakukan komunikasi diantara mereka dengan cara nonverbal, seperti perubahan fisiologis pada “lawan bicara” mereka seperti memerahnya muka saat sedang marah, lalu mereka melakukannya dengan gerakan seperti gerakan menunjuk yang dilakukan oleh tangan, dari suara yang dihasilkan seperti dengusan dan bukan berupa kalimat serta reaksi wajah dan tubuh yang mampu mereka lihat dan artikan mungkin sebagai bentuk reaksi wajah dalam keadaan bingung atau ketakutan. Hal ini merupakan warisan biologis kita sebagai manusia, hingga saat ini sering kali kita melakukan komunikasi nonverbal dan hal itu menjadi penting.

Pada manusia modern kita telah berevolusi dan mengembangkan sebuah sistem komunikasi dimana dengannya kita mampu memberitahukan kepada orang lain tentang bagaimana kita merasakan dan bagaimana “rasa”nya tidak dengan bahasa verbal. Perilaku kita dirancang untuk untuk bereaksi langsung kepada suatu hal yang mengancam atau mungkin memberikan kemungkinan untuk menyakiti diri kita dan saat menghadapinya kita tidak akan berpikir ulang namun langsung dengan mangambil seuatu bentuk tindakan nyata dalam bentuk gerakan atau perubahan fisiologis pada diri kita dengan tujuan purba yaitu mempertahankan keberlangsungan hidup kita pada umumnya atau sebuah bentuk pertahanan diri pada khususnya.

Sistem ini berkembang seiring berjalannya waktu, sistem inilah yang mengingatkan kita langsung kepada keadaan bahaya, dan juga mengingatkan orang lain yang ada disekitar kita dengan membaca gerakan kita dan mereka mengerti tentang apa yang kita hadapi tanpa kita beritahu terlebih dahulu dengan kalimat, namun mereka sudah cukup mengerti dengan cara kita mengambil sikap (atau perubahan yang terjadi pada diri kita) yang spontan. Spontanitas yang kita tunjukkan dalam menghadapi sesuatu menjadi bahan pertimbangan bagi orang lain, mereka melihat dan mengerti tentang apa yang kita alami, mungkin hal ini dapat disebut sebagai bentuk dari empati, suatu kemampuan membaca apa yang mungkin kita rasakan secara emosional, namun ketika kita berbicara tentang emosi hal ini dapat menular melalui berbagai macam cara, emosi adalah proses yang dijalani oleh otak manusia dan bukan sebuah bentuk perasaan yang dijalani oleh hati.

Di sini dikatakan bahwa bahasa tubuh yang ditunjukkan seseorang lebih jujur dari apa yang sebenarnya mereka katakan, sebagai contoh, ketika Anda mungkin menegur dan mengajak biara seseorang yang Anda kenal, ia mungkin bawahan Anda di kantor, Anda mengajaknya bicara, namun ia terlihat sedang tergesa-gesa, walau ia tidak mengakuinya dihadapan Anda dikarenakan perasaan tidak enak untuk mengelak dari Anda, namun Anda mengetahui bahwa ada sesuatu yang harus segera ia lakukan, anda melihatnya dari gerakannya yang menutupi keterburu-buruannya, matanya yang tidak tenang kepada Anda dan raut wajah pucat dan peluh dikeningnya, dari sana Anda menyadarinya, tanpa ia katakan, tanpa ia ucapkan. Dalam bentuk tersebut Anda mampu mengenali tanda-tanda ketidaknyamanan psikologis walaupun secara verbal ia mengatakan tidak apa-apa untuk terus berbicara dengan Anda, inilah yang dimaksud dalam pernyataan diawa bahwa bahasa tubuh itu lebih jujur daripada kalimat-kalimat verbal.

Jadi secara psikologis dibalik semua ini adalah hasil kerja sistem limbik pada otak kita yang mengatur segala kebutuhan, perasaan, pikiran, emosi dan niatan yang kita miliki. Sistem limbic ini tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk berpikir sebelum melakukannya, otak janya bereaksi terhadap apa yang kita hadapi dan tubuh kita menunjukkan bagaimana kita merasakannya. Ketika seseorang mengatakan kabar buruk kepada kita dan dalam sekejap bibir kita terasa dingin, ketika kita tanpa sengaja tertinggal oleh bus, maka rahang kita mengencang dan tangan kita membasuh leher, ketika sang pimpinan di kantor mengatakan bahwa tim akan bekerja saat akhir pecan maka saat mendengar berita tersebut mata anda menyempit dan dagu Anda bergerak turun, hal-hal yang beru saja disebutkan itu adalah ciri bagaimana fisiologis kita yang berubah menjawab tentang apa yang sebenarnya kita rasakan, walaupun kepada orang lain Anda mungkin mengatakan semuanya baik-baik saja namun jelas dari perubahan yang Anda alami semua menunjukkan bahwa semua tidak dalam keadaan sebagaimana harapan Anda. Atau mungkin ketika Anda melihat orang yang benar-benar Anda sukai maka alis Anda akan melengkung tertarik keatas, otot wajah menjadi rileks, lengan menjadi lentur untuk menerima kedatangan orang yang Anda sukai tersebut. Dihadapan orang yang kita cintai, kita akan mencerminkan perilaku merek, memiringkan kepala dan bagian pupil pada mata akan membesar. Perlu diketahui bahwa yang terjadi demikian adalah hasil evolusi yang telah dialami manusia selama ini, hal ini berlaku bagi semua bangsa, ras dan suku. Ditambahkan bahwa semua yang Anda alami tersebut adalah hasil proses otak Anda, dimana mereka mengkomunikasikan segala yang dialami melalui tubuh Anda.

Di satu sisi, tubuh kita tidak membutuhkan untuk melakukan hal-hal terebut, namun kita berevolusi untuk suatu alasan bahwa kita adalah makhluk sosial dimana dengannya kita memiliki kebutuhan untuk melakukan komunikasi baik itu secara verbal maupun nonverbal. Bagaimana kita bisa tahu kalau bahasa tubuh memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Seorang yang terlahir buta dan tidak pernah melihat sama sekali bahasa tubuh yang kita bahas juga akan menunjukkan perilaku yang sama, bahkan ketika mereka mendengar sesuatu yang tidak disukainya maka mereka akan menutup mata mereka, padahal mereka tidak melihat apa-apa. Dengan kata lain perilaku ini sudah terprogram dalam diri setiap manusia.

Baik itu dalam bisnis, dalam rumah tangga, atau dalam suatu bentuk hubungan percintaan, manusia akan selalu memberikan sinyal dari diri mereka tentang nyaman atau tidaknya diri mereka. Sistem binary yang tercermin dalam bahasa tubuh mengkomunikasikan semua keadaan mental yang kita alami, hal ini sudah teruji oleh waktu, efisien untuk membantu manusia melalui kesederhanaannya yang elegan.

Jelas ini bisa sangat efektif dalam menentukan bagaimana orang lain merasa tentang keberadaan diri Anda dan dalam mengevaluasi tentang bagaimana hubungan berkembang. Seringkali seseorang merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam suatu hubungan, diketahui melalui adanya perubahan dalam bahasa tubuh yang ditampakkan oleh pasangannya.untuk mengetahui Pasangan mana yang tidak lagi berhubungan atau berjalan berdekatan sangat mudah untuk ditemukan namun terkadang hal tersebut dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus lagi. sebagai contoh dari hal ini adalah ketika pasangan saling menyentuh namun hanya dengan ujung jari mereka saja daripada menggenggam pasangan mereka dengan seluruh telapak tangan mereka dapat menunjukkan ketidaknyamanan psikologis yang dialami oleh pasangan tersebut. Perilaku ini mungkin saja menandakan masalah serius dalam hubungan mereka, namun pada permukaannya hal tersebut tidak muncul dengan begitu jelas.

Jadi dari topic ini dapat diketahui bahwa ada banyak aspek dari komunikasi nonverbal dan bahasa tubuh, dengan berfokus pada “kenyamanan dan ketidaknyamanan” dapat membawa Anda lebih jauh untuk melihat lebih jelas apa yang orang lain alami di dalam proses mentalnya. Dengan memiliki kemampuan untuk mengetahui semua itu memberi kita bentuk pemahaman yang lebih jujur dari orang lain dan yang pada akhirnya akan membantu Anda dalam berkomunikasi dengan lebih efektif dan penuh empati dalam pemahaman yang lebih mendalam.

Sumber : psychologytoday

Baca terusannya......

Thursday, October 4, 2012

Kepemimpinan Yang Baik: Mengapa Tidak Cukup Hanya Dengan Menjadi Efektif


Para pemimpin yang efektif belum tentu pemimpin yang baik.

Dalam sejarah kehidupan manusia Selma ini penuh dengan kepemimpinan yang efektif, contohnya Gandhi, Martin Luther King Jr., Franklin D. Roosevelt juga ada Hitler, Stalin dan Mao. Mereka semua terbukti mampu dan ahli dalam mencapai tujuan mereka namun ternyata itu semua belum cukup, mereka mungkin adalah para pemimpin yang efektif namun belum tentu mereka itu baik.


Sementara itu arti dari kepemimpinan sering diartikan sebagai sebuah cara menggerakkan kelompok untuk mendapatkan tujuannya, hanya sebatas pada pencapaian tujuan kelompok dari apa yang dilakukan oleh pemimpin namun bukan

Sementara kepemimpinan sering didefinisikan sebagai sebuah kelompok bergerak menuju tujuan mencapai, jika seorang pemimpin hanya mementingkan tujuannya saja maka pemimpin itu bukanlah pemimpin yang baik.
Berikut adalah apa yang membedakan antara pemimpin yang baik dan pemimpin yang sekedar efektif saja:
- Melakukan sesuatu dengan benar Vs. cukup selesaikan pekerjaannya. Ini adalah sebuah variasi dari kutipan lama yang seringkali dikaitkan dengan Peter Drucker atau Bennis (mereka berdua telah menyatakan bahwa mereka tidak melakukan itu). Dalam hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik berorientasi pada tujuan . maka untuk melihat sebuah pemimpin yang baik atau hanya sekedar efektif dapat dilihat dari tujuan dari kelompok, organisasi atau sebuah bangsa apakah tujuan mereka memiliki nilai yang menetap?

- Mereka memiliki tanggungjawab. Dengan ini dikatakan bahwa mereka melakukan hal yang etis sebagai pemimpin, mereka tidak melanggar aturan, mereka memperlakukan orang lain secara adil, tidak berbohong, menipu atau mencuri untuk mencapai tujuan mereka.

- Membatasi terjadinya kerugian yang timbul, seorang pemimpin yang baik tidak mencapai hasil dan meninggalkan para pengikutnya dalam keadaan kelelahan, rusak atau mengalami demoralisasi, demikian juga seorang pemimpin yang baik tidak menghancurkan lingkungannya, membuang-buang sumber daya yang bernilai atau mungkin melukai dalam proses pencapaian tujuan mereka.

- Mereka mampu mengembangkan pengikut. Seorang pemimpin yang biak dapat dibedakan dari seorang pemimpin yang sekedar efektif dari keadaan para pengikutnya, keadaan para pengikut dari pemimpin yang baik akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, dikarenakan pemimpin yang baik membangun dan mengembangkan keterampilan serta bakat dari para pengikutnya demi kualitas capaian dari tujuan yang ditetapkan.

- Akan meninggalkan kelompok dalam keadaan yang baik untuk seterusnya. Seorang pemimpin yang baik akan membuat semua orang yang berad dalam kelompoknya untuk terus menjadi maju, menjadi lebih kuat dan tentunya menjadi lebih baik. Para pemimpin yang baik merencanakan jauh kedepan untuk kemaslahatan kelompok mereka, mereka menginginkan kedaan kelompok untuk terus maju saat mereka tinggalkan dan penuh harapan kedepan untuk keadaan yang cerah dari pada saat para pemimpin baik tersebut menciptakannya.

Jadi apakah Anda atau mungkin atasan Anda adalah pemimpin yang baik atau hanya sekedar pemimpin yang efektif dalam menjalankan tugas keseharian. Kini jelas bahwa dunia tidak cukup jika hanya dipimpin oleh orang yang efektif mereka yang memimpin jugalah harus baik dalam kepemimpinannya.

Sumber:
PSYCHOLOGYTODAY

Baca terusannya......
everyone is the chosen one